Belajar Menasihati dari Surat-Surat al-Ghazali - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Selasa, Juni 11, 2019

Belajar Menasihati dari Surat-Surat al-Ghazali

Penulis: Saifir Rohman
_________
Editor: Siti Fadilah
Publisher: Nailatul Izzah
Ilustrasi foto (wardah boks)

Atorcator.Com - Rezeki yang patut disyukuri ketika berkunjung ke sanak famili atau ketarabat dalam momen Idul Fitri setidaknya ada tiga: ampau; makan enak; doa plus nasihat. Berdasarkan rekapitulasi sementara yang saya lakukan beberapa tahun terakhir, saya pribadi lebih banyak mendapat yang kedua dan ketiga.

Doa dan nasihat itu mengalir tulus dari para keluarga yang notabenenya lebih tua dari saya. Dengan ragam artikulasi mereka berdoa agar saya dimurahkan rezeki, panjang umur, dilancarkan studi, mendapatkan wanita solehah sebagai istri, intinya bahagia dan selamat dunia hingga akhirat. Doa-doa itu disusuli dengan topik yang sama.

Dari ketiganya itu hanya satu yang susah diterima; nasihat. Al-Ghazali pun, sekitar sepuluh abad yang lalu, telah mengemukakan: Memberi nasihat itu mudah, yang susah adalah menerimanya. Karena bagi orang yang membudak nafsu, nasihat adalah hal yang pahit. Di samping itu, karena pantangan atau larangan itu relatif disukai oleh individu yang didominasi hawa nafsu. Demikian yang terjadi khususnya pada pencari ilmu yang sibuk meraih pentas dan gemerlap dunia. (Syarh Ayyuha al-Walad li al-Imam al-Ghazali. Editor: Muhammad Hadi as-Syamrakhi al-Mardini. Hal. 14-15) 


Kutipan di atas bersumber dari kumpulan surat al-Ghazali kepada muridnya yang misterius karena tidak diketahui identitasnya. Isinya adalah jawaban sekaligus petuah al-Ghazali terkait dengan kegelisahan sang murid paska berguru kepadanya. Kumpulan surat itu kelak dihimpun menjadi satu buku monumental yang berjudul Ayyuhal Walad

Yang menggugah dari antologi ini, selain tentu karena isinya yang sarat akan hikmah, genre surat yang digunakan mengesankan adanya kedekatan personal antara guru sebagai pengirim dan murid sebagai penerima. Lebih-lebih ketika al-Ghazali tanpa segan bergeser dari maqam-nya sebagai syekh atau mursyid menjadi seorang walid (ayah). Hal ini tampak jelas ketika Al-Ghazali memanggil muridnya dengan sebutan walad atau anak. (Beliau selalu memulai suratnya dengan redaksi Ayyuha al-Walad (Hai, Nak!)). Menurut Muhammad Hadi as-Syamrakhi al-Mardini kata walad dipilih karena bulatnya rasa cinta (syafaqah).

Untuk urusan memilih diksi al-Ghazali sangatlah piawai. Beliau juga telaten menganggitnya menjadi kalimat persuasif yang kemudian menjadikan surat tersebut sangat menyentuh. Simaklah petikan suratnya berikut: 

"Wahai, putra yang cinta kepada Zat Yang Maha Perkasa. Mudah-mudahan Allah memanjangkan usiamu dengan menjadikanmu taat kepada-Nya sembari menuntunmu ke jalan yang ditempuh para kekasih-Nya. Ketahuilah, nasihat-nasihat yang telah beredar itu sejatinya dikutip dari tambang risalah Nabi Muha mmad Saw. Kalau satu nasihat saja telah sampai padamu, lantas apa perlumu terhadap nasihat-nasihatku? Dan kalau nasihat itu tak sampai padamu, katakan padaku apa yang telah kau capai sepanjang waktu yang telah berlalu". (Syarh Ayyuha al-Walad li al-Imam al-Ghazali. Editor: Muhammad Hadi as-Syamrakhi al-Mardini. Hal. 9-11)

Hal lain yang juga tak kalah menarik dari model penulisan al-Ghazali adalah penggunaan tamtsil atau ilustrasi. Al-Ghazali berpesan: Janganlah kau bekerja tanpa ilmu. Jangan pula tindakanmu lahir dari batin yang kosong. Caranya dengan meyakini bahwa ilmu semata tak bisa menjadi juru selamat bagi si empunya. Konsep ini selanjutnya diperjelas dengan ilustrasi berikut:

Andaikan ada seorang lelaki di suatu daratan memiliki 10 pedang Hindi lengkap dengan senjata lainnya, disamping itu ia juga seorang pemberani nan ahli dalam berperang (ahl al-harb), lalu ia diserang seekor singa gagah. Apakah senjata itu dapat menolongnya dari singa ganas itu tanpa menggunakan dan memukulkan senjatanya? Telah diketahui dengan pasti bahwa senjata itu tak akan bisa menolong kecuali dengan menggerakkan dan memukulkannya. Oleh karenanya, andai ada seorang yang telah membaca 1000 masalah ilmiah dan mempelajarinya namun tak mengamalkannya, maka tiadalah manfaat kecuali dengan mengamalkannya (Syarh Ayyuha al-Walad li al-Imam al-Ghazali. Editor: Muhammad Hadi as-Syamrakhi al-Mardini. Hal. 17-18.) Dengan ilustrasi ini, penyimak tentu akan lebih mudah memahami konsep yang semula agak jelimet.

Walaupun ditulis dalam bentuk surat, obyektivitas al-Ghazali tetap pekat sebab beliau bukan ulama kaleng-kaleng. Maka suratnya pun bukan sekadar surat kaleng. Dalam suratnya tidak sedikit beliau menyitir ayat Al-Quran maupun  hadis, serta kisah-kisah ulama  salaf as-shalih sebagai landasan nasihat maupun pendapatnya.Misalnya, ketika beliau menekankan tentang pentingnya mengamalkan suatu ilmu, di samping beliau mengutip hadis, beliau juga mengutip riwayat tentang Imam Junaid.

Sampai di sini, point saya adalah belajar cara bagaimana memberi nasihat sama pentingnya dengan belajar mendengar nasihat itu sendiri. Dalam prinsip pembelajaran di pesantren dikenal frasa yang amat populer: al-thariqah ahamm min al-maddah. Metode lebih penting dibandingkan materi. Maksudnya tak lain demi efektivitas pembelajaran.


Begitupun dalam hal memberi nasihat. Lebih-lebih karena nasihat, sebagaimana telah diungkapkan al-Ghazali, selalu terasa pahit utamanya bagi anak-anak muda. Sebab itu, dibutuhkan cara yang anggun nan bijaksana untuk menyampaikannya agar nasihat itu lebih mudah didengar dan diterima.

Sementara ini, risalah al-Ghazali yang dihimpun dalam Ayyuha al-Walad masih lebih sering dinilai sebatas nasihat bagi para murid. Padahal dari sudut pandang yang berbeda, secara implisit beliau juga memberi resep bagi para mursyid atau siapa pun bakal pemberi nasihat tentang bagaimana cara menasihati dengan baik.

Kesedian untuk turun dari maqam agung, penggunaan bahasa yang santun nan persuasif yang dipadukan dengan wawasan keilmuan yang cukup tentu menjadi faktor yang tak boleh dilewatkan. Dari para Nabi dan Rasul berikut tabiin hingga generasi selanjutnya ulama salafuna as-shalih seperti al-Ghazali telah mencontohkan. Sudahkah kita melakukan hal yang sama?


  • Saifir Rohman Santri Marhalah Ula Ma'had Aly Situbondo