Ramadan di Pesantren: Sebuah Kenangan KH Husein Muhammad (3)

Ilustrasi foto (KH Husein Muhammad)
Penulis: KH Husein Muhammad

Atorcator.Com – Aktifitas pesantren lain pada dan selama Ramadan adalah
“Ngaji Pasaran”, begitu istilah yang populer di kalangan para santri.
Yakni mengaji kitab “turats”, klasik, yang harus khatam dalam bulan
ramadan. Hampir di semua pesantren di Jawa menyelenggarakan kegiatan ini.

Ngaji
pasaran diadakan dari pagi sampai tengah malam, jam 00.00. 
Praktiknya adalah Kiyai/qari membaca dan memaknai kitab yang
dipilih untuk diaji. Sementara para santri atau para peserta “Ngaji
Pasaran”, mencatat makna yang disampaikan kiyai/qari tadi. Kegiatan ini
dimulai sejak usai salat Subuh sampai zhuhur. Usai shalat, kegiatan ini
kemudian dilanjutkan sampai shalat Ashar.
Lalu, setelah shalat Ashar dilanjutkan kembali sampai
menjelang Maghrib. Untuk beberapa saat kegiatan ngaji dihentikan, memberikan
kesempatan kepada para santri untuk beristirahat, berbuka puasa, shalat Maghrib
dan Tarawih. Kemudian usai shalat Tarawih dilanjutkan kembali sampai jam 00.00
malam, kadang 00.01. Ngaji pasaran ini berlangsung setiap hari sampai tanggal
25 Ramadhan.
Para kiyai dan ustaz di Pondok Pesantren Darut Tauhid,
mendapat bagian untuk memimpin pengajian kitab, dengan materi dan waktu yang
berbeda-beda. Abah Inu—panggilan akrab KH. Ibnu Ubaidillah, pengasuh
utama—misalnya, memimpin pengajian kitab dari jam 9 pagi sampai Zhuhur.
Dilanjutkan ba’da zhuhur sampai shalat maghrib. Diselingi shalat Ashar.
Dilanjutkan ba’da shalat Tarawih. Kitab yang diaji kebanyakan
kitab-kitab hadits atau “Kutub al-Sittah”, kitab “Shahîh al-Bukhârîy”
“ShahîhMuslim”, “Sunan Abi Daud”, “Sunan Nasai”,
“Sunan Ibnu Majah”, dan “Sunan Tirmizi”. Atau,
kadang-kadang, mengaji kitab al-Muwaththa` karya Imam Malik. Kitab-kitab ini
berjilid-jilid, ribuan halaman. Beliau juga suatu saat membaca kitab
“Fathul Wahab”, sebuah kitab Fiqh mazhab Syafii standar.
Saya pernah mengusulkan beberapa kitab kepada Abah Inu,
seperti kitab “Qawâ’id al-Ahkâm fî Mashâlih al-Anâm” (kaidah fikih) karya
Izzuddin ibn Abdissalam, Sultan para ulama dan kitab “Mîzân al-Kubrâ” (tasawuf)
karya Imam al-Sya’rani untuk dibacakan kepada para santri. Waktu itu pemikiran
saya katakankah “sudah modern”. He he. Kitab ini tidak banyak dikaji
di pesantren, padahal bagus sekali.
Abah Inu sebenarnya tidak menolak untuk mengaji kitab-kitab
tersebut, tetapi beliau lebih memilih ngaji kitab-kitab hadits, karena beliau
memang pakar di bidang hadits. Bila dilihat dari latar belakangnya, Abah Inu
adalah murid dari Sayyed Muhammad al-Alawi al-Maliki, seorang pakar hadits
(Muhaddits) terkenal di Makkah, Saudi Arabia.

Beliau dan kakak saya Kiyai Hasan Thuba mengaji kepada
beliau. Kakak kandung saya ini, setelah pulang dari mondok di pesantrennya
Sayed Muhammad Al-Alawi al-Maliki di Rushaifah, Makkah, kemudian diambil
menantu oleh Kiyai Mushlih atau yang dikenal Kiyai Shoim, pengasuh pesantren
Tanggir, Bojonegoro dan wafat di sana. Alfatihah.

  • Husein Muhammad Pencinta kajian-kajian keislaman, utamanya di bidang ilmu fikih, tema-tema keperempuanan, dan ilmu tasawuf. Menulis beberapa buku, aktif di pelbagai forum kajian, baik nasional ataupun internasional. Tinggal di Pesantren Darut Tauhid, Cirebon, Jawa Barat

Related Posts