Kisah Abu Nawas Menjual Rajanya untuk Dijadikan Budak

Penulis: Lola Lolita
Ahad 14 Juli
2019
Foto: Fell
Atorcator.Com –
Suatu hari Abu Nawas sangat kebingungan, bahkan ia hampir putus
asa. Sudah dua hari dapur tidak mengepul asap karena tidak ada lagi barang yang
bisa ia jual. Satu-satunya jalan yang bisa dia ambil adalah menjual manusia
untuk dijadikan budak. Sebenarnya jika Abu Nawas mau, dia bisa saja menjual
teman-temannya, namun ia tidak tega karena teman-temannya bukan orang kaya
melainkan orang miskin seperti dirinya.
Jalan
satu-satunya yang bisa dilakukan Abu Nawas adalah menjual manusia. Akhirnya Abu
Nawas memutuskan sesuatu yang tidak biasa, ia akan tetap menjual manusia untuk
dijadikan oleh si pembelinya. Bukan menjual temannya melainkan rajanya, Harun
Al Rasyid.

Menurut Abu
Nawas, hanya Baginda Raja yang pantas untuk dijual. Bukankah selama ini Baginda
Raja selalu mempermainkan dirinya dan menyengsarakan pikirannya? Maka sudah
sepantasnya bagi Abu Nawas untuk menyusahkan Baginda Raja.
Abu Nawas
mencari cara agar bisa menjual Baginda Raja Harun Al Rasyid. Ia pun mendapat
ide dan menjuampai sang raja.
“Ada
sesuatu yang amat menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepada Paduka yang
mulia.”
“Apa itu
wahai Abu Nawas?” tanya Baginda langsung tertarik.
“Sesuatu
yang hamba yakin belum pernah terlintas di dalam benak Paduka yang mulia,”
kata Abu Nawas meyakinkan.
“Kalau
begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya,” kata Baginda Raja
tanpa rasa curiga sedikit pun.
“Tetapi
Baginda โ€ฆ,” kata Abu Nawas sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
“Tetapi
apa?” tanya Baginda tidak sabar.
“Bila
Baginda tidak menyamar sebagai rakyat biasa maka pasti nanti orang-orang akan
banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu.” kata Abu Nawas.
Karena memiliki
keinginan besar dan rasa penasaran yang begitu besar, Banginda Raja bersedia
menyamar menjadi rakyat biasa. Melihat penyamaran sang raja berhasil, Abu Nawas
dan Baginda Raja berangkat menuju ke sebuah hutan.
Setibanya di
sana, Abu Nawas mengajak Baginda Raja mendekati sebuah pohon besar dan rindang,
ia pun meminta sang Raja untuk menunggu. Sementara itu, ia pergi menjumpai
seorang badui yang pekerjaannya menjual budak. Abu Nawas mengajak pedagang
budak itu untuk melihat calon budak yang akan dijual kepadanya dari jarak yang
agak jauh.
Abu Nawas
enggan menjumpai sang Raja dan merasa tidak tega. Sementara itu, Abu Nawas
beralasan calon budak yang akan dijualnya adalah teman dekatnya sendiri.
Setelah pedagang budak itu memperhatikan dari kejauhan ia merasa cocok. Abu
Nawas pun membuatkan surat kuasa yang menyatakan bahwa pedagang budak sekarang
mempunyai hak penuh atas diri orang yang sedang duduk di bawah pohon rindang
itu. Abu Nawas pergi begitu menerima beberapa keping uang emas dari pedagang
budak.

Baginda Raja
masih menunggu Abu Nawas di bawah pohon rindang tersebut, sampai tibalah
pedagang budak menghampiri dirinya. Baginda Raja merasa heran, mengapa Abu
Nawas tidak juga muncul dan mengapa ada orang lain selain dirinya dan Abu
Nawas.
“Siapa
engkau?” tanya Baginda Raja kepada pedagang budak.
“Aku
adalah tuanmu sekarang,” kata pedagang budak itu agak kasar.
Tentu saja
pedagang budak itu tidak mengenali Baginda Raja Harun Al Rasyid dalam pakaian
yang amat sederhana.
“Apa
maksud perkataanmu tadi?” tanya Baginda Raja dengan wajah merah padam.
“Abu Nawas
telah menjual engkau kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya,”
kata pedagang budak dengan kasar.
“Abu Nawas
menjual diriku kepadamu?” kata Baginda makin murka.
“Ya!”
bentak pedagang budak.
“Tahukah
engkau siapa aku ini sebenarnya?” tanya Baginda geram.
“Tidak dan
itu tidak perlu,” kata pedagang budak seenaknya. Lalu ia menyeret budak
barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al Rasyid diberi parang dan
diperintahkan untuk membelah kayu.
Baginda Raja
merasa heran dengan semua yang diperintahkan. Ia melihat begitu banyak tumpukan
kayu di belakang rumah badui itu sehingga memandangnya saja Sultan Harun Al
Rasyid sudah merasa ngeri, apalagi harus mengerjakannya.
“Ayo
kerjakan!”
Meski ia merasa
kebingungan dengan itu semua, Sultan Harun Al Rasyid mencoba untuk melakukan
perintah dari tuan barunya. Sultan Harun Al Rasyid secara perlahan memegang
kayu dan mencoba membelahnya, namun si badui melihat cara Sultan Harun Al
Rasyid memegang parang merasa aneh.
“Kau ini
bagaimana, bagian parang yang tumpul kau arahkan ke kayu, sungguh bodoh
sekali!”
Sultan Harun Al
Rasyid mencoba membalik parang hingga bagian yang tajam terarah ke kayu. la
mencoba membelah namun tetap saja pekerjaannya terasa aneh dan kaku bagi si
badui.
“Oh,
beginikah derita orang-orang miskin mencari sesuap nasi, harus bekerja keras
lebih dahulu. Wah lama-lama aku tak tahan juga,” gumam Sultan Harun Al
Rasyid.
Si badui
menatap Sultan Harun Al Rasyid dengan pandangan heran dan lama-lama menjadi
marah. la merasa rugi barusan membeli budak yang bodoh.
“Hai
badui! Cukup semua ini aku tak tahan.”
“Kurang
ajar kau budakku harus patuh kepadaku!” kata badui itu sembari memukul
sang raja. Tentu saja raja yang tak pernah diperlakukan kasar itu menjerit
keras saat dipukul kayu.
“Hai
badui! Aku adalah rajamu, Sultan Harun Al Rasyid,” kata Baginda sambil
menunjukkan tanda kerajaannya.
Pedagang budak
itu kaget dan mulai mengenal Baginda Raja. la pun langsung menjatuhkan diri
sembari menyembah Baginda Raja. Sang raja mengampuni pedagang budak itu karena
ia memang tidak tahu. Tetapi kepada Abu Nawas Baginda Raja amat murka dan gemas.
Ingin rasanya beliau meremas-remas tubuh Abu Nawas seperti telur.

Selengkapnya bisa dibaca di sini

Related Posts