Tidak Terkenal di Bumi Populair di Langit

Konsultasi-Syariah
Penulis:
Nurbani Yusuf

Atorcator.Com
Wajah tampan. Gagah dan menarik. Matanya biru, kulitnya
ke-merah-merah-an. Janggutnya menempel ke dada menjuntai ke tempat ia sujud.
Dua helai pakaian. Satu untuk menutup aurat dan satu helai lagi untuk
selendang. Dia seorang faqir tak dikenal di dunia tapi populair di langit. Ahli
ibadah dan ahli membaca Al Quran. Dia termasuk salah satu dari 70 ribu orang
penghuni surga tanpa di hisab.
Saat akan masuk
surga ia di tahan sejenak, Allah berkenan untuk mengijinkan kepadanya memberi
syafaat kepada kabilah Muhdhor dan kabilah Rabiah hingga semua masuk surga
tanpa sisa. Ia banyak dihina dan dicela dan dituduh sebagai pencuri, atau
penipu. Pernah suatu ketika ia diberi dua helai pakaian oleh seorang fuqaha
dari Kufah tapi ia kembalikan karena takut ditanya dari mana ia dapatkan
pakaian itu.
Yatim sejak
kecil. Hidup bersama ibunya yang renta karena tua. Lumpuh dan buta. Bekerja
sebagai penggembala dengan upah yang hanya cukup untuk membeli gandum segatang.
Bila ada kelebihan ia berikan kepada tetangganya yang juga berkekurangan. Ia
puasa di siang hari dan bermunajat di malam hari.
Masuk Islam
sejak kabar tentang kenabian ia dengar pertama kali. Banyak tetangganya yang
berziarah ke Madinah bertemu dengan utusan Allah Muhammad saw. Sementara ia
hanya memendam keinginan karena terhalang ibunya yang tua. Ia juga pernah
patahkan giginya, seketika ia mendengar Nabi saw giginya patah dilempar musuh.
Hingga rindunya tak bisa dibendung, suatu kali dengan berat hati ia memohon
ridha ibunya untuk diijinkan berziarah ke Madinah menemui kekasih Allah itu.
Ibunya
mengijinkan: “Pergilah kamu .. temui Nabimu dan segeralah pulang pabila
telah bertemu”. Ia berangkat dengan jarak 400 km dari Yaman, ia tak
pedulikan penyamun, panas dan dinginnya padang pasir. Tiba di Madinah ia ketuk
pintu dan mengucap salam kepada rumah kekasih Allah itu. Sayidah Aisyah
menjawab dan mengatakan bahwa Rasulullah saw berada di medan perang. Betapa
kecewanya ia gagal menemui junjunganya. Ia kembali pulang karena pesan ibunya
untuk segera kembali setelah sampai di rumah Rasulullah.
Sepulang dari
medan perang, Nabi bertanya apakah ada laki-laki yang mencariku. Nabi
berkata:” ia adalah penduduk langit. Ia punya tanda putih di telapak
tangannya, apabila kalian berjumpa dengannya mintalah doa dan istighfarnya”,
demikian pesan Nabi kepada Ali dan Umar.
Ia tak pernah
memandang paras Rasulullah hingga beliau wafat. Ketika Umar menjadi khalifah ia
teringat pesan Nabi saw agar meminta doa dan istighfar nya. Pada setiap kafilah
yang datang dari Yaman, Umar selalu bertanya apakah ia bersama mereka. Hingga
setelah ratusan kafilah berlalu baru di dapatkan kabar bahwa ia sedang menjaga
unta-unta di perbatasan. Ia baru keluar setelah ibundanya wafat.
Segera khalifah
Umar bersama Ali bergegas dan meminta agar di doakan dan memohon istighfarnya.
Kemudian ia tak ingin keberadaannya diketahui publik. Hingga seorang sahabat
yang terjebak ombak. Kapalnya hampir karam ia temui seorang yang duduk di pojok
kapal dan bangkit shalat di atas air. Memberinya pertolongan. Mereka sebanyak
500 orang keluar selamat dari kapal dan tak jadi tenggelam. 
Pada saat orang
akan memandikan jasad nya puluhan orang telah berkumpul menunggu untuk
memandikan. Begitu pula saat akan dikafan. Ratusan lainnya menunggu untuk
men-shalatkan. Dan ratusan lainnya mengantar dan menunggu di kubur. Abdullah
bin Salamah sepulang mengantar jenazah hendak kembali memberi tanda tapi sudah
tak ada bekas.
Siapakah engkau
tanya Khalifah Umar? ‘Abdullah (hamba Allah) .. ..”. jawabnya. Kami juga
Abdullah .. jawab Umar dan Ali sambil tersenyum. Namamu maksudku .. ia menjawab
.. namaku adalah : .. … … “.
@nurbaniyusuf

Komunitas
Padhang Makhsyar

Related Posts