Halah Ngomong Aja Kok Nggaya……

Foto: matanews.com

Saya akan bernyanyi terlebih dahulu biar suasananya adem dan menghibur, yang tak terhibur segera menghibur diri, hehehe. Kali ini saya akan membawakan sebuah lagu dari Matta Band: cieeeekidootttttttttttt

Memang lidah tak bertulang
Lain di mulut lain di hati
Seperti kau yang tak pernah bisa
Ku percaya lagi


Mulutmu bilang A, hatimu bilang B
Lebih baik ku tinggalin kamu.

Kalau mojok pernah memuat tulisan yang berjudul “Halah nulis aja kok nggaya” maka kali ini saya juga akan mengangkat judul yang hampir sama tapi beda (bingung ya….. sengaja emang) Dan saya pikir ini penting untuk untuk diluruskan dan diperbaiki.

Memang menjaga pikiran itu jauh lebih penting dari menjaga tubuh, sebab kondisi tubuh tergantung dari kondisi pikiran. Dan yang tak kalah penting adalah menjaga mulut, jadi tak heran jika ada slogan “mulutmu harimaumu”  karena mulut memang bisa memakan ratusa bahkan jutaan orang gara-gara mulut tidak bisa terkontrol dan dikendalikan. Hati-hati.

Jika mulut/lisan bicara di Indonesia maka boleh jadi biasnya sampai ke Arab Saudi apalagi sekarang sudah difasilitasi oleh teknologi informasi yang canggih. Dengan demikian, Lebih baik saya dipukul aja pakek palu tapi ente harus ke Arab Saudi dulu, hehehe. Betul apa gak? Lebih baik sakit tangan dengan pukulan dari pada sakit hati dengan ucapan. Mulut itu memang memiliki magnet yang kuat dan berbisa seperti ular, menyengat dan tapi kadang juga bergizi.

Kita bisa berkaca pada kasus Ahok tempo dulu gara-gara mulutnya yang dianggap menistakan agama Islam dia sudah membangunkan seluruh umat Islam dunia dari tidurnya. Mulut ini memang ngerri…..bukan berarti mulut tidak berguna dan bermanfaat justru mulutlah yang membuat kita bisa bicara dan berinteraksi dengan sesama. Tapi ingat pesan Rasulullah Saw ” barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka berkatalah dengan baik atau diam saja” ini jelas Rasullullah mengajarkan kita agar supaya mulut ini terus dijaga dengan baik sehingga tidak mudah menyakiti hati orang lain dengan mulut.

Akhir-akhir ini banyak sekali lisan ataupun mulut menjadi motor penggerak kepuasan pelanggan, lebih dari itu menjadi tontonan yang seakan-akan bikin semangat tapi hakikatnya tak bermanfaat. Kadang mulut ini mudah keluar kata-kata karena ada kebutuhan yang bersifat komersial, meskipun harus menghujat, menfitnah dan mengolok-olok sesama tak dihiraukan.

Boleh kita berorasi dengan lantang dan keras demi menegakkan keadilan dan kebenaran, tapi ingatlah bagaimana cara menyampaikan orasi itu dengan baik dan benar tanpa harus menyudutkan salah satu pihak.

Neh…… Saya kasih tau, saya sudah 3 tahunan jadi seorang pembicara dan orator meskipun bukan orator ulung, tahun 2013 semenjak SMA kelas 2 saya sering di ajak demo ke depan kantor DPRD kabupaten Sumenep bersama anggota PMII. Disitu saya di ajak menyampaikan sebuah aspirasi dengan suara lantang dan keras. Sebab jika tidak demikian, aspirasi kita tidak bisa ditanggapi oleh anggota DPRD, suara lantang dan keras waktu itu sangat menentukan keberhasilan tujuan kita berdemo. Wahhhh namanya juga anak muda,,,,,,,,bung,.,,,,,,,,,,pasti bangga lah jadi orator, dilirik orang ” oh berani sekali ya…..hebat retorikanya bagus”. Emang menantu idaman itu yang retorikanya bagus ta…..? Nggak juga katanya menantu idaman adalah penulis. Hahahaha 😀😀

