Nuzulul Qur’an Sebagai Energi Positif Meningkatkan Budaya Literasi

Ilustrasi foto (Moh. Syahri)
Penulis: Moh. Syahri

Atorcator.Com – Satu hal
yang sangat penting untuk kita ketahui bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar
nabi Muhammad Saw. Al-Qur’an tidak akan pernah lekang oleh zaman, tetap menjadi
rujukan utama dalam segala persoalan. Al-Qur’an adalah kitab yang wajib kita
yakini kebenarannya sebagai pedoman hidup.

Memang pada hakikatnya Allah yang
menjaga Al-Qur’an sebagaimana Firman-Nya
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُون

“Sesungguhnya Kamilah yang
menurunkan Alquran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”

Meskipun demikian, Al-Qur’an harus
tetap kita jaga kesuciannya, dan dijaga kehormatannya, dalam artian kita tidak
boleh sembarangan dalam menggunakan Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an merupakan kitab
suci yang Allah karuniakan kepada kita.

Mari kita ingat-ingat kembali Wahyu
pertama yang turun kepada Nabi Muhammad, yaitu Q.S Alalaq [96]: 1-5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ
عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤)
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥
Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang menciptakan (1). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
(2). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia (3). Yang mengajar (manusia)
dengan pena (4). Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5)
Dengan ayat di atas memaknai
Nuzulul Qur’an dalam konteks ini, saya akan lebih menyoroti lafadz iqro’ dan
al_qolam, membaca dan menulis. Seberapa pentingkah membaca dan menulis?
Keduanya harus bersinergi, karena membaca tanpa menulis sama halnya dengan
bertahanan dalam sepakbola tanpa menyerang, akhirnya kebobolan, begitu juga
dengan menulis tanpa membaca ibarat menyerang nggak gol-gol karena tendangannya
tidak akurat dan tidak tepat sasaran (alias kosong isi).
Dengan demikian, peristiwa Nuzulul
Qur’an satu sisi bisa dimaknai dengan bangkitnya budaya literasi. Dengan
membaca dan menulis akan membuka ruang diskursus yang produktif. Perbedaan
pendapat tidak lantas menjadi malapetaka, tetapi justru menjadi kekayaan
pengetahuan berharga dan menjadi karya yang akan terus kita baca.

  • Moh. Syahri Founder Atorcator dan Pimpinan Redaksi Atorcator. Pernah nyantri di PP. Darul Istiqomah Batuan Sumenep Madura

Related Posts