Kebijakan Beasiswa LPDP dan Tantangan Kaum Santri

Penulis: Shulhan alfinnas
Sabtu 21 September 2019

TimesIndonesia

Atorcator.Com – Salah satu beasiswa yang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia adalah beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) sejak tahun 2012. Beasiswa ini sangat diminati pemuda-pemudi yang berkeinginan untuk melanjutkan study S-2 maupun S-3 di dalam maupun di luar negeri. Beasiswa ini tergolong bergengsi hari ini kerena cakupan dana yang diberikan cukup tinggi. Semakin hari pelamar beasiswa yang dikelola oleh Kementerian Keuangan ini semakin tinggi sehingga persaingan semakin ketat dan persyaratan pendaftaran semakin sulit.


Pada awalnya beasiswa ini dibuka empat kali setahun dan persyaratan bahasa Ingris tidak terlalu ketat, TOEFL like dari kampus masih bisa terima. Tes substansi hanya menulis essay dan wawancara. Setelah beberpa tahun berikutnya sertifikat bahasa yang diterima minimal TOEFL ITP.


Belakangan ini terhitung sejak 2017, kebijakannya berubah secaa signifikan, yaitu hanya dibuka dua kali setahun. Gelombang pertama untuk pendafatar tujuan study dalam negeri dan gelombang kedua untuk pendaftar tujuan study luar negeri.


Tingginya animo publik terhadap beasiswa ini juga menyebabkan lahirnya kebijakan baru dalam seleksi substansi. Sejak tahun 2017 ini diberlakukan tes potensi akedemik (TPA) online untuk menyaring kanditat penerima beasiswa (awardee) yang benar-benar sesuai yang diinginkan. Untuk beasiswa yang dikelolal oleh pemerintah, LPDP ini merupakan beaiswa yang paling bergengsi mengalahkan Beasiswa Unggulan yang sudah ada jauh sebelumnya dan dikelola oleh kementerian Pendidikan.


Beasiswa ini memberikan kesempatan yang terbuka kepada putra-putri bangsa Indonesia untuk menempuh pendidikan lanjutan di berbagai perguruan tinggi terbaik di dunia. Pelamar tidak harus dosen atau pegawai negeri di lingkungan kantor pemerintah, masyarakat umum bisa mendaftar bahkan fresh graduate bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Hai ini memudahkan siapa saja untuk mengambil peluan ini.


Kandidat yang dipilih tentu yang memiliki reputasi akademik, dan pengabdian yang baik. Mereka juga harus mampu membangun visi dan rencana kontribusi diri dalam pembangunan nasional ke depan. Dengan kata lain, awardee yang diplih harapannya kemampuan akademik, skill, kecakapan sosial, dan komitmen terhadap pembangun Indonesia berkembang dengan seimbang.


Tantangan Santri


Tujan dan fokus beasiswa ini adalah, “LPDP berfokus pada pengembangan kualitas sumber daya manusia di berbagai bidang yang menunjang percepatan pembangunan Indonesia. Beberapa di antara prioritas yang menjadi fokus LPDP antara lain; teknik, sains, pertanian, hukum, ekonomi, keuangan, kedokteran, agama, serta sosial-budaya” (LPDP, 2019).


Sedangkan kebanyakan santri hanya mampu menempuh pendidikan bidang agama dan sosial-budaya. Tidak banyak santri yang mampu masuk jurusan teknik, kedokteran dan akuntansi.


Fakta ini tentu sedikit banyak mempengaruhi peluang santri untuk mendapatkan akses pendidikan lanjutan pada jurusan strategis yang dijadikan prioritas pemerintah. Santri dengan latar belakang pendidikan agama seperti jurusan sosiologi agama atau pendidikan agama Islam tidak mungkin mengambil S2 jurusan teknik mesin di MIT. Lulusan pendidikan bahasa arab atau bahasa Ingris misalnya tidak mungkin mendapatkan peluang setudi lanjut jurusan hukum bisnis internasional atau kedonteran di Harvad.


