Neo Sufisme KH Maimun Zubair

Penulis: Jamal Ma’mur Asmani
Rabu 21 Agustus 2019

kiai Maimun Zubair

Atorcator.Com – Di Indonesia, diskursus tasawuf ada yang bercorak Sunni amali dan ada yang bercorak sunni falsafi.


Tasawuf Sunni amali menekankan praktek yang mengarah kepada tazkiyatun nafsi (penyucian jiwa) yang terdiri dari proses takhalli (menghilangkan sifat tercela, seperti iri hati, sombong, pamer, bakhil, buruk sangka Dan takut kepada selain Allah), tahalli (menghiasi diri kepada akhlak terpuji, seperti Sabar, syukur, dermawan, baik sangka Dan senang melihat kenikmatan orang lain), Dan diakhiri dengan tajalli (cahaya Allah yang menerangi kegelapan hatinya sehingga bisa membedakan baik Dan buruk Dan perilakunya, baik lahir maupun batin, sesuai dengan petunjuk Dan ajaran Allah).


Sedangkan tasawuf Sunni falsafi menekankan kepada tafakkur (refleksi) terhadap kebesaran ciptaan Allah yang penuh rahasia ilmu Dan Hikmah. Tafakkur adalah ibadah mulia karena menghasilkan banyak ilmu Dan Hikmah. تفكر ساعة خير من عبادة ستين سنة (berpikir mendalam selama satu jam lebih baik pengaruhnya dalam kehidupan dari pada hanya beribadah Sunnah 60 tahun).


Allah memuji orang yang suka berpikir untuk menghasilkan ilmu Dan Hikmah sebagai hamba Allah yang masuk kategori ulul albab (hamba yang berakal cerdas).


Allah berfirman:

أن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لاولي الالباب – الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلي جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والارض، ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار

Sesungguhnya dalam penciptaan Langit Dan bumi Dan pergantian Malam Dan siang pasti menjadi tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, Dan tidur Dan mereka aktif berpikir dalam penciptaan Langit Dan bumi, wahai Tuhan kami, Engkau Tidak sia-sia menciptakan ini, Maha suci Engkau, maka jagalah kami dari API neraka.


Dominasi Sunni Amali


Di Indonesia, tasawuf didominasi yang bercorak Sunni amali. Fokus tasawuf ini adalah mengamalkan ajaran tasawuf yang disampaikan guru, mursyid thariqah, Dan para ulama yang memberikan pengajaran Dan Siraman rohani.


Mereka melakukan puasa, wirid, shalat Malam, rajin sedekah, menekankan khusyu’ dalam shalat, Dan memperkuat  solidaritas sosial dengan peduli Dan aktif membantu orang lain.


Mayoritas kitab yang mereka kaji adalah karya Imam Ghazali. Ihya’ Ulumiddin, Bidayatul Hidayah, Minhajul Abidin, Ayyuhal Walad, Dan lain-lain. Dari sekian kitab tersebut, pengaruh terbesar Ada dalam kitab Ihya’ Ulumiddin yang menjadi puncak keilmuan Dan master piece Imam Ghazali.


Jarang sekali para Ulama, khususnya Ulama Pesantren yang serius mengkaji tasawuf falsafi ala Al Farabi, Al Kindi, Al Hallaj, Syekh Sini Jenar, Dan lain-lain. Tasawuf falsafi ini kurang cocok dengan realitas mayoritas umat Indonesia yang menekankan harmoni, solidaritas, Dan kohesivitas sosial tinggi.


Tokoh ilmuwan Dan Ulama di Indonesia, seperti KH Abdurrahman Wahid, Hamka, Alwi Shihab Dan KH Said Aqil Siradj sebenarnya adalah tokoh yang serius mengkaji tasawuf falsafi ini sebagai instrumen melahirkan pemikiran-pemikiran cemerlang yang sering menggoyang kemapanan.


Bagaimana dengan KH Maimun Zubair?


Sekilas jika Kita mengkaji KH Maimun Zubair Sebagai tokoh utama Pesantren salaf, maka tasawuf yang dominan pada diri KH Maimun Zubair adalah tasawuf Sunni amali.


Ada beberapa indikator:


Pertama, kitab-kitab yang dikaji KH Maimun Zubair adalah kitab-kitab yang menekankan tasawuf amali, seperti Risalah Qusyairiyah karya IMAM Qusyairi Dan Tanbighul Mughtarrin karya Imam Abdul Wahab As-Sya’rani.


Kedua, perilaku keseharian KH Maimun Zubair menunjukkan dominasi tasawuf Sunni amali ini. Kezuhudan, kewiraian, kesederhanan, pengorbanannya kepada umat Dan bangsa adalah sebagian karakter menonjol Kiai Maimun Zubair yang terpengaruh kuat dengan diskursus tasawuf Sunni amali.


