Santri dan Panggung yang Berbeda-Beda

Penulis: Moh. Syahri
Selasa 22 Oktober 2019 01:00

NU-Online



Atorcator.Com – Setiap orang pasti punya panggung masing-masing. Tak terkecuali santri itu sendiri.  Dan setiap panggung selalu akan melahirkan mahabintangnya sendiri-sendiri. Panggung tinju pasti akan berbeda dengan panggung sepakbola. Panggung tinju bisa menghadirkan sekelas petinju misalkan Crisjhon dengan kekuatan dan cara dia sendiri. Panggung sepakbola ada Cristiano Ronaldo dengan keahlian, teknik dan skill dia yang mumpuni dan nyaris tak bisa tertandingi oleh siapapun.


Dan santri itu punya panggung masing-masing. Tidak bisa santri dituntut untuk eksis dalam satu panggung keahlian. Sementara di sisi lain, ia punya keahlian khusus yang bisa berkiprah sebagai pionir sekaligus penggerak peradaban dunia. Santri bisa menjadi penggerak dunia dari segala sektor kehidupan.


Ada banyak contoh santri Indonesia yang sudah berkiprah di panggung mereka masing-masing. Ada yang di panggung politik, Seperti Gus Taj Yasin Maimoen sebagai wakil Gubernur Jawa tengah, dan TGB Zainul Majdi sebagai gubernur terpilih dua periode di NTB. Ada yang berkiprah dalam bidang usaha perekonomian Seperti ust. Yusuf Mansur yang sebagian orang mengatakan bahwa Yusuf Mansur adalah teladan bagi generasi milenial karena berhasil meluncurkan Paytren dan masih ada waktu berdakwah lewat lisan melalui jalur televisi. Dan masih banyak contoh lain di bidang musik dan konten-konten video dakwah dan shalawat kontemporer yang sudah memiliki jutaan Viewer dan tak mungkin saya sebutkan satu persatu.


Dan ini menunjukkan bahwa santri punya panggung banyak dan besar untuk berkiprah sebagai penggerak dunia. Tidak hanya sekadar mengaji dan menghafal Alquran saja. Komponen-komponen bangsa harus bisa diisi oleh santri yang sedikit banyak punya basis keilmuan agama yang kuat dan paham tentang konsep keberkahan hidup dan ilmu.


Kemanfaatan seorang santri tidak punya batas dan tidak perlu dibatasi. Karenanya harus bisa bermanfaat dari berbagai lini kehidupan. Pintar ngaji, pintar mendesain, pintar membuat video dan konten-konten keislaman yang baik dan ramah, pintar politik, pintar berdagang, pintar menulis tentang ilmu keislaman, ini adalah profesi dan keahlian yang dibutuhkan di zaman sekarang. Kaum santri dituntut untuk kreatif dan inovatif serta fleksibel dalam berpikir dan bertindak.


Islam itu satu. Tapi peluang barakah pekerjaannya itu banyak. Dan itu berbanding lurus dengan mazhabnya yang juga banyak dan bebas memilihnya.


Kiprah santri yang bisa demikian itu sangat sesuai dengan pesan nabi Ya’kub AS dalam surat Yusuf 12:67 ” Wahai puteraku, janganlah kalian masuk dalam satu pintu gerbang saja, namun masuklah dari pintu gerbang yang beranekaragam”


Santri biasanya tidak pilih-pilih kerja, tidak melulu mengajar. Gus Ach. Dhofir Zuhry dalam bukunya “Peradaban Sarung” mengatakan, pada suatu hari, dia pernah menemukan salah satu buku kiainya yang isinya nyaris isinya sangat mencengangkan dan mengerikan, bahwa lebih dari 90% penduduk bumi ini membenci pekerjaannya dan rutinitas mereka. Artinya apa ? Sebagai kaum santri yang tidak hanya didik mencintai agama dan belajar agama juga harus mencintai pekerjaan yang kita tekuni. Sebab hidup itu memang perjuangan dan pertarungan untuk bertahan hidup demi kemanfaatan hidup.


Jika santri berani mengorbitkan keahliannya di bidang masing-masing tanpa harus ditekan dengan keahlian lain yang sebenarnya mereka tidak mampu dengan keahlian itu, maka status santri dan peran santri tidak akan pernah lekang oleh zaman. Karena pada hakikatnya santri punya panggung masing-masing. Jika saya analogikan dengan contoh di atas tadi, Crisjhon sudah pasti mati kutu kalau disuruh menendang bola dengan teknis sekelas Ronaldo, begitu juga sebaliknya.


Harapan terakhir, santri yang ahli dalam kitab dan agama, jangan segan-segan untuk terus berkolaborasi dengan santri yang ahli YouTube dan desain grafis dalam membuat konten-konten keislaman dan keahlian lain. Ini sinergi yang bagus dan harus terus digalakkan antara santri yang memiliki kompetensi keilmuan khusus di bidang masing-masing untuk terus berdakwah melalui media yang sudah marak digunakan oleh manusia modern.

Related Posts