Pondok Pesantren Rumah Perjuangan dan Santri Itu Istimewa

Penulis: Muhammad Aminullah
Kamis 11 Juli
2019 00:00 WIB
Atorcator.Com –
Saya santri. Sebagai orang yang pernah menjadi bagian dari dunia
pondok pesantren, saya merasakan betul lika-liku perjuangan menjadi santri.
Perjuangan yang saya yakin tak mudah dilalui oleh sebagian besar remaja.
Mengapa saya
berani mengatakan demikian?
Saya merasakan
betul arti perjuangan itu. Menjadi seorang santri benar-benar tidak mudah. Anda
yang pernah menjadi santri pasti pernah merasakan itu. Jauh dari orang tua
adalah salah satu “penyakit” yang membuat tidak betah hidup di
pesantren. Terlebih pada awal-awal mondok.
Seringkali saya
melihat santri baru yang menangis karena merasa akan jauh dari orang tuanya,
jauh dari saudaranya, jauh dari kerabatnya, jauh sahabat-sahabat
sepermainannya, jauh dari lingkungan di mana ia besarkan, hingga tumbuh menjadi
remaja. Pengalaman pribadi, saya sendiri bahkan butuh waktu beberapa bulan
untuk bisa menghilangkan kebiasaan mewek saat bertemu orang tua pas ngirim ke
pondok.
Anda yang tidak
pernah mondok mungkin akan merasa aneh melihat tubuh para santri rata-rata
dipenuhi “tatto” gudikan, penuh dengan bekas luka koreng. Tubuh yang
kerontang penanda kurangnya asupan gizi masuk pada tubuh merupakan penampakan
biasa di pesantren.
Dulu, saya,
untuk bisa makan pun butuh perjuangan. Saat kiriman dari orang tua terlambat
(ini biasa dialami santri manapun), tak jarang saya dan para santri lain harus
ngutang sana-sini. Ngutang beras, ngutang duit buat beli ikan, sayur dan
keperluan-keperluan lainnya. Jika hanya beras yang ada, sementara uang tak ada.
Ngutang pun tidak dapat. Maka solusi terbaik adalah minta garam ke temen, lalu
taburkan garam tersebut laksana sedang naburin abon daging bandeng presto ke
atas nasi. Sebuah kondisi yang tak pernah mereka alami di rumah atau kampung
halamannya masing-masing. Hidup serba kekurangan. Mengenaskan.
Setiap waktu,
hampir tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Setiap waktu selalu bernilai
manfaat. Dari mulai sebelum subuh geliat kegiatan santri biasanya sudah
terlihat di hampir semua pondok pesantren. Setiap waktu dimanfaatkan pada
kegiatan-kegiatan pondok yang sangat bermanfaat bagi keberlangsung hidup santri
kelak ketika sudah pulang ke rumahnya masing-masing.
Saya akan
menggambarkan bagaimana dulu menjalankan beragam aktifitas saat menjadi santri
di salah satu pondok pesantren besar di Madura. Pesantren yang telah melahirkan
puluhan ribu alumni dengan beragam profesi saat sudah pulang kampung ke tempat
masing-masing.
Sebelum subuh
tiba, pintu kamar santri sudah digedor petugas keamanan pondok untuk
membangunkan santri dari tidur pulasnya. Ba’dha sholat subuh berjamaah, para
santri ngaji al-qur’an di musholla pesantren. Pagi, setelah sarapan pagi,
kira-kira jam 7.30 santri sudah harus berangkat ke madrasah. Belajar di
madrasah hingga waktu siang tiba.
Pukul 12.00
hingga jam 13.00 para santri punya sedikit waktu untuk makan siang dan mandi.
Pukul 13.30, kembali santri harus masuk musholla untuk ngaji kitab. Waktu itu
(siang hari) kitab yang kaji ada tiga: Safinatun Najah, Sullam at-Taufid dan
Bidayah al-Hidayah. Selain itu masih banyak kitab-kitab lain yang dikaji
seperti Kasyifatu as-Saja, Qami’ut Thughyan, Nashoihul ‘Ibad, Kifahatul ‘Awam,
Ta’limul Muta’alim, Fathul Majid, Fathul Qarib, Bulughul Maram, Tafsir