Fakta lain adalah kemampuan bahasa Inggris kaum santri sangat lemah padahal seharusnya meraka mampu menguasa bahsa asing dengan mudah jika sudah menguasai bahasa arab dengan baik. Kemampuan berbahasa arab yang baik memudahkan seseorang mempelajari bahasa asing lainnya kerena bahasa arab dikenal sebagai salah satu bahasa tersulit di dunia. Banyak sekali santri kemampuan bahasa Ingris baik tulis maupun lisan sangat lemah karena jarang berinterakasi dengan bahasa Inggris atau kurang membiasakan berbahasa tersebut.


Kaum santri juga lemah dalam publikasi ilmiah terutama yang menggunakan bahasa yang diakui PBB. Meskipun mereka mampu membangun pola pikir yang serta mampu mendemonstrasikannya dengan baik dalam bentuk lisan, mereka kurang dapat menulis ilmiah. Alhasil mereka jarang memiliki karya yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal terindeks DOAJ dan Scopus.


Berangkat dari kondisi di atas, kaum santri hendaknya mampu melakukan terobosan sabagai inovasi dan akselerasi dalam dua skema agenda :


Pertama, menyusun program pendidikan yang dapat menjawab keinginan pemerintah dalam pembangunan SDM. Pendidikan di kalangan pesantren secara masif harus dikembangkan untuk meningkatkan penguasaan bidang sains dan matematika selain bahasa arab dan agama sejak di banggu sekolah.


Kedua, pesantren hendaknya mendirikan lembaga program khusus membidangi pelatihan dan pedampingan academic writing. Menulis ilmiah sebagi skill hanya dapat dikembangkan melalui latihan dengan rutin dan hasilnya disubmit ke jurnal ilmiah. Lembaga pesantren sebenarnya memiliki modal yang kuat dalam budaya menulis karena khazanah tulis menulis populer sudah dikembangkan sejak lama.


Akan tetapi gaya karya ilmiah berbeda dengan tulisan populer dan butuh kosntrasi tinggi dan kemahiran metodologi penelitian. Dalam penulisan ilmiah, penulis dituntut untuk mampu melakukan peneletian dengan baik dengan kaidah penelitian. Setelah itu, penulis mampu menulis hasil penelitian dalam sesuai gaya selingkung jurnal menggunakan teori perspektif yang relevan dengan topik kajian yang dibahas.


Ketiga, program peningkatan bahasa asing hendaknya dilaksanakan secara serius. Masyarakat pesantren ada baiknya meniru program yang dilaksankan oleh Yayasan Insan Cita Bangsa (YIB), Keluarga Alumni HMI (KAHMI). Mereka membuat program beasiswa IELTS scholarship programuntuk kader-kader HMI untuk belajar bahasa inggris dengan serius. Muhammadiyah juga membuat program Muhammadiyah Scholaarship Preparion Program (MSPP). 


Out put dari program ini adalah skor IELTS atau TOEFL IBT yang memenuhi persyaratan study lanjut. IETLS dan TOEFL IBT dijadikan standar luaran training karena menguji kemampaun barbahasa Inggris secara hilistik meliputi kemampuan mendengar (listening), menulis (writting), membaca (reading) dan berbicara (speaking).


Keempat skill berbahasa ini merupakan kemampuan aktual yang dibutuhkan individu secara real ketika mengikuti perkuliahan kelas international maupun ketika berinteraksi secara global.


Program ini hendaknya dirangcang di lingkungan pesantren untuk menyambut peluang beasiswa study lanjut yang di sediakan oleh pemerintah dan sumber lain yang relevan. Kemampuan berbahasa inggris yang baik secara aktif merupakan keharusan yang harus dikuasai oleh santri untuk bisa mendapatkan beasiswa LPDP dan melanjutkan study di luar negeri.


Shulhan alfinnas adalah santri KH. Hafidhi Syarbini dan KH. Abdurrahman Alkayis, Ph.D, inisiator gerakan Thariqah akademik, dosen, aktivis advokasi pelajar miskin dan motivator.

Related Posts