Bukan Ilmuan Jika Bosan Mendengar Berulang Pembahasan

Ilustrasi Foto (Santri Mahsiswa Stai Ma’had Aly Al-Hikam Malang)
Penulis: Vanzaka Musyafa 

Atorcator.Com – Kita semua sudah pasti tahu dan hal ini pun masyhur.
Sahabat Ali Karamallahu wajhah itu adalah gerbang ilmu. Sedangkan Nabi Muhammad
Saw adalah kotanya. Kalau keatas lagi adalah sumber sekaligus pencipta Ilmu
adalah sang Khaliq Allah SWT.

Ilmu itu nggak seperti yang lain. Misalkan, nasi, hari
ini rasa nasi kayak apa? Besok kita coba lagi, rasa pasti sama. Atau mungkin
daging ayam misalkan ayam goreng, krispy dan lain sebagainya. Satu dua kali
enak-enak saja tapi lebih dari beberapakali jadi bosan.

Ini pengalaman yang penulis rasakan bersama
temen-temen santri di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang. Berkah bulan
Ramadhan juga. Setiap kali berbuka pasti dapet kotak nasi, dan bisa dipastikan
menunya berupa ayam. Bahkan sampai ada yang bilang, “kalau bisa carikan
yang launya tahu sama tempe”. Saking bosannya mungkin.

Hal ini seharusnya tidak terjadi khususnya pada santri
mahasiswa atas bosan dengan pembahasan ilmu yang disampaikan oleh gurunya.
Penulis mengutip pendapat Dr. Rosidin, M. Pd. I dari akun Facebook yang beliau
kutip dari QS. Al-Waqiah: 77:  إنه لقران كريم (
al-Qur’an
itu sangat kaya Makna, maka yang dipahami hari ini, berbeda dengan esok
)”.

Jadi, ini kaitannya dengan
ilmu bahwa ilmu itu berbeda. Ilmu itu luas bak samudera yang tak bertepi. Dalam
Al-Qur’an disebutkan bahwa ni’mat Allah itu tidak akan ada habisnya. Walaupun
pohon-pohon itu dijadikan sebagai pena dan lautan dijadikan sebagai tinta,
Bagaimana pun ni’mat Allah SWT tidak akan semua bisa tertuliskan. Dan salah
satu ni’mat Allah disini adalah Ilmu.
Nabi Adam AS itu menjadi makhluk yang paling mulia
karena dianugerahi Ilmu. Walaupun para Malaikat khawatir akan tingkah laku
manusia nantinya yang akan merusak dunia, Allah SWT tetap menjadikan Nabi Adam
AS sebagai makhluk paling sempurna. Dan mempercayakan kepadanya sebagai khalifatullah
fil ardh
. Membekalinya dengan ilmu pengetahuan. Sya’ir ini kami kutip dari
kitab Hidayatul Muta’alim yang ditulis oleh KH. Taufiqul Hakim

ولو يكون السمع الف مرة
من كلمة مسئلة واحدة
فليس اهل العلم من تعظيمه
ينقص بعد الف مرةله

Ta’dzim
ing ilmu kurang ba’dane krungu
Ping
sewu ora termasuk ahli ilmi
Tetep
Ta’dzim najan krungune Ping sewu
Podho
lan ra bosen ahli ilmu estu

Terjemahannya:
Takzim
kurang setelah mendengar ilmu
Sribu
kali tak termasuk ahli ilmu
Tetap
takzim walau dengar sribu kali
Sama
tak bosan ahli ilmu sejati
Intinya adalah bahwa jangan bosan untuk terus
mendengarkan, menelaah, mempelajari ilmu walau sudah tahu. Karena jika ilmu itu
terus ditelaah, dipelajari akan terus bertambah dan berkembang.

Teknologi dan ilmu pengetahuan itu berkembang
pertamakali dipelopori oleh ulama dunia Islam. Dari mana lagi sumbernya kalau
bukan dari kitab suci agama Islam? Disaat dunia barat berada pada kegelapan,
Islam sudah mengalami kemajuan. Kita sudah pasti tahu ulama’ seperti Ibnu Sina,
AlJabbar dan yang lainnya. Kemajuan itu tepatnya ada di daerah andalusia atau
sekarang Spanyol. Setelah perang salib berlangsug kemudian Spanyol dikuasai
oleh Eropa. Dan setelah itu Eropa menjadi negara maju.

Oleh karena itu, mari kita sebagai pemuda yang berhak
mewarisi Islam untuk maju pantang mundur. Merebut kembali kejayaan Islam yang
dulu pernah Jaya. Jihad/usaha kita sangat dibutuhkan oleh Islam untuk
menegakkan nilai-nilai agama bukan sekadar amaliah belaka.

Kata Gus Dur “tirakate wong saiki iku
belajar”. Jihad/usaha yang paling dibutuhkan adalah belajar. Dengan
belajar, berpendidikan dan berilmu Tuhan akan mengangkat derajat seseorang.
Dimulai dari individu yang baik dan berkualitas akan muncul kelompok atau
komunitas yang baik dan berkualitas pula. Semakin keatas ibarat pohon yang
dimulai dari akar yang sehat dengan suplai air yang cukup yang terbebas dari
parasit, daun yang bersih dari ulat maka akan terlihat sebuah pohon yang sehat.

Begitu juga dengan Agama dan Negara. Agama Akan dinilai
moderat dan menjadi rahmatan lil’alamin apabila dari pemeluknya bisa
menerapkan nilai dan amaliah agama itu sendiri. Kemudian negara, negara akan
dikatakan maju jika rakyatnya sejahtera dalam arti seluas-luasnya. Tidak hanya
bagus dalam kemiliteran dan teknologinya. Indikator dari sejhtera adalah
dinilai dari kualitas pendidikanya yang menghasilkan SDM berkualitas, menguasai
ilmu pengetahuan, sains, teknologi, memiliki daya saing yang kuat dan mampu
menghadapi tantangan dan tuntutan zaman.

Wal hasil, kita yang sedang belajar baik santri dan
mahasiswa berjuanglah bersama untuk menjadi generasi penerus agama dan bangsa
yang bisa bermanfaat bagi keduanya. Sabda Nabi SAW: S
ebaik-baik
manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. 

والله اعلم بالصواب

#iqra’ulQur’anwalhadis

#Tadarusbacaan

  • Vanzaka Musyafa Pengurus Jam’iyah Ngopi Pegon

Related Posts