al-Qur’anul ‘Adzim dan kitab-kitab lainnya.
Namun demikian,
waktu ngaji santri ada yang tidak sama. Menyesuaikan dengan tingkatan kelas
masing-masing santri. Menyelaraskan dengan tingkat kemampuan otak masing-masing
santri. Santri yang baru belajar kitab ‘Aqidatul ‘Awam misalnya, tidak mungkin
digabung dengan santri yang sudah sampai level ngaji Tafsir Jalalain. Jadi ada
waktu-waktu tertentu yang dibagi berdasarkan tingkat kemampuan (pengetahuan/pemahaman)
masing-masing santri.
Kajian kitab
berakhir pukul 15.30. Selanjutnya santri sholat asar berjamaah. Waktu antara
pukul 15.30 sampai 16.30 biasanya dimanfaatkan para santri sejenak merebahkan
tubuh atau beraktifitas santai. Pukul 16.45, para santri mulai bersiap-siap
kembali untuk back to musholla. Ngaji kitab. Sehabis sholat isya berjamaah,
para santri kembali ke musholla untuk ngaji kitab. Kali ini kitab yang dikaji
adalah Matnul Jurumiyah dan Kaylani. Kitab populer yang biasa dikaji di
pondok-pondok pesantren. Kitab yang berisi ” ilmu alat” untuk
memahami cara baca kitab kuning (gundul).
Pukul 20.30,
kajian kitab selesai. Para santri balik ke bilik kamar masing-masing. Sebagian
santri ada yang melanjutkan kajian kitab lagi kepada ustadz di masing-masing
blok. Sebagian lainnya leyeh-leyeh di kamar. Para santri yang bisa leyeh-leyeh
ini biasanya santri-santri senior. Santri yang sudah mendekati
maqam” ustadz.
Pukul 21.00,
bel jam belajar berbunyi. Itu tandanya para santri tanpa kecuali wajib belajar.
Santri diwajibkan membuka bahan bacaan, baik kitab maupun bacaan-bacaan lain.
Pada jam belajar ini tak ada ketentuan harus membaca kitab ini dan itu.
Terserah. Yang penting santri wajib belajar (membaca). Itu poinnya.
Pada saat jam
belajar berlangsung, petugas keamanan yang memang mendapatkan mandat langsung
dari pengasuh mulai melakukan sidak. Menyusuri tiap-tiap blok untuk memastikan
bahwa semua santri belajar. Santri yang kedapatan tidak belajar pada jam
belajar akan mendapatkan sangsi. Berdiri sambil membaca atau menghafal sampai
bel jam belajar berbunyi lagi sebagai tanda jam belajar berakhir adalah
sangsinya. Jam wajib belajar dari pukul 21.00 sampai 21.30.
Barulah setelah
jam belajar berakhir, para santri bisa “bersantai ria”. Santri bisa
beristirahat dengan tenang tanpa gangguan dari siapapun. Santri dipersilahkan
melakukan aktifitas apapun selama itu tidak melanggar aturan pesantren. Itulah
siklus kegiatan atau aktifitas harian yang dilakukan para santri di pondok
tempat saya dahulu menimba ilmu. Entah hari ini. Barangkali ada aturan atau
kebijakan baru pesantren yang berbeda dengan saat saya mondok tahun 90’an.
Pernah satu
malam, karena saking capeknya beraktifitas sepanjang hari, saya ketiduran
(hanya sebentar) saat jam belajar berlangsung. Petugas keamanan pun mengetahui
kesalahan saya itu. Pas kebeneran saat itu yang mendapati saya tertidur adalah
kepala keamanan pondok langsung yang terkenal tegas dan tak mentolerir bentuk
kesalahan apapun yang melanggar aturan pondok.
Apa yang
terjadi?
Saya langsung
disuruh menghampiri beliau. Telapak tangan saya disuruh letakkan di teras depan
kamar. Saya pun sami’na wa atha’na. Kedua telapak tangan sudah berjejer di atas
teras. “Plak..plak..plak..” sejurus kemudian kayu yang berada di
tangan kepala keamanan pondok sudah menghajar kedua tangan saya secara
bergiliran.
Jangan tanya
sakitnya seperti apa endro!! Kayu beradu langsung sama ruas-ruas tulang telapak
