Kenapa Syi’ah Perlu Dibela?

Penulis: Adi Abdulrohman
Kamis 31 Oktober 2019

yip



Atorcator.Com – Kenapa syi’ah perlu dibela? Karena, minimal para ulama yang berkumpul di Amman—dalam Risalah Amman 9 November 2004—menyatakan bahwa Syi’ah adalah satu diantara madzhab Islam. Oleh karena itu, berdasarkan ijma’ ulama itu, kami pun mengatakan bahwa Syi’ah juga bagian dari Islam. Titik.


Tapi, kami heran, kenapa sampai sekarang isu Syi’ah sesat, bahkan kufur, masih saja diimani. Apa tidak pernah membaca bahwa dalam kutub sittah hadis-hadis riwayat ulama Syi’ah banyak diriwayatkan? Bacalah di sana ada puluhan ulama Syiah yang jalur periwayatannya dipakai dalam kitab-kitab kita, Ahlussunnah.


Ada nama Ubaidullah bin Musa Al-‘Absi, yang hadis-hadisnya diriwayatkan lagi Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibn Majah. Para ulama mengatakannya sebagai Rafidhi Shaduq (Syi’ah dan dapat Dipercaya). ‘Abbad bin Ya’qub al-Rawajini, hadisnya diriwayatkan lagi dalam Shahih Bukhari, Shahih al-Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah. Juga dikatakan sebagai Rafidhi Shaduq. Dan seterusnya.


Pertanyaannya, jika Syi’ah harus diusir dari masjid—seperti ucapan yang terhormat Ustadz Abdul Somad, kenapa Ijma’ Ulama seluruh dunia dalam Risalah Amman 2004 (yang belum pernah baca silakan googling), Syiah dinyatakan sebagai madzhab dalam Islam? Kenapa juga Ibnu Khalikan dalam Wafayat al-A’yan yang menyatakan bahwa Syarif Radhi (seorang penulis kitab Nahju al-Balaghah) adalah seorang muslim yang mengislamkan Abul Hasan Mihyar bin Marzawaih (seorang penulis Majusi dari Persia)? Kenapa juga al-Dzahabi dalam kitab al-Ibar fi Khabar Man Ghabar, juga menceritakan kejadian seperti yang diceritakan dalam Wafayatul A-yan tersebut?


Antum lihat sendiri, Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, Ibnu Khalikan, al-Dzahabi, para muhaddis seperti Ibnu Hajar, Ibn Main, Ibn Adi, bahkan Imam Syafi’i, dll, juga para ulama dalam Risalah Amman (dimana di sana juga hadir Syakh Ali Jumuah, gurunya Ustadz Abdul Somad), semua menyatakan Syi’ah adalah muslim yang hadis-hadis riwayatnya bisa dipakai. Argumentasi apa pun yang mengkafirkan atau menyesatkan mereka seharusnya konsisten untuk tidak memakai hadis-hadis dan kitab dari para ulama yang menganggap Syi’ah itu muslim yang shaduq.


Apalagi jika kami berikan satu lagi informasi, tapi Anda-anda masih saja mengafir-sesatkan Syi’ah, kami bertambah heran lagi.


Ini kami berikan sebuah informasi yang disepakati oleh para ulama sejarah (al-mu’arrikh) bahwa  al-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam Nubala’ mencatat bahwa penyusun Ilmu Nahwu dan harakat serta titik dalam bahasa Arab dan al-Quran, yaitu Abul Aswad al-Duali, adalah seorang Syi’ah yang menonjol. Abul Aswad ikut perang Jamal berada di pihak Imam Ali. Begini bunyi naskahnya:


قاتل أبو الأسود يوم الجمل مع علي بن أبي طالب وكان من وجوه الشيعة ومن أكملهم عقلا ورأيا وقد أمره علي رضي الله عنه بوضع شيء في النحو لما سمع اللحن.



Artinya: Abul Aswad ikut berperang pada hari perang Jamal bersama Ali bin Abi Thalib. Abul Aswad termasuk pembesar Syiah yang paling sempurna akal dan pemikirannya. Ali bin Abi Thalib telah memerintahkannya menulis ilmu nahwu setelah mendengar kesalahan dalam perkataan bahasa Arab dari kebanyakan orang.


Tidak hanya dalam Siyar A’lam al-Nubala’, juga dalam Mausu’ah Tarikh Aqbath Mishr dan al-Durar al-Siniyyah dijelaskan bahwa Abul Aswad adalah Syiah yang berpandangan bahwa kekhilafahan adalah haknya Ali bin Abi Thalib, yang berarti bahwa Abul Aswad adalah seorang Rafidhi.


Setelah mengetahui informasi ini, masihkah Anda memandang bahwa Syi’ah itu sesat? Abul Aswad juga yang telah meletakkan tanda baca (titik untuk huruf Arab). Tanpa tanda-tanda ini, dipastikan akan sangat sulit membaca Al-Quran. Dengan diletakkannya tanda baca ini, Anda semua dapat membaca Al-Quran dengan mudah. Dengan demikian, maka Anda semua telah berhutang ilmu kepada orang Syi’ah ini.


Sekarang, siapa yang Anda mau percayai, para ulama yang berkumpul di Risalah Amman, para Ulama Hadis, Imam Syafi’i, atau Al-Mukarrom Ustadz Abdul Somad seorang diri bisa mengalahkan semua ulama itu?

Related Posts