Pengemis Profesi dan Pengemis Hakiki - Atorcator

Pengemis Profesi dan Pengemis Hakiki

Foto ilustrasi 

Atorcator.Com – Bicara soal pengemis, tentu tidak asing lagi didengar. Belakangan ini beredar sebuah video Sorang pengemis yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an di Care free Day dengan suara yang sangat merdu, seorang paruh baya memakai baju hitam celana putih panjang dan kopiah hitam. Di hadapan pengemis itu terdapat kaleng untuk menampung uang pemberian Waga.

(https://www.instagram.com/p/BgiBBgiB.wZ/?r=wa1)


Terjadi perdebatan diantara nitizen, sebaiknya bapak membuka les ngaji saja daripada ngamen menggunakan cara-cara seperti itu. Di lihat dari sisi tasawuf, Imam ghazali mengatakan bahwa “barang siapa yang menjual akhirat dengan dunia maka akadnya tidak sah dan dagangannya rugi” kalau melihat secara tekstual redaksi imam Ghazali ini, seakan-akan kita dilarang mengambil gaji dari hasil mengajar ilmu agama seperti dosen dan guru ngaji, apalagi sekarang tunjangan fungsional semakin banyak dan besar. Tetapi faktanya tidak ada larangan dalam hal itu, karena dibalik itu semua masih banyak unsur-unsur lain yang lebih urgen. Imam Ghazali mengajarkan kita untuk lebih hati-hati dalam urusan dunia, jangan sampai melakukan amal akhirat dengan tujuan mendapatkan dunia. Artinya jika bapak itu buka les hanya karena ingin mendapatkan uang maka itu rugi banget, walupun secara kasat mata nampaknya lebih terhormat.


Pengamen dengan cara yang seperti di video itu sebaiknya kita tinjau dan survei dari sisi ekonominya saja. Sebab kalau kita harus meng-klaim dia seorang penjual akhirat dengan agama tentu kita tidak tau pasti karena itu urusan hati. Apalagi bapak itu tidak memasang tarif, dan tidak memaksa. Mengemis memang perbuatan tercela, tetapi bukan berarti kita harus apatis dengan pengemis.


Kenapa harus di survei bukannya dia memang tidak mampu dan harus kita bantu? Tunggu dulu, pengemis seperti apa yang harus kita bantu menurut Rasullullah. Pertama, orang yang menanggung hutang orang lain sampai dia melunasinya, kemudian berhenti. Kedua, orang yang ditimpa musibah ,hartanya ludes, sampai dia mendapatkan sandaran hidup. Ketiga, orang yang ditimpa kesengsaraan hidup dengan adanya saksi tiga orang bahwa dia benar-benar sengsara, maka boleh meminta-minta sampai dia mendapatkan sandaran hidup.


Bisakah kita membedakan dari ketiga orang tersebut dalam setiap harinya, tentu akan sulit. Bagaimana jika kita salah memberi. Bisakah kita bertanggung jawab kelak padahal masih banyak orang yang membutuhkan di sekeliling kita. Nah ini nanti yang akan membedakan pengemis