tangan. Tanpa penghalang apapun. Lho bayangin aja sakitnya seperti apa. Ngilu,
linu, cenat-cenut dan gemetar tubuh saya menahan sakitnya deraan hantaman kayu
keramat itu pada telapak tangan saya.
Apakah saya dan
ribuan santri yang lain protes terhadap pukulan sangsi itu? Apakah para santri
berani menilai petugas keamanan (pesantren) yang memberikan sangsi itu telah
melakukan tidak kekerasan? Apakah para santri berani mendemo pemberian sangsi
sebagai bentuk telah terjadi pelanggaran HAM oleh satu pihak kepada pihak yang
lain sebagaimana sering kita jumpai di berita-berita televisi itu?
Jawabannya
TIDAK!! Tidak sama sekali.
Para santri
dapat menerima dengan legowo atau lapang dada segala sangsi yang diberikan
petugas keamanan sebagai representasi dari pengasuh/pesantren kepada mereka.
Mereka sadar bahwa sangsi itu ada karena telah terjadi pelanggaran atas aturan
pesantren. Sangsi itu diterima karena mereka (santri) telah melakukan sebuah
pelanggaran. Sangsi tidak akan pernah ada jika santri tak melanggar. Demikian
kira-kira analogi sederhana sam’an wa thow’an para santri atas pemberian
sangsi.
Sam’an wa
tho’an
. Sebuah pemikiran, sikap dan laku
sederhana dari santri yang tak perlu “wah” dan ribet sepert
teori-teori ngilmiah di kampus-kampus yang kesannya “high level
knowledge
” itu. Sayangnya teori-teori “wah” itu seringkali
tak banyak melahirkan generasi, lulusan atau alumni se elok jebolan santri.
Beragam kasus
yang sering terjadi beberapa tahun belakangan ini, salah satu contohnya, hanya
karena mencubit atau menjewer murid yang nakalnya minta amfiun misalnya. Atas
nama HAM, dengan tuduhan telah melakukan tindak kekerasan, katanya, sang guru
yang mendidik selama bertahun-tahun itu dituntut, dan akhirnya dijebloskan ke jeruji
besi (penjara). Na’udzubillah.
Saya
benar-benar bersyukur pernah terlahir dari rahim pondok pesantren. Pengalaman
hidup di pesantren membuat diri ini bisa lebih matang dalam menyikapi hidup
ini. Lebih dari itu, didikan pesantren tak hanya melulu soal belajar ilmu agama
(intelektualitas), tetapi juga lebih matang secara emosional dan spiritual.
Sikap-laku hidup seperti kesabaran, kesederhanaan, kegigihan, ketelatenan,
“berani lapar”, dan praktik-praktik (riyadhah) tazkiyatun nafs
seperti wiridan, “tirakat”, keistiqomahan sholat berjamaah,
sholat-sholat sunnah, puasa senin-kamis, menjaga wudhu’ dan lain-lain saya
dapatkan dari didikan pondok pesantren. Bukan perguruan tinggi.
Jadi, wahai
para santri, para alumni santri, pedelah dengan statusmu sebagai santri. Berbanggalah pernah terlahir dari rahim pondok pesantren. Berbahagialah kita
yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Sebuah lembaga pendidikan
yang luar biasa. Lembaga pendidikan yang terbukti berhasil melahirkan
manusia-manusia hebat. Lulusan santri yang berdaya guna bagi agama, masyarakat,
bangsa dan negara.

Bangga Menjadi
Santri

Catatan: Foto
seorang Mahasiswa (alumni santri) yang sedang mengambil studi di Jerman memakai
busana khas santri (kopiah hitam dan sarung) berjalan dengan pedenya di
tengah-tengah pusat keramaian kota Jerman sono. Penampilan yang kontras
nan mencolok memang. Namun pemuda santri mahasiswa pancen Hebat!! Top!! Jooss!!
Eh, kita, jalan ke pasar loak aja kadang suka malu make busana santri. Hadeuuhh…
kita mah kadang emang terlaaluuh.

  • Muhammad Aminullah Pegiat Literasi, Kemanusiaan dan Lingkungan.

Related Posts