Memahami Makna Pujian dan Cacian

Foto: dadedo.com


Atorcator.Com – Pernahkah anda dipuji  orang ? Atau pernahkah anda dicaci orang ? Semua orang pasti mengalami dan tidak akan lepas dari semua itu. Pertanyaannya sekarang apakah itu semua membuat anda lebih semangat apa justru membuat inferior?


Untuk mengartikan pujian cacian, sebagian orang dilematis alias ambigu. Begitu pula efeknya. Tapi untuk saya pribadi, tidak, sebab pujian,cacian dan kritikan akan berpotensi mengundang prestasi, dan tidak menutup kemungkinan akan mendatangkan potensi-potensi yang lain. Maka penting sekali memandang sesuatu itu dari perspektif positif, dan efeknya pun akan menjadi positif.

Tidak semua orang suka dengan kita lebih-lebih karya kita, itu hal yang wajar. Nabi saja banyak yang gak menyukai bahkan banyak yang memusuhi. Pernahkah nabi Muhammad menyerah karena di caci? Jangan pernah bertanya “pernahkah nabi Muhammad dipuji?” Pujian yang datang tidak bisa kita hitung dengan jari. Pujian dan cacian kepada nabi Muhammad Saw itu hampir muncul di setiap perjuangannya tapi nabi tidak pernah menyerah terus berjuang sampai titik darah penghabisan

Saya adalah orang yang bisa dibilang sering mendapatkan apresiasi, walaupun dimata orang apresiasi itu tidak seberapa. Tetapi untuk saya pribadi apresiasi itu sangat luar biasa, dan cukup untuk disyukuri. Contoh apresiasi yang masih melekat dibenak saya sampai sekarang yaitu penobatan siswa teladan tingkat MI dan banyak apresiasi-apresiasi lain yang tidak perlu saya sebutkan, hihihi (nanti dikira pamer dan sombong). Untuk awal-awal kadang saya tidak terima dengan apresiasi seseorang, tetapi disisi lain apresiasi itu penting. Apakah harus ada prestasi untuk bisa diapresiasi? Ya harus, coba dech fikir-fikir, bagaimana mungkin orang akan mengapresiasi kita sedangkan kita tidak punya prestasi apa-apa! Untuk mendatangkan prestasi tidak harus dengan apresiasi, justru harus dengan depresiasi terlebih dahulu !

Dua tahun yang lalu , keinginan untuk menulis sudah ada dibenak saya, tapi sulit untuk menemukan inspirasi apalagi motivasi. Sehingga saya berusaha menemukan itu lewat internet, ya walaupun pada waktu itu hp saya masih jadul gak seperti sekarang ini, NOKIA E63, setidaknya masih bisa browsing lah walaupun kadang menjengkelkan loadingnya……..

Saya menemukan seorang penulis produktif disalah satu akun media, namanya Brilly agung. Tau toh brilly agung siapa! Yang gak tau Monggo di Googling aja disini https://briliagung.com. Saya langsung chat beliau, bahwa saya pengin jadi penulis. Namun dia enggan  menanggapi, ya maklum. saya mah siapa ! (Seharusnya saya sadar diri dong). Ditunggu beberapa bulan (bukan beberapa hari dan minggu lho ya) akhirnya dia membalas ” oke sampean nulis sekarang apa saja dan nanti kirim di email saya ini **************gmail.com ” .

Tanpa berpikir panjang Saya nulis dengan begitu giat dan rajin. Setelah selesai, saya kirim ke email dia. Saya menunggu respon dan tanggapannya berbulan-bulan lagi ” apa gak bosen menunggu sesuatu yang gak pasti ibarat menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Akhirnya dia bales juga bahkan dia sudah lupa dengan saya, dan tulisan saya dikomentari seperti ini ” ini hasil tulisan apa hasil cabikan ayam” ayo gimana perasaan anda jika karya anda dikomentari seperti itu, apa gak sakit. Sakit pasti , menyerah tidak, apalagi sampai membalas dendam atas cacian itu.

Beberapa hari yang lalu, saya ditelepon teman cewek (teman lho ya….) kakak kelas SMA dulu, dia sudah mau hampir lulus kuliahnya, dia dulu seorang yang terkenal dengan kepuitisannya dan sering juara di tingkat kota (pada zamannya sudah luar biasa dibanding saya). Setelah melakukan komunikasi panjang lebar dengan dia, saya sempatkan nanyak soal bakat dia yang pernah gemilang pada masanya. Saya kaget dengan jawaban dia, bahwa bakat yang pernah dia rasakan bahkan sudah bisa dibuktikan diberbagai event mengalami stagnasi. Padahal jurusan yang dia ambil tidak jauh bakat perannya dengan bakat itu, PBSI.

Saya sempatkan nanyak sekali lagi (penasaran aja bakat yang luar biasa kok bisa disia-siakan). Namun dia tidak mau cerita, yang jelas dia di kalimat terakhir tanpa dia sengaja mengatakan seperti ini ” saya ini cepat down kalau dicela orang”. Ini sudah cukup untuk mengidentifikasi kestagnasian bakat itu. Tapi saya pribadi tidak perlu menasehati dia secara langsung pada saat itu, cukup dengan tulisan ini saja.

Rata-rata orang besar dalam sejarah memiliki cara yang jitu untuk menyikapi celaan dan pujian yang disampaikan orang lain terhadap dirinya. Mereka seolah-olah punya imunitas yang cukup tinggi ketika kerjanya, presentasinya, langkah-langkahnya, dicela dan dipuji oleh orang lain.

Semua orang pasti ingin di puji, tidak mau dicela apalagi di kritik, ini sifat normal manusia. Hidup ini keras, keras dengan celaan, keras dengan pujian, keras dengan pekerjaan salah, keras dengan tantangan, keras dengan ancaman. Jika tidak mau dicela orang, ya, mati saja. Gampang toh…mati itu solusi yang cocok (bukan terbaik lho ya) untuk lepas dari beban hidup.

So, lakukan yang terbaik, sambil bermuhasabah. Jadikanlah itu semua sebagai cambuk untuk bangkit dari zona nyaman. Jadikanlah itu sebagai salah satu momentum untuk menjemput prestasi terbesar kita dimasa mendatang.

Percayalah, kita tidak akan pernah memuaskan semua orang. Pasti akan selalu ada yang muji dan nyaci. So, ambil sisi positifnya saja. Jangan sampai bikin kita lemes, loyo, letoy menggapai impian. Orang kerdil senang sekali jika bisa menemukan kesalahan orang besar.

Orang yang rendah derajatnya merasa senang sekali bila dapat menemukan kesalahan dan ketolololan orang besar (Schopenhauer).

Related Posts