Sang Syahid KH Abdullah Sajjad dari Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk

Penulis: Ahmad Fauzan Rofiq
Kamis 12 September 2019
Ilustrasi; Kiai Abdullah Sajjad/NU-Online

Berkah Temu Alumni
Sekitar tahun 2003 Pondok Pesantren
Annuqayah Latee Guluk-Guluk Sumenep mengadakan temu alumni untuk pertama
kalinya. Salah satu hal penting yang dipersiapkan guna mensukseskan gawe
tersebut adalah penerbitan buku “Jejak Masyayikh Annuqayah”. 

Maka, dibentuklah tim khusus yang bertugas untuk menelusuri sejarah Masyayikh
Annuqayah dari para saksi yang masih hidup. Tim lalu bergerak ke beberapa
daerah, seperti Karduluk, Kemisan, Kalabaan, dan sebagainya.

Saya adalah bagian dari tim khusus tersebut yang kebetulan bertugas untuk
menelusuri kehidupan dan perjuangan Kiai Haji Abdullah Sajjad. Saya pun
meluncur ke daerah Guluk Manjung, Kapedi. Di sana ada seorang saksi hidup yang
bernama H. Abdurrahman. Masyarakat setempat biasa menyebutnya “Kiai Rahman”. 
Kiai Rahman
Perawakannya agak tinggi, kulit
kuning, kurus dan sedikit bungkuk karena dimakan usia, namun masih terlihat
sehat dan lincah. Wajahnya cerah, tenang, dan bibirnya selalu basah, yang
menyiratkan bahwa beliau seorang ahli ibadah.

Menurut pengakuannya, beliau berumur 113 tahun. Saat itu beliau tinggal bersama
salah satu putrinya dari salah satu istrinya. “Lebih dari 10 perempuan
yang pernah saya nikahi,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi masyarakat sekitar, Kiai Rahman tak lebih dari lelaki tua yang sudah uzur.
Hal itu wajar karena beliau lebih banyak menghabiskan waktu gagahnya di luar
Madura, sehingga banyak yang tidak mengenalnya secara mendalam. Selepas Agresi
Militer Belanda tahun 1947, beliau berpetualang ke Jawa dan Kalimantan. Di mana
bumi di pijak, di situlah beliau membangun masjid. Termasuk, di mana bumi di
pijak, di situlah dia punya istri baru (Hmmm…mungkin ini yang bisa membuatnya
panjang umur). Jadi wajar jika dia kemudian meninggalkan banyak masjid dan
istri di daerah rantauan. 

Masyarakat sekitar juga tidak banyak tahu bahwa menjelang kejatuhan Soeharto,
tahun 1998, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berkunjung ke Kiai Rahman
ini. Hal ini dibenarkan oleh putrinya yang juga sudah lanjut usia. Tak mungkin
keduanya bersepakat untuk berbohong.

Ketika diajak berbicara, beliau bersemangat sekali apalagi yang berkenaan
dengan Annuqayah di masa lalu. Ingatan dan gelora perjuangannya seakan muncul
kembali.


Ketika Belanda Memasuki Annuqayah
“Ketika saya ngaji ke Kiai
Ilyas, putra-putri beliau masih kecil-kecil kecuali Kiai Khazin, saya masih
ingat dulu saya sering menggendong Kiai Warits,” Kiai Rahman memulai
ceritanya. “Kiai Khazin itu bagi saya adalah pendekar yang pemberani,
malah terkadang nekad. Di antara aksi nekadnya adalah, jika menunggang kuda,
beliau tidak menghadap ke depan, tapi ke belakang sambil mengendalikan kuda.
Dan beliau tidak pernah pelan kalau menunggang kuda,” tuturnya.

Saat Belanda datang pada tahun 1947, ada instruksi dari KH Abdullah Sajjad
selaku pimpinan laskar Sabil, bahwa Pesantren Annuqayah harus dikosongkan
karena Belanda berhasil mematahkan pertahanan Sabil di Pakong dan sudah
bergerak menuju Guluk-Guluk. Menurut Kiai Rahman, Kiai Ilyas tidak serta merta
mengosongkan pesantren. Bahkan beliau berkata, “Saya tetap di sini saja
bersama santri.”