Waktu itu saya sudah menyadari bahwa demo waktu itu hanyalah sebuah ambisi yang berdasarkan nafsu belaka. Didalam demo itu saya menyampaikan beberapa kebijakan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berhasil memasuki kantor DPRD dengan sambutan yang luar biasa, bahkan disuguhi beberapa makanan yang begitu istimewa. No…… makanan no makanan………..ya dirumah mah gak ada makanan seperti itu kang, tanpa berpikir panjang makanan itu habis tak tersisa. Namun permintaan itu tidak membuahkan hasil apa-apa dan tidak ditindaklanjuti. Ya alhamdulillah hanya dapet makanan kenyang. Jadi gak terlalu rugi lah…Hihihihihi.

Bicara atau ngomong kalau tidak berangkat dari hati yang bersih dan ikhlas maka tidak akan membuahkan hasil yang bersih juga. Jika hanya pikiran yang menjadi landasan teori pembicaraan maka cenderung menimbulkan perselisihan dan pertikaian. Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, “Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus pula hatinya, dan tiada akan lurus hatinya, sehingga lurus pula lidahnya. Dan seorang hamba tidak akan memasuki syurga, selagi tetangganya belum aman dari kejahatannya.” 

Yahya bin Mu’adz pernah mengatakan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir “Hati itu laksana periuk, dan lisan adalah alat ciduknya. Maka lihatlah seseorang jika sedang berbicara. Pada saat berbicara seperti sedang menciduki apa-apa yang terdapat di dalam hatinya. Dia bisa manis atau kecut, bisa tawar atau asin. Maka pembicaraan itu mencerminkan isi hati dia”

Keadaan seperti di atas ini bisa terjadi dalam forum diskusi atau rapat. Karena didalamnya sering terjadi perdebatan yang panjang demi mempertahankan pendapatnya sendiri. Ini sesuatu yang wajar-wajar saja sebenarnya. Yang terpenting adalah dalam diskusi ataupun rapat, jika kita benar-benar salah secara aturan kita harus menyadari bahwa kita salah. Jangan ngotot dengan kesalahan. Sehingga tidak sampai menimbulkan perselisihan dan pertikaian yang bisa menumpahkan darah. Rasanya sulit jika dalam suasana panas dan mencekam.

Imam Ghazali tokoh tasawuf terkenal pernah berkata ” Didalam perdebatan dan perlawanan yang condong membuat orang merasa nggaya dengan retorikanya. Maka bisa dipastikan didalam pembicaraan itu ada sebuah kebencian dan pembodohan dan kotoran sehingga didalam pembicaraan itu timbul pembelaan diri, merasa suci dengan bertambahnya kepintaran dan ilmu. Naudzulbillah.

Saya sebenarnya pengin sekali ngomong dan berbicara yang ilmiah layaknya pak Mahfud MD. Mungkin seperti pak Mahfud MD lah yang pantas disebut nggaya, karena terlihat betul bagaimana beliau ngomong sehingga respon dan reaksi masyarakat itu nyata, benar-benar merasakan baiknya pembicaraan beliau.

Terakhir, ngomong di forum diskusi aja sudah nggayanya minta ampun kayak sudah jadi pahlawan… cobalah sekali-kali ngomong di ILC atau di Mata Najwa mungkin akan lebih nggaya…..dan menarik. Hitung-hitung terkenal lah. Lihat saja abu janda dulu wah……setingkat abu janda aja sudah Pernah tampil di ILC loh ya masak kamu nggak. Biar lebih nggaya loh maksudnya.

Wallahu a’lam bisshowab

Santri Mahasiswa Al-hikam Malang

Related Posts