Masuknya Islam di Papua Sejak Masa Khalifah Abbasiyah di Baghdad?

Penulis: Ust. Dr. Miftah el-Banjary
Kamis 22 Agustus 2019

Atorcator.Com – Seorang sahabat saya, Dr. Agus Salim, pernah berujar kepada saya. “Banyak nama-nama di Indonesia ini yang penamaannya berasal dari bahasa Arab atau terpengaruh oleh penamaan pendatang dari pendakwah bangsa Arab.”


“Ah, masa iya,” pikir saya ketika itu.


Beliau menyebutkan beberapa nama wilayah, seperti Irian yang terambil dari akar bahasa Arab, yaitu “عريان” (baca: ‘Uryan) yang berarti “telanjang” atau tanpa pakaian.


Penamaan itu disebut oleh para musafir Arab ketika mereka berkunjung dan menyaksikan para penduduknya tidak menggunakan pakaian alias telanjang. Benar atau tidaknya, tesis itu memang masih membutuhkan kajian ilmiah.


Namun paling tidak, tidak sedikit nama di wilayah Nusantara ini yang mendapatkan pengaruh nama-nama beraroma Arab, atau memiliki makna yang berkesesuaian dengan makna bahasa Arab, yang kemudian oleh penduduk setempat berubah penyebutannya sesuai dengan lidah dan dielek mereka.


Salah satunya, nama “Maluku”. Kuat dugaan, Maluku memiliki relevansi makna dengan kata “مملوك” (baca: Mamluk) atau “ملوك” (baca: Muluuk) yang berarti Raja-Raja atau Kerajaan.


Sebab, di kawasan wilayah Indonesia Timur itu ada banyak kerajaan, baik kerajaan besar seperti: Kesultanan Tidore dan Ternate, maupun kerajaan kecil di wilayah pesisir pantai.


Tidak dapat dipungkiri, bahwa wilayah kawasan Maluku dan sekitarnya telah menjalin hubungan perdagangan dengan para saudagar bangsa Arab sejak abad ke-15 atau ke-16 M, sehingga pengaruh penamaan pendatang Arab telah melekat kuat dalam penamaan Maluku itu sendiri.


Kembali berbicara masalah Papua, yang hari ini didominasi oleh penganut agama Kristiani, hal ini bukan berarti Islam belum pernah atau belum masuk hingga ke Papua. Faktanya, tidak demikian. Masuknya Kristen di Papua bisa dibaca kembali lagi sejarahnya sejak kapan? Sebelum masa kolonial atau sesudahnya?!!


Catatan sejarah, di Papua lebih dahulu masuk Islam, seiring masuk dan berkembangnya Islam di wilayah kesultanan Ternate, Tidore dan kawasan Maluku. Bahkan, lebih awal dari masuknya dan berkembangnya Islam di pulau Jawa pada masa dakwah para Walisongo.


Kajian masuknya Islam di Tanah Papua juga pernah dilakukan oleh Thomas W Arnold seorang orientalis Inggris didasarkan atas sumber-sumber primer antara lain dari Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris.


Dalam bukunya yang berjudul The Preaching of Islam yang dikutip oleh Bagyo Prasetyo disebutkan bahwa pada awal abad ke-16, suku-suku di Papua serta pulau-pulau di sebelah barat lautnya, seperti Waigeo, Misool, Waigama, dan Salawati telah tunduk kepada Sultan Bacan salah seorang raja di Maluku.


Kemudian Sultan Bacan meluaskan kekuasaannya sampai Semenanjung Onim (Fakfak), di barat laut Irian pada tahun 1606, melalui pengaruhnya dan pedagang muslim maka para pemuka masyarakat pulau-pulau tadi memeluk agama Islam meskipun masyarakat pedalaman masih menganut animisme, tetapi rakyat pesisir adalah Islam.


Karena letak Papua yang strategis menjadikan wilayah ini pada masa lampau menjadi perhatian dunia Barat, maupun para pedagang lokal Indonesia sendiri.  Daerah ini kaya akan barang galian atau tambang yang tak ternilai harganya dan kekayaan rempah-rempah sehingga daerah ini menjadi incaran para pedagang.


Karena kandungan mineral dan kekayaan rempah-rempah maka terjadi hubungan politik dan perdagangan antara kepulauan Raja Ampat dan Fakfak dengan pusat kerajaan Ternate dan Tidore, sehingga banyak pedagang datang untuk memburu dagangan di daerah tersebut.


Ambary Hasan, dalam tulisannya yang dikutip oleh Halwany Michrob mengatakan bahwa sejarah masuknya Islam di Sorong dan Fakfak terjadi melalui dua jalur.


Salah satu bukti otentik keberadaan Islam di tanah Papua yang masih terpelihara rapi adalah Masjid Patimburak. Masyarakat setempat mengenal masjid ini sebagai Masjid Tua Patimburak.


Menurut catatan sejarah, masjid ini telah berdiri lebih dari 200 tahun yang lalu, bahkan merupakan masjid tertua di Kabupaten Fakfak.


