Meriahnya Perayaan Maulid Nabi di Madura Selama Sebulan Penuh

Penulis: Moh. Mizan Asrori

Sabtu 16 Nopember 2019

Atorcator.Com – Soal urusan cinta mencintai, orang Madura jagonya. Kalau sudah menyatakan cinta, suku yang identik dengan baju loreng merah-putih ini bisa sampai mempertaruhkan nyawanya demi membuktikan kesetiaannya. Seperti “Carok” yang esensinya adalah mempertahankan kehormatan diri. Carok adalah duel tanding satu lawan satu. Carok sering terjadi dalam kasus seorang suami membela kehormatan istrinya yang diganggu lelaki lain.

Tapi artikel ini sedang tidak akan membahas carok panjang lebar. Ia hanya pengantar awal sebagai penguat bukti kecintaan orang Madura pada suatu hal bukan main-main. Hal ini juga terlihat pada kecintaan orang Madura kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Perayaan Maulid Nabi di Madura digelar secara meriah. Layaknya sedang menyelenggarakan pesta resepsi pernikahan. Sound system dibunyikan, lagu-lagu bernuansa religi diputar. Undangan berdatangan dan penabuh terbang tinggal menunggu waktu untuk beraksi.

Shalawat dibacakan dengan berbagai irama lagu. Suguhan pun memadati celah-celah yang kosong di hadapan tamu undangan. Saking penuhnya dengan hidangan buah-buahan, ketan, dan jenis minuman pemuas dahaga, orang akan kesulitan lewat di depan hadirin.

Bermacam-macam buah-buahan, dari yang biasa terlihat sehari-hari, seperti pisang, sampai buah yang jarang sekali dinikmati masyarakat pedesaan selain hari-hari tertentu. Seperti buah pir, manggis, anggur, semuanya tumpah ruah disajikan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu mulia yang hadir dalam rangka turut bergembira dengan datangnya bulan kelahiran Baginda Nabi.

Pelaksanaan peringatan semeriah ini kadang dilakukan bersama-sama oleh satu komplek perkampungan atau dusun. Banyak juga yang diselenggarakan sendiri di rumah masing-masing. Tentunya tidak bersamaan dalam satu hari saja. Peringatan Maulid Nabi di Madura bisa sampai sebulan penuh. Setiap hari undangan maulid mencapai 3-5 kali dalam satu desa atau satu dusun saja. Terbayang betapa penuhnya perut dengan makanan-makanan lezat penggugah selera.

Orang desa (juga perkotaan) di Madura tak meributkan soal dalil perayaan Maulid Nabi. Bagi mereka, tradisi merayakan hari kelahiran seorang manusia agung ini sudah turun-temurun sejak nenek moyang mereka. Meski harus merogoh kocek sangat dalam untuk membeli kebutuhan, tak ada keluhan terlontar.

Apakah Maulid Nabi tiba setelah panen tembakau, saat di mana orang Madura memiliki uang hasil penjualan tembakau, atau tidak itu tak menjadi soal. Musim pertanian tak memengaruhi kesemarakan perayaan Maulid Nabi di pojok-pojok kampung dan di musala-musala warga.

Segenap handai tolan, tetangga, dan kerabat diundang hadir untuk membaca shalawat yang berisi pujian-pujian kepada Nabi Muhammad. Mereka kompak mendatangi tempat hajatan dilaksanakan. Hajatan umat dalam rangka mengingat kembali perjuangan seorang pembawa lentera perdamaian dan penuntun pada jalan kebenaran. Sebuah perjalanan hidup yang penuh suka-duka, disesaki aral melintang, dan banyak duri-duri menghadang.

Manakala hari kelahiran anak sendiri dirayakan dengan begitu meriah, kenapa kita masih ragu untuk memperingati hari kelahiran manusia paling mulia yang di akhir hayatnya saja masih memikirkan kita? Maka tak heran, jika orang Madura sangat bergembira kembali bisa bersua dengan bulan Maulid Nabi dan berdoa untuk bisa sampai lagi tahun depan di bulan penuh berkah ini.

Ekspresi kebahagiaan yang tiada tara ditunjukkan dengan menjamu para tamu undangan dengan buah-buahan terbaik dan hidangan paling lezat yang dimasak dengan bumbu cinta. Membahas soal hidangan Maulid Nabi, saya jadi teringat dawuh seorang ulama Al-Azhar Kairo Mesir, Syaikh Yusri Rusydi Sayid Jabr Al-Hasani Al-Azhari, “Jangan pernah membiarkan begitu saja makanan maulid. Makanlah! Makanan maulid makanan terlezat di dunia ini, karena dimasak dan dihidangkan dengan bumbu dan rasa cinta kepada kekasih mulia, yaitu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam.”

Di bulan Maulid Nabi, jarak antara si miskin dan si kaya sangat tipis. Semua lapisan masyarakat duduk bersama, melafalkan ungkapan mutiara kepada sang kekasih, dan bercengkerama memulangkan rindu serta berhenti sejenak dari aktivitas seharian yang melelahkan.

Silakan berkunjung ke Madura di bulan Maulid Nabi. Jangan lupa siapkan stamina Anda untuk hadir di acara Maulid Nabi 3-5 kali dalam sehari. Tak hanya hadir, tentu harus menyantap hidangan yang sudah disajikan tuan rumah.


Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa ‘Ala Alihi Wa Shahbihi.

*)Moh. Mizan Asrori Penyuka lantunan shalawat Nabi yang masih terus belajar menjadi seperti Nabi, meski entah kapan akan benar-benar mampu meneladani Nabi seutuhnya. Bisa dihubungi melalui Instagram @mizan_arjuna atau Facebook Moh Mizan Asrori.

Related Posts