Cerdas Bermedia Sosial Tanpa Hoax

Sebuah Pengantar untuk Mengenal, Mendeteksi, dan Melawan Hoaksa

Atorcator.Com – Abad ke-21 dengan kemajuan teknologi dan segala perkembangannya telah memberikan kemewahan bagi umat manusia. Apa yang dikenal dengan istilah banjir informasi telah benar-benar dekat dan nyata dengan kita hari ini. Dunia menjadi sangat sempit berkat terkoneksinya kita melalui informasi yang bisa sekali klik di genggaman. Tak berlebihan jika ada adagium “Dunia kini ada dalam genggaman.”

Di balik gemerlapnya dunia digital hari ini, ada sebuah ancaman besar yang mengintai, ia biasa kita kenal dengan hoaks. Istilah ini adalah kata serapan dari hoax yang berasal dari Bahasa Inggris. Melalui hoaks, seorang yang awalnya berteman akrab tiba-tiba gelap mata dan menjadi musuh nyata. Akibat hoaks, keharmonisan rumah tangga akan sirna, suami istri yang tak berpikir panjang sangat mungkin berpisah dalam sekejap mata.

Secara Bahasa hoaks berarti berita bohong.[1] Kamus Merriam-Webster memuat definisi hoax sebagai sesuatu yang mengelabui untuk membuat percaya atau menerima sesuatu yang palsu dan seringkali tak masuk akal sebagai sesuatu yang benar. Definisi lainnya dikemukakan oleh Curtis D. MacDougall dalam buku Hoaxes (1958), hoaks adalah informasi tidak benar yang dibuat seolah-olah benar.

Kita sedang berada dalam sebuah era yang dikenal dengan “post-truth”, yaitu suatu keadaan di mana daya tarik emosional lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik ketimbang fakta objektif. Lebih sederhananya lagi, orang menerima atau menolak kebenaran berita berdasarkan selera. Orang tidak lagi membaca berita dengan kritis, tetapi dengan semangat partisan. Media sosial adalah lahan basah untuk menyebar berita hoaks. Saat ini ada kegemaran baru di masyarakat kita, membaca berita hanya sebatas judul dan sangat terburu-buru untuk berkomentar dan menyebarkan. Hal ini turut mendukung perkembangbiakan hoaks.[2]

Saat hoaks sudah siap edar, siapa saja target korbannya? Semua kalangan rentan menjadi_konsumen dan korban hoaks. Tidak ada jaminan orang dengan pendidikan akademik tinggi bisa terhindar dari hoaks. Menurut Laras Sekarasih, Ph.D, dosen Psikologi Media dari Universitas Indonesia, ada dua faktor penyebab orang mudah percaya dan terpapar hoaks.[3]

Pertama, perasaan terafirmasi. Ketika seseorang memiliki kepercayaan pada suatu hal, lalu ada informasi yang menguatkan keyakinan tersebut, maka akan lebih mudah percaya pada informasi yang ada. Akibatnya keinginan untuk melakukan klarifikasi menjadi berkurang. Akhirnya yang terjadi adalah penyebaran informasi yang belum tentu kebenarannya melalui pelbagai platfrom media sosial yang dimiliki.

Kedua, terbatasnya pengetahuan. Pernahkah Anda menerima pesan siaran di grup WhatsApp tentang promo pulsa atau paket internet dari sebuah aplikasi? Bagi orang yang tidak memiliki cukup pengetahuan tentang aplikasi tersebut dia akan serta merta menekan link yang telah viral itu. Sampai akhirnya muncul informasi di media massa beberapa saat kemudian, bahwa info itu adalah hoaks.

Oleh karena itu, seseorang rentan atau tidak terpapar hoaks sangat bergantung pada kemampuan berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan literasi media. Tidak cukup dengan bermodalkan kemahiran mengoperasikan media sosial. Maka penting sekali mempelajari bagaimana hoaks bekerja dan seperti apa ciri-cirinya.

Bagi kalangan santri dan kaum terdidik di lingkungan universitas berbasis keislaman, tentu sudah sangat akrab dengan ayat Q.S. al-Ĥujurāt/ 49: 6,

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِنْ جاءَكُمْ فاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصيبُوا
قَوْماً بِجَهالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلى‏ ما فَعَلْتُمْ نادِمينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”[4] 

Melalui ayat ini kita bisa mengambil pelajaran tentang bagaimana seharusnya bersikap saat mendapatkan informasi. Tidak langsung menerima dan percaya, tetapi diperlukan tabayun atau klarifikasi, supaya tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Untuk bisa membedakan berita benar dengan berita bohong, sangat penting mengetahui ciri-ciri hoaks.

Ada beberapa cara dalam mendeteksi berita yang diterima hoaks atau bukan. Pertama, apakah memenuhi kaidah jurnalistik: menyajikan berita secara faktual, objektif, berimbang. Kedua, cek judul berita provokatif dan tidak sesuai dengan isi berita. Ketiga, cek alamat situs websitenya. Keempat, bedakan fakta dengan opini. Kelima, bandingkan dengan berita di media tepercaya. Keenam, cek keaslian foto. [5]

Setelah mengetahui ciri-ciri dan karakteristik hoaks, sebagai masyarakat yang memiliki kepedulian kepada persatuan dan keutuhan bangsa sangat perlu melakukan usaha-usaha meredam berkembang dan meluasnya hoaks. Hal-hal yang bisa dilakukan bisa berupa kampanye di media sosial tentang pentingnya klarifikasi saat menerima berita. Ajak seluruh teman, handai tolan, dan orang-orang yang kita kenal di media sosial untuk turut serta cerdas dalam bermedia sosial.

Bergabung dengan komunitas anti hoaks juga bisa meredam semakin masifnya hoaks tersebar. Ada Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) yang aktif menyajikan informasi seputar cek fakta berita di tengah masyarakat yang sedang viral.

Selain itu kita juga dituntut untuk menambah wawasan dan pengetahuan dengan memperbanyak membaca dan berdiskusi. Karena salah satu faktor mudah percaya berita hoaks adalah minimnya wawasan. Jarimu harimaumu, jika tidak memiliki waktu untuk klarifikasi sebaiknya tidak menyebarkan informasi yang belum pasti kebenarannya. Semoga kita bisa lebih bijak dan cerdas dalam bermedia sosial di era disruptif ini. [*]

Referensi:

[1]https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/hoaks, diakses pada 1 Maret 2019 pukul 21.45 WIB.

[2]Sapto Yunus dalam Jurnalisme Tanpa Hoax, disampaikan di Semarang pada pelatihan “Hoax dan Jurnalisme Damai” 26 November 2017.

[3] https://nasional.kompas.com/read/2017/01/23/18181951/mengapa.banyak.orang.mudah.percaya.berita.hoax, diakses pada 1 Maret 2019 22.10 WIB.

[4] Departemen Agama RI, Al-Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2010), hal. 516.

[5]Triyono Lukmantoro dalam Hoax dan Konflik Horisontal, disampaikan di Semarang
pada pelatihan “Hoax dan Jurnalisme Damai” 25 November 2017.

Penulis: Moh. Mizan Asrori pernah aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Solidaritas UIN Sunan Ampel Surabaya sebagaiPemimpin Redaksi (2017). Menjadi delegasi dalam Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa“Hoax dan Jurnalisme Damai” di Semarang 25-26November 2017 dan Workshop Kelas Jurnalisme Damai di Jakarta pada 10-12 November 2017. Untuk korespondensi bisa melalui 0878-5009-9491 (WhatsApp), Instagram @mizan_arjuna, atau Twitter @mizan_ori.

Related Posts