Berislam dengan Mudah Ala Gus Baha’

Penulis: Saefudin Achmad
Rabu 11 September 2019

Ilustrasi: Menara Kudus

Atorcator.Com – Gus Baha’ adalah seorang penceramah dari NU yang sekarang sedang digandrungi khalayak. Gaya ceramah yang sederhana menjadi daya tarik tersendiri. Pun dengan pakaian yang dikenakan, biasanya baju putih, sarung, peci hitam yang masih memperlihatkan rambut bagian depan semakin menunjukkan beliau yang apa adanya. Hal tersebut sama sekali tidak mengurangi wibawa beliau. Bahkan tanpa butuh waktu yang lama untuk bisa diterima oleh khalayak.


Soal keilmuan sudah tidak diragukan lagi. Ulama sekelas Prof. Quraish Shihab menyebut beliau sebagai ahli tafsir sekaligus fiqih. Beliau paham masalah fiqih dari ayat Al-Qur’an. Mbah Moen sebagai gurunya juga menyebut kalau beliau orang yang cerdas ‘tenan’. Beliau adalah satu-satunya anggota Majlis Tafsir Indonesia yang berasal dari lulusan pesantren dan tidak mengenyam pendidikan tinggi, tidak di Indonesia, tidak juga di Timur Tengah.


Hal unik lain adalah beliau punya cara berpikir yang sederhana, anti maistream, tapi sangat mengena. Cara berpikir beliau membuat kita menjadi manggut-manggut dan berucap, “Mm..benar juga ya..”. Beliau berhasil melawan pandangan-pandangan maismnstream tentang ajaran agama yang kaku, dengan logika berpikir yang sederhana, tapi tidak mengurangi kekuatan dari argumen yang dipakai. Saya berkesimpulan beliau mengajarkan kepada kita semua bahwa menjadi orang Islam itu mudah, tak ribet dan sulit. Kalau masih ada yang merasa ribet dan sulit, bukan ajaran Islamnya yang ribet dan sulit, tapi kita sendiri yang mempersulitnya.


Beberapa pernyataan Gus Baha’ yang menurut saya cukup menarik yang berisi pesan bahwa menjadi orang Islam itu mudah adalah sebagai berikut:


 Pertama, soal Ghibah. Ketika orang-orang dengan menggebu-nggebu hanya menyerukan agar jangan ghibah karena ghibah itu dosa, sama saja seperti memakan daging saudaranya sendiri, Gus Baha punya cara pandang yang berbeda dan unik. Ghibah itu dosa. Menurut beliau, tapi tanpa ghibah, orang yang berbuat jahat, tidak akan kena hukum sosial. Padahal hukum sosial itu penting untuk menjaga setiap anggota masyarakat agar tidak melakukan perbuatan buruk.


Saya tidak tahu persis maksud dari pernyataam beliau. Tapi menurut yang saya pahami, kalau memang kita melihat kejahatan, lalu kita takut untuk menceritakan ke orang lain hanya karena kita ingin menghindari dosa Ghibah. Jangan takut untuk menceritakan sebuah kejahatan.


Kedua, umunya da’i akan menganjurkan umat untuk memanfaatkan waktu dengan baik misalnya untuk beridabah dan mencari ilmu. Jangan sampai waktu hanya dimanfaatkan untuk juguran, minum kopi, nongkrong tidak jelas di warung pinggir jalan. Biasanya orang-orang yang seperti ini akan dipandang sebelah mata.


Namun uniknya, Gus Baha’ punya cara pandang yang unik. Menurutnya, minum di warung kopi, rokokan, ngobrol bersama banyak kawan, itu juga dekat dengan perbuatan tak baik. Menyia-nyiakan waktu. Minimal tak berfaedah. Tapi kalau disikapi sebagai cara hidup supaya tidak melakukan perbuatan buruk, maka kongkow macam itu jadi model yang baik. Dan karena orang-orang seperti inilah, banyak kecelakaan di pinggir jalan yang korbannya bisa cepat diselamatkan.


“Lha nek kabeh wong neng njero omah, terus tiba-tiba ana wong tabrakan. Ngenteni wong-wong mau metu, selak mati sing tabrakan.”


Ketiga, soal Riba. Ketika da’i-da’i lain mengajak orang untuk tidak berurusan dengan Bank karena dinilai riba, Gus Baha’ punya cara pandang yang unik. Soal riba, beliau punya pertanyaan khas:  Kalau ada orang berhutang seekor sapi kepada kerabatnya, kemudian dia minggat, dan baru balik 10 tahun kemudian karena sudah sukses. Lantas ingin membayar hutangnya. Berapa ekor sapi yang dia bayar? Seekor? Alasannya apa? Kalau lebih, alasannya apa? Bagaimana hukumnya?


Keempat, tentang shalat malam. Ketika para da’i pada umumnya mengajak umat untukbersemangat mengerjakan shalat malam karena pahalanya besar, Gus Baha punya cara pandang yang berbeda. Untuk mendapatkan pahala, tak harus dengan shalat malam. Seorang suami yang semalam suntuk ‘kelon’ sama istrinya juga termasuk ibadah dan mendapatkan pahala.  Beliau seperti paham bahwa tak semua umat Islam mampu mengerjakan shalat malam. Bagi yang merasa berat melakukan shalat malam, masih ada alternatif lain yaitu ‘kelon’ sama suami atau istri.


Saya tak berani menafsirkan pernyataan-pernyataan beliau, bukan maqamnya. Namun menurut apa yang saya pahami dari pernyataan-pernyataan beliau, beliau seperti menyampaikan pesan kepada umat agar bahwa menjadi orang Islam yang baik itu mudah. Jika ada yang merasa sulit dan berat, orang itu sendiri yang membuatnya sulit dan berat.


Wallohu A’lam


(SA)


Syaefudin Achmad Dosen IAIN Salatiga Asal Purbalingga Jawa Tengah

Related Posts