Membunuh Agama

 

Merdeka.Com

Penulis: Fadly
Abu Zayyan
Atorcator.Com
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”
Kutipan ayat di
atas saya ambil dari QS Al Qashah 77. Hanya dari satu ayat ini saja, seakan
mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia. Mulai kebutuhan spritual sampai
materialnya. Termasuk jangan sampai kita melakukan kerusakan di muka bumi
(perang, teror dsb) jika diterjemahkan lebih luas.
Begitu
lengkapnya ajaran (tuntunan) Agama dalam kehidupan kita. Dan yang pasti, semua
Agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Saya mengambil contoh dari perspektif
Islam karena saya seorang Muslim. Kita diberikan motivasi (semangat) untuk
mengejar materi, disisi lain diajarkan untuk tidak materialistis. Selain itu
juga diajarkan untuk peduli dan kasih pada sesama.
Namun ada juga
golongan manusia yang menganggap Agama adalah penghalang bagi rencana besar
mereka. Rencana penguasaan materi (Sumber Daya) yang tanpa batas. Konsep
kebahagiaan hanya bisa diwujudkan dengan kesejahteraan materi. Meskipun itu
harus ditempuh melalui jalan perang. Bahkan peperangan (konflik) pada akhirnya
juga dianggap sebagai jalan kesejahteraan karena mampu menghasilkan komoditas
peralatan perang. Hal ini sekaligus sebagai cara untuk menyingkirkan para
penghalang (Agama). Maka dari itu konflik harus dipelihara. Salah satu
tujuannya yaitu untuk Membunuh Agama.
Mereka juga
menciptakan berbagai ideologi yang (sebenarnya) juga mereka sadari takkan
pernah mampu menandingi Kitab Suci. Tujuannya hanya untuk dipertentangkan satu
(ideologi) dengan yang lain agar menjadi konflik abadi. Kapitalis seolah takkan
pernah berkompromi dengan Sosialis. Padahal Agama mengajarkan manusia untuk
menjadi “Kapitalis” sekaligus “Sosialis” dalam takaran yang
terukur. Para intelektual juga didesain sibuk pada diskursus pertentangan.
Semakin tinggi derajat akademisnya, kadang justru digiring dan disibukkan pada
cabang bahkan ranting ilmu yang semakin spesifik. Sebaliknya di dalam Agama,
semakin tinggi pemahamannya, maka individu akan mengarah pada sebuah pengetahuan
dan pemahaman yang Universal. Sebuah Hakekat yang menuju puncak kesadaran bahwa
Agama hanya sebagai jalan dan sarana.
Akhirnya,
satu-satunya jalan untuk Membunuh Agama adalah melalui Agama itu sendiri.
Ajaran Agama yang Universal menjadi dikerdilkan. Ia hanya akan berkutat pada
simbol-simbol. Dalil “Duniawi” diadu dengan “Dunia hanya senda
gurau dan sementara”. Keindahan dan keberagaman dibunuh dengan
keseragaman. Bahkan pakaianpun harus sama tanpa warna. Pemahaman dalil kontekstual
dibunuh oleh kebenaran tekstual. Akhirnya terwujudlah “monster” yang
bernama Radikalisme Agama.
Begitu juga
sebaliknya, logika diTuhankan hingga akhirnya yang Ada menjadi Tiada. Mereka
beranggapan bahwa Agama hanyalah dogma sekaligus lelucon belaka. Takbir
dilecehkan menjadi Take Beer. Jihad menjadi Jahat. Syahid menjadi Sangit, dan
masih banyak contoh lainnya. Disinilah juga tercipta “monster” lain
bernama Radikalisme Sekuler yang siap diadu dengan Radikalisme Agama. At least,
keduanya sama-sama bighot dan bisa dimanfaatkan untuk memelihara konflik!
Jadi, jika
pasca rentetan kejadian teror yang mengatasnamakan Agama membuat kita menjadi
membenci Agama, berarti kita masuk dalam perangkap Radikalisme Sekuler. Begitu
juga sebaliknya, jika muncul keinginan untuk membalas pada kelompok (Agama)
lain, bukan kepada pelakunya, bisa jadi kita terperangkap dalam skenario
Radikalisme Agama. Satu-satunya cara adalah mengutuk, mencegah bahkan melawan
terorisme itu sendiri. Tak peduli atas nama apapun saat ia muncul.
Dan jangan lupa
yang terpenting adalah mengembalikan Agama kepada marwahnya. Menuju pada
puncaknya. Yaitu Rahman dan Rahim, Kasih dan Sayang. Melalui
tuntunan Agama yang universal dan bukan yang sempit. Dengan begitu,
pendulum Kekerasan dan Terorisme dalam benang Radikalisme Agama dan Radikalisme
Sekuler akan mampu kita putus!

Semoga

Related Posts