Ketiga, guru-guru Dan teman-teman pergaulan KH Maimun Zubair adalah ulama-ulama Sunni amali yang menekankan tazkiyatun nafsi. KH Abdul Karim Lirboyo, Syaikh Said Ramadhan Al Buthi, Sayyid Alawi Al Maliki, Dan Syaikh Fadhol Senori adalah figur Ulama yang mengamalkan tasawuf menuju penghambaan total kepada Allah.


Neo Sufisme KH Maimun Zubair


Meskipun demikian, KH Maimun Zubair bisa digolongkan sebagai Ulama neo sufisme, yaitu Ulama yang menekankan amaliah tasawuf menuju tazkiyatun nafsi, namun mampu mengakomodir perkembangan zaman Dan melahirkan pemikiran yang solutif tanpa meninggalkan dimensi tasawuf Sunni amali.


Ada beberapa indikator:


Pertama, KH Maimun Zubair Tidak alergi terhadap kekuasaan. Bahkan beliau aktif sebagai Politisi partai politik sampai akhir hayatnya. Beliau terbiasa bertemu dengan jajaran eksekutif Dan legislatif.


Meskipun dalam diskursus tasawuf Ada doktrin seorang jangan mendekati Penguasa karena mudah terjebak Dan terhegomoni kekuasaannya, tapi KH Maimun Zubair mampu memainkan peran cantik sebagai Ulama yang mampu memberikan masukan, arahan, Dan motivasi kepada pemerintah untuk menegakkan keadilan sosial bagi seluruh Rakyat tanpa terkecuali.


Dekat dengan Penguasa digunakan untuk Amar Ma’ruf nahyi mungkar secara efektif. Hal ini tentu berbeda dengan sementara orang yang menginterpretasi ayat secara sempit, yaitu: أن الملوك اذا دخلوا قرية افسدوها وجعلوا أعزة اهلها اذلة (sesungguhnya para raja jika masuk dalam satu Daerah, maka mereka Akan merusaknya Dan menjadikan hina orang-orang hebat daerah tersebut).


Lebih progresif lagi, KH Maimun Zubair mendukung putranya Gus Taj Yasin Maimun untuk berlaga dalam Pilkada Jawa Tengah Dan akhirnya terpilih sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah.


Dalam salah satu acara di Pakis, Penulis mendengar langsung dawuh KH Maimun Zubair agar Ulama mampu bergaul Dan berkomunikasi dengan umara. Kerjasama Ulama Dan umara Akan membawa kemaslahatan Dan kesejahteraan bagi umat Dan bangsa.


Kedua, pandangan – pandangan progresif KH Maimun Zubair yang Penulis simak dari beberapa sumber. Salah satunya tentang kebolehan menggunakan jasa perbankan. Tanpa jasa perbankan misalnya, maka umat Islam Tidak bisa menunaikan ibadah haji karena regulasi pemerintah mengharuskan orang yang daftar haji melalui perbankan.


Ketiga, pergerakan KH Maimun Zubair yang membuka lembaga pendidikan formal, yaitu Tsanawiyah, Aliyah, Dan Perguruan Tinggi yang mendapatkan legalitas pemerintah.


Bagi Ulama salaf zaman dulu, sekolah formal mengurangi keikhlasan seseorang dalam mencari ilmu karena tujuannya Tidak menggapai ridla Allah, tapi mencari ijazah.


KH Maimun Zubair mendekonstruksi pemahaman tersebut. Sekolah formal didirikan dalam rangka mencerdaskan Anak bangsa dan menyiapkan Masa depan mereka sebagai kader-kader pemimpin bangsa di berbagai sektor kehidupan, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.


Pesantren Harus mau berperan di sektor ini sehingga pemimpin bangsa ke depan mempunyai mentalitas Dan moralitas tangguh Dan wawasan luas Serta skills professional sehingga terhindar dari korupsi Dan fokus pada pengabdian bangsa. Sekolah formal Tidak menghalangi seseorang mencari ridla Allah sebagai basis utama niat dalam mencari ilmu.


Melanjutkan Neo Sufisme KH Maimun Zubair


Pemikiran Dan pergerakan progresif KH Maimun Zubair di atas Tidak mengurangi kharisma beliau sebagai tokoh Pesantren salaf. Hal ini Tidak lepas dari otoritas keilmuan beliau yang tidak diragukan, otoritas moral beliau yang bisa diteladani, Dan otoritas perjuangan beliau yang Sudah teruji dalam rentang waktu yang panjang.


Legacy neo Sufisme KH Maimun Zubair ini Harus dilanjutkan oleh generasi Penerus supaya wajah Islam di era modern ini Lengkap karena mampu menggabungkan dimensi ashalah (orisinalitas) Dan hadatsah (modernitas).


Kombinasi, Sinergi, Dan integrasi kedua aspek inilah yang membuat Islam mampu menjadi elan vital Kebangkitan umat Dan bangsa Dan cita-cita membumikan Islam Rahmatan Lil Alamin benar-benar menjadi kenyataan, amiin.


Jamal Ma’mur Asmani Wakil Ketua PCNU Pati, Direktur LESKA, Dosen IPMAFA

Related Posts