Dari Papua, Belajar dari Rasulullah dan Sahabat Bilal bin Robbah yang Berkulit Hitam dari Afrika

Penulis: Shuniyya Ruhama
Rabu 21 Agustus 2019



Atorcator.Com – Tahukah kamu bahwa hijrah pertama kaum Muslimin dari Makkah adalah ke negeri Habasyah, negeri berpenduduk Nasrani berkulit hitam di Afrika yang menerima dan melindungi kaum Muslimin dari intimidasi dan kejaran bangsa Arab Quraisy?


Dan tahukah kamu tatkala Raja Najasi sang pelindung kaum Muslimin ini wafat maka Kanjeng Nabi SAW memerintahkan kaum Muslimin untuk sholat gaib kagem beliau?


Pernahkah kamu mendengar adzan? Jika pernah, ketahuilah bahwa yang diutus Kanjeng Nabi Muhammad SAW untuk adzan pertama kali adalah Sayyidina Bilal Bin Robbah.


Siapakah beliau? Beliau adalah sahabat Kanjeng Nabi yang berkulit hitam dari Habasyah Afrika. 


Saat ada yang menghina warna warna kulit Sayyidina Bilal, Kanjeng Nabi menegur.  ” Tidaklah bangsa yang berkulit putih lebih mulia di hadapan Gusti Allah dibandingkan dengan bangsa berkulit hitam..”


Sang penghinapun ketakutan, bahkan sampai meletakkan kepalanya di tanah dan meminta Sayyidina Bilal menginjaknya supaya tidak sombong lagi.


Tahukah kamu, pada saat Islam harus mematahkan pengaruh Kerajaan Romawi dengan cara menaklukkan suatu perkampungan di perbatasan? 


Seperti apa beratnya tugas tersebut karena Kanjeng Nabi mengharapkan tidak ada jatuh korban sama sekali. 


Tahukah kamu, suara dari langit memerintahkan agar pasukan ini dipimpin oleh Sayyidina Usamah Bin Zaid? Waktu itu beliau masih berusia 18 tahun dan dalam pasukan tersebut terdapat Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina Umar Bin Khottob RA? Dan misi itu berlangsung gemilang.


Siapakah beliau? Beliau adalah Sahabat Kanjeng Nabi yang merupakan putra Sayyidina Zaid Bin Haritsah yang berkulit putih dengan ibunda dari wanita berkulit hitam. Sayyidina Usamah mengikuti warna kulit ibundanya. 


Tahukah kamu, ketika peristiwa Fathul Makkah? Saat Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengembalikan marwah Ka’bah dari patung-patung yang dijadikan sesembahan?


Yang beliau minta untuk mengawal pembersihan tersebut adalah Sayyidina Bilal Bin Robbah RA dan Sayyidina Usamah Bin Zaid RA. 


—888—


Belanda datang ke Nusantara lalu memonopoli wilayah ini. Belanda yang berkulit lebih terang menyebut bangsa kita sebagai: Monyet. 


Disamping peraturan lain yang sangat menghinakan martabat kita yakni pada tempat-tempat tertentu ada peringatan: Anjing dan Pribumi dilarang masuk…!!!


Lalu nenek moyang kita bersatu padu mengusir penjajah dengan modal persatuan dan kesatuan seluruh bangsa yang membentang dari Sabang hingga Merauke. 


Dan penjajah pun hengkang dari bumi pertiwi. 


Setelah tepat kita merdeka 74 tahun, dengan tanpa perasaan ada dari kita menyebut saudara dari Papua sebagai Monyet, karena kulit mereka lebih gelap dari kulit kita. 


Saudaraku, 74 tahun itu waktu yang belum lama bagi perjalanan suatu bangsa. Kealpaan kita belajar dari sejarah agama dan sejarah bangsa kita menghasilkan fakta mengerikan ini.


Kita hanya panen raya dari kealpaan ini. Saat jiwa kita kosong dari sejatinya beragama dan sejatinya berbangsa. 


Mari kita belajar kembali jati diri sebagai umat beragama dan sebagai bangsa yang memiliki peradaban luhur supaya menjadi lebih cerdas dan bijaksana. 


Papua bagian tak terpisahkan dari Indonesia,  sesama anak bangsa yang bermartabat, dan setara dengan kita. Menghina Papua berarti menghina bangsa Indonesia.


#PapuaAdalahKita
#KitaIniSama
#KitaIndonesia


Shuniyya Ruhama Murid Mbah Wali Gus Dur dan Pengajar di PPTQ Al-Istiqomah Kendal

Related Posts