Bangunan yang masih berdiri kokoh dan berfungsi hingga saat ini dibangun pada tahun 1870, seorang imam bernama Abuhari Kilian.


Pada masa penjajahan, masjid ini bahkan pernah diterjang bom tentara Jepang. Hingga kini, kejadian tersebut menyisakan lubang bekas peluru di pilar masjid.


Menurut Musa Heremba, penyebaran Islam di Kokas tak lepas dari pengaruh Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada abad XV, kesultanan Tidore mulai mengenal Islam.


Sultan Ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk agama Islam. Sejak itulah sedikit demi sedikit agama Islam mulai berkembang di daerah kekuasaan Kesultanan Tidore termasuk Kokas.


Kedatangan pengaruh Islam ke Pulau Papua, yaitu ke daerah Fakfak, Papua Barat tidak terpisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang antara pusat pelayaran internasional di Malaka, Jawa dan Maluku.


Sejarah masuknya Islam di wilayah Maluku dan Papua dapat ditelusuri dari berbagai sumber, baik sumber lisan dari masyarakat pribumi maupun sumber tertulis.


Menurut tradisi lisan setempat, pada abad kedua Hijriah atau abad kedelapan Masehi, telah tiba di kepulauan Maluku (Utara) empat orang Syekh dari Irak.


Kedatangan mereka dikaitkan dengan pergolakan politik di Irak, dimana golongan Syiah dikejar-kejar oleh penguasa, baik Bani Umayah mau pun golongan Bani Abasyiah.


Mereka adalah Syekh Mansyur, Syekh Yakub, Syekh Amin dan Syekh Umar. Syekh Umar menyiarkan agama Islam di Ternate dan Halmahera muka. Syekh Yakub menyiarkan agama Islam di Tidore dan Makian. Ia meninggal dan dikuburkan di puncak Kie Besi, Makian.


Kedua Syekh yang lain, Syekh Amin dan Umar, menyiarkan agama Islam di Halmahera belakang, Maba, Patani dan sekitarnya. Keduanya dikabarkan kembali ke Irak.


Menurut beberapa sumber bahwa Islam ternyata telah masuk ke tanah Papua sejak 17 Juli 1224 M. Salah satu peninggalannya yang tersimpan adalah Al-Qur’an kuno.


Hal itu diungkapkan oleh Raja Patipi ke XVI, H. Ahmad Iba. Ia mengatakan bahwa Islam masuk ke Papua dibawa oleh Syaikh Iskandar Syah atas mandat Syaikh Abdur Rauf dari kerajaan Pasai. Syaikh Iskandar Syah melakukan perjalanan dakwah dan tiba di Messia atau Mes kerajaan Patipi awal ketika itu bertemu dengan orang bernama Kris Kris.


Dan Syaikh Iskandar Syah mengajarkan apabila kalian ingin selamat, ingin sejahtera, kalian harus mengenal Alif Lam Lam Ha (Allah), dan Mim Ha Mim Dal (Nabi Muhammad SAW) dan dilanjutkan dengan pembacaan syahadat.


Ahmad Iba juga mengatakan, Syaikh Iskandar Syah oleh bapak Kris Kris tiga bulan kemudian dia diangkat menjadi Imam pertama. Dan Kris Kris menjadi Raja Patipi awal. Namun, beberapa tahun kemudian di Messia terjadi tsunami dan melenyapkan masjid serta beberapa warga sekitar.


Dan beberapa tahun kemudian, terjadi tsunami maka seluruh Masjid dan isinya beserta penduduk sebagian ditelan bumi kecuali Kitab Al-Quran dan beberapa kitab fiqih, tauhid yang diselamatkan oleh Syaikh Iskandar.


Hingga saat ini Al-Quran dan beberapa kitab lain masih tersimpan di rumah Ahmad Iba. Meski sudah terlihat lusuh, ia tetap menjaganya dengan menaruh di lemari kaca.


Selain itu, dai asal Papua, Ustadz Fadlan Garamatan menegaskan bahwa adanya Al-Quran yang sudah berumur ratusan tahun itu menunjukkan adanya Islam di Papua. Namun, karena kekurangan da’i, sehingga berita tersebut tidak tersebar luas.


Jadi kesimpulannya, jika memang benar ditemukan pusaka al-Qur’an yang diperkirakan di tahun 1224 M, maka dapat dipastikan kebenarannya bahwa masuknya Islam di Papua berkesesuaian dengan tahun kekuasan kekhalifahan Abbasyiah di Baghdad yang ketika itu telah melakukan hubungan perdagangan di Nusantara, khususnya di wilayah kesultanan Ternate dan Tidore.


Wallahu ‘alam


  • Ust. Dr. Miftah el-Banjary Penulis National Bestseller | Dosen | Pakar Linguistik Arab & Sejarah Peradaban Islam | Lulusan Institute of Arab Studies Cairo Mesir.

Related Posts