Benar saja, Belanda datang dan langsung melakukan penyisiran. Mereka
menggeledah dan mengobrak-abrik semua tempat, tapi yang dicari tidak ditemukan.
Setelah puas mengobrak-abrik Pesantren Annuqayah, salah seorang pimpinan Belanda
memberi aba-aba bahwa pesantren kosong, dan mereka pun meninggalkan Annuqayah
dengan tangan hampa.

“Aneh..,” kata Kiai Rahman, “padahal waktu penggeledahan itu
Kiai Ilyas sedang morok santri di Masjid Annuqayah, saya juga sedang ikut ngaji
meski tubuh basah bermandikan keringat dingin karena takut ketahuan
Belanda,” imbuhnya. “Rupanya, Kiai Ilyas sedang menampakkan
kejunilannya (karomahnya),” hela Kiai Rahman. Subhanallah….

Belanda memang menggeledah semua tempat di Annuqayah, tapi tidak sejengkal pun
mereka menapakkan kaki di daerah Lubangsa. Menurut Kiai Rahman, mereka hanya
tercengang ketika melihat daerah Lubangsa laksana melihat kolam besar yang
penuh air. Wallahu a’lam…


Kidung Kiai Sajjad
Nama “Sajjad” menurut Kiai
Rahman adalah nama asli dari Kiai Haji Abdullah Sajjad bin KH Muhammad Syarqawi
al-Kudusi, bukan nama gelar (di mana beliau wafat dalam keadaan sujud
sebagaimana versi Ahmad Baso), sebab saat masih hidup beliau biasa dipanggil
“Kiai Sajjad” dan pasukannya disebut “Pasukan Kiai Sajjad”.

Kiai Sajjad adalah orang yang paling dicari oleh Belanda. Mereka tahu bahwa
dalang sekaligus aktor yang menggerakkan rakyat untuk melawan dan menghadang
pergerakan Belanda di daerah Pakong adalah Kiai Sajjad. Jadi wajar jika beliau
selalu diburu oleh Belanda dengan berbagai cara. Akhirnya Kiai Sajjad
bersembunyi (lebih tepatnya bergerilya) di daerah Karduluk.

Menurut Kiai Ali Wafa, seorang saudagar kaya di Prenduan yang pernah
menyelamatkan Kiai Khazin Ilyas ke Sukorejo, bahwa Kiai Sajjad pernah ingin
diungsikan ke daerah Sukorejo juga, namun beliau menolak. Beliau tidak sudi
menumbalkan rakyat hanya demi keselamatannya sendiri, sehingga beliau tetap
bertahan di Karduluk.

Ketika dalam pengungsian, Kiai Sajjad tidak melupakan tugas utamanya sebagai
pengayom dan guru umat. Beliau masih sering morok ketika situasi dianggap
benar-benar aman. Materi yang sering beliau berikan adalah tauhid.

Beliau juga sangat kreatif menyusun syair-syair berbahasa Madura yang
dilantunkan bersama Shalawat Nabi. Saking seringnya syair-syair itu
dilantunkan, banyak di antara laskar dan para pengiringnya yang hafal, termasuk
Kiai Rahman. (Catatan: mengenai Kidung Kiai Sajjad ini pernah dimuat dalam buku
“Jejak Masyayikh Annuqayah” dalam edisi terbatas).

Syair-syair itu terus beliau lantunkan, sampai suatu ketika datanglah sepucuk
surat yang dihantar oleh seorang kurir. Jika mengingat serta melantunkan Kidung
Kiai Sajjad itu, Kiai Rahman laksana menyenandungkan kidung kematian, karena
Kiai Sajjad senantiasa melantunkan kidung tersebut di masa-masa akhir hayatnya,
sehingga tanpa terasa air mata Kiai Rahman meleleh di ujung kedua matanya.


