Aku ini Anak Desa

Foto: mengendarai becak tempur

Penulis: Moh Syahri

Anak desa atau sebutan wong ndeso kerap kali menjadi sorotan anak terbelakang dan lebih tepatnya dikonotasikan sebagai anak yang negatif, jauh dari peradaban dan perilakunya cenderung kelihatan tak berwibawa dan sering tak dipedulikan. Namun jika kita menoleh sejarah tokoh figur terkenal yang sering menjadi sosok inspiratif kebanyakan adalah orang desa/wong ndeso. Ini yang menjadi motivasi saya.

Bagi saya, jadi anak desa atau wong ndeso sama sekali tidak pernah menyurutkan semangat untuk tetap belajar dan menyongsong masa depan yang lebih baik. Saya punya komitmen untuk merubah paradigma buruk yang sering di capkan kepada anak desa bahwa anak desa tidak seperti apa yang digambarkan kebanyakan orang.

Saya bersyukur sekali dilahirkan di desa yang sarat dengan edukasi keagamaan. Tak heran jika banyak anak desa pinter mengaji, baca Al-Qur’an lancar, suka menolong dan gotong royong antar sesama karena didalam kehidupannya dari sejak kecil ia sudah digembleng untuk ngaji, belajar agama ke surau-surau sampai bermalam di surau tersebut dikarena paginya masih ada jadwal mengaji kembali dilanjutkan dengan bersih-bersih atau ro’an demi mengalap berkah dari sang guru.

Menoleh sejarah para leluhur anak desa atau wong deso itu banyak yang menjadi pejuang yang gigih dan ulet, pekerja keras tak peduli dengan teriknya matahari yang menyengat kulit demi mempertahankan hidupnya dan demi anak cucunya. Dan ini perlu kita teladani, walaupun fasenya sudah berbeda. Tapi yang namanya perjuangan tak akan pernah habis dan selesai sampai pada titik darah penghabisan.

Menjadi kebanggaan tersendiri ketika saya di ajak berkebun dan bertani oleh orang tua dulu. Mengiringi kerbau-kerbau yang siap bertempur untuk membajak sawah, suasana yang begitu indah sekali untuk dinikmati serta pemandangan yang begitu sangat memukau. Banyak hal yang dapet kita ambil pelajaran. Betapa keras hidup ini, jika hidup ini harus didiamkan maka tunggulah kehancuran. Benar apa kata pak Hari bapak kostku dulu di jogja “Hidup ini keras nak kamu ini anak desa harus lari jangan melaku, kalau anak kota punya modal uang maka kamu harus punya modal keberanian dan tekad yang kuat sehingga kamu tidak hanya bisa mengimbangi tapi bisa melebihi”

Hidup di sebuah desa dengan alam yang indah, adem, penuh dengan pepohonan memiliki kesan tersendiri bagi saya. Belajar memahami ayat-ayat Allah SWT tidak melulu dengan pendidikan formal tapi dengan pengalaman dan perjalanan seperti halnya di desa. Bunyi jangkrik, katak, dan hewan-hewan lain mewarnai suasana yang hening menjadi rame dan terhibur. Inilah doktrin pertama yang terus ditanamkan kepada anak desa, ketauhidan, akhlak, dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Sangat senang sekali ketika saya pernah diajak ke pasar untuk berjualan saat liburan sekolah, dimana saat pertama kali saya di ajak harus berjalan kaki dengan jarak tempuh 6 KM. Saya tidak peduli meskipun harus jalan kaki, karena momem seperti itu jarang sekali ada, mumpung liburan dan kebetulan di ajak. Bisa sampai ke pasar merupakan rasa gembira yang tak bisa tergantikan oleh apapun. Belanja peralatan dapur untuk sekeluarga dan persiapan hidup sehari-harinya.

Anak desa atau wong ndeso jauh sekali dari ajakan manja dan memanjakan, tidak pernah segan-segan menegur ketika ada kesalahan dan siap menerima teguran ketika salah. Kasalahan dan perilaku buruk yang sering memicu terjadinya pertengkaran di antara teman-temannya tidak ada pembelaan dari orang tua masing-masing bahkan kadang anaknya sendiri yang di salahkan. Pendidikan seperti ini sangatlah penting untuk diterapkan supaya anak kita tidak terus manja, bisa mandiri, dan memiliki rasa kesadaran.

Untuk membeli baju baru, saya dulu harus menunggu lebaran tiba. Jadi bisa dibilang beli baju baru satu kali setahun. Untuk baju sehari-harinya, saya memakai bekas baju kakak saya yang masih layak dipakai. Dengan seperti itu, saya benar-benar merasakan betapa senangnya di hari yang penuh istimewa dan kemenangan itu bisa beli baju baru dan bercanda ria dengan teman-teman sebaya. Rasanya memang perlu jeda lama untuk menyenangkan hati dengan rasa syukur yang mendalam.

Saya hidup dalam keluarga yang sederhana, makanan seadanya, tidak perlu mewah dan nikmat yang penting berkah. Keluarga sering mengajarkan kesederhanaan dalam hidup. Tidak perlu tergiur dengan orang lain yang sudah melambung tinggi syukuri apa adanya. Sebab kenikmatan itu ada pada rasa syukur kita.

Hidup apa adanya bukan berarti miskin. Dalam diri ini tidak ada istilah miskin. Anak desa harus punya mental kaya walupun hidup sederhana dan apa adanya.

Santri Mahasiswa Al-hikam Malang

Related Posts