Sebuah Pengkhianatan
Belanda yang masih bercokol di
daerah Kemisan Guluk-Guluk terus berusaha mengendus keberadaan Kiai Sajjad.
Mata-mata pun disebar, termasuk mengerahkan kaum pribumi yang kehormatannya
bisa dibeli alias para pengkhianat.

Sebuah kabar angin menuturkan bahwa Kiai Sajjad bersembunyi di daerah Karduluk.
Belanda pun menyusun siasat. Mereka tidak ingin buruannya lepas. Maka dipakailah
siasat lama yang pernah digunakan Belanda untuk menjerat Pangeran Diponegoro,
yakni “Surat Damai”. Belanda kemudian menyewa seorang kurir untuk
mengantarkan surat tersebut. Isi surat itu adalah meminta Kiai Sajjad untuk
pulang ke Annuqayah karena situasi telah aman dan Belanda telah menarik diri ke
daerah Pamekasan.

Di sini Kiai Rahman mencoba berspekulasi. Menurutnya, surat itu sebenarnya
bukan bikinan Belanda, tetapi bikinan pribumi pengkhianat yang menginginkan
kematian Kiai Sajjad. Surat itu sengaja dibuat oleh seorang pengkhianat agar
Kiai Sajjad keluar dari persembunyiannya dan pulang ke Annuqayah, kemudian
setelah beliau benar-benar pulang, si pengkhianat lalu melaporkan pada Belanda.
Na’udzubillah…

Didorong oleh kerinduannya pada pesantren yang diasuhnya, Kiai Sajjad pun
pulang ke Annuqayah. Dalam perjalanan, beliau merasakan adanya kedamaian tanpa
curiga sedikit pun. Hingga menapakkan kaki di Annuqayah, masyarakat
mengelu-elukan kedatangannya. Mereka datang silih berganti, siang dan malam,
hanya untuk bertemu dengan beliau.

Setelah mengetahui bahwa Kiai Sajjad berada di Pesantren Annuqayah, maka
Belanda langsung merencanakan penangkapan. Satu regu diterjunkan. Mereka
bergerak senyap di malam hari menuju Latee. 

Suasana di Latee yang semula penuh haru biru, tiba-tiba berubah menjadi tegang
karena kehadiran pasukan loreng Belanda dengan senjata laras panjang. Kiai
Sajjad juga terlihat sedikit panik saat mengetahui kehadiran Belanda. Beliau
bukannya takut, tapi berpikir kenapa ada Belanda dan bagaimana menyelamatkan
masyarakat yang sedang bersama beliau itu? 

Satu pimpinan regu nampak tersenyum ketika melihat Kiai Sajjad. Sambil bergerak
maju, ia meminta Kiai Sajjad agar mau dibawa ke Markas Belanda di Kemisan untuk
bermusyawarah. Masyarakat berang, mereka paham dengan siasat licik Belanda ini,
pasti akan terjadi apa-apa jika beliau sampai bersedia dibawa Belanda. Hal
buruk pasti akan menimpa beliau. 

Masyarakat berontak, tapi ditahan oleh Kiai Sajjad. Beliau berusaha menahan dan
menjanjikan pada masyarakat bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya.
Meski dihantui rasa curiga, masyarakat pun rela melepaskan Kiai Sajjad untuk
dibawa ke Kemisan. Dengan penuh ksatria, beliau melangkah tanpa meminta pengawalan
orang terdekatnya sekalipun. Deru tangis kerabat, handai taulan, dan masyarakat
mengiringi kepergian beliau.
Dan Darah Itu…
Sesampainya di Kemisan, tepatnya di Kantor Kecamatan sekarang, Kiai Sajjad
diinterogasi oleh Belanda. Awalnya Belanda menggunakan cara halus, dengan
merayu. Menurut kabar, jika beliau tunduk pada Belanda, maka beliau akan tetap
dikukuhkan sebagai kepala desa. Namun beliau tidak mau.

Lalu dengan pongahnya, Belanda menggertak Kiai Sajjad, tapi lagi-lagi beliau
tetap tidak bisa ditundukkan. Rupanya beliau tetap bersikeras untuk menentang
kehadiran Belanda di Bumi Pertiwi yang nyata-nyata sudah memproklamirkan
kemerdekaannya.
Karena tidak mempan dengan rayuan
dan gertakan, Belanda pun menggunakan cara pamungkas, yakni mengeksekusi Kiai
Sajjad. Tanpa rasa gentar sedikit pun, beliau mau menerima konsekuensi sikap
nonkooperatifnya itu dengan dua syarat, yakni: Pertama, jika beliau sudah
dieksekusi, maka Belanda harus angkat kaki dari Guluk-Guluk. Kedua, beri beliau
kesempatan untuk shalat sebelum dieksekusi. Belanda berjanji akan memenuhi
kedua permintaan Kiai Sajjad tersebut.
Malam itu, suasana di Kemisan
benar-benar kaku dan mencekam. Masyarakat tidak ada yang berani keluar rumah
dan menampakkan diri karena Belanda memberlakukan Jam Malam. Mereka hanya
mengendap-endap di kegelapan malam.

Kiai Sajjad dibawa ke sebuah tanah lapang. Di tempat yang sudah ditentukan oleh
Belanda, Kiai Sajjad melaksanakan shalat sunnah. Beliau shalat dengan sangat
khusyu’. Belanda hanya mengawasi dengan seksama. Setelah salam, Kiai Sajjad
berdiri dan shalat lagi. Terus begitu sampai beberapa salam. Serdadu Belanda
mulai gusar dan tak sabar menunggu shalat yang tak kunjung selesai itu. Merasa
dipermainkan, seorang serdadu Belanda mengambil sikap seraya mengokang senjata
laras panjangnya. Ia membidik Kiai Sajjad yang sedang shalat. Dan… Dor dor
dor…!!! Tiga tembakan senapan menyalak memecah keheningan malam. Darah
bersimbah membasahi sekujur tubuh Kiai Sajjad. Tiga butir timah panas menerjang
menembus dadanya. Tubuh itupun tersungkur dalam posisi sujud menghadap Sang
Ilahi. 
Oh… Darah itu…!
Demi melepas belenggu Ibu Pertiwi…
Dan masa depan anak-anak negeri…
Sang Syahid itu rela mengorbankan diri…
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un…!
Belanda tersenyum puas melihat jenazah Kiai Sajjad, dan di balik rimbun
semak-semak di sana ada beberapa pasang mata yang tersenyum dalam.
Menurut Kiai Rahman, tempat shalat sekaligus tempat eksekusi Kiai Sajjad adalah
di sebuah tempat yang sekarang dibangun tugu pahlawan. Setelah wafat, tubuh
Kiai Sajjad diseret dan dibuang ke pojok lapangan Kemisan, yang dulu pernah
dibangun gardu dari kayu dan bambu.
Secara sembunyi-sembunyi, beberapa
warga dan pihak keluarga ‘mencuri’ jenazah Kiai Sajjad untuk kemudian dibawa ke
Pesantren Annuqayah. Bau wangi semerbak tercium dari darah Sang Syahid.
Sesampainya di Annuqayah, jenazah beliau langsung dishalati di Masjid
Annuqayah, Kiai Ilyas bertindak sebagai imam shalat. Lalu jenazah beliau
disemayamkan di selatan pesantren. Lahul fatihah…!

Begitulah kisah Sang Syahid yang wafat karena pengkhianatan bangsanya sendiri,
bukan karena hebatnya penjajah. Memang, setiap perjuangan akan melahirkan
pahlawan sekaligus pengkhianat. Tapi, setiap perbuatan akan memiliki
konsekuensi tersendiri. Terbukti, berkat perjuangan Sang Syahid, kini Annuqayah
menjadi pondok pesantren terbesar di Madura. Tak kurang dari 10.000 santri yang
menuntut ilmu setiap hari di pesantren ini, mulai dari tingkat TK hingga PT.
 
Wallahu a’lam bi al-shawab
Dirgahayu Republik Indonesia
Tercinta…!
Pamekasan, 4 Agustus 2019. 
(Ahmad Fauzan Rofiq)

Tulisan ini sebelumnya terbit di NU Online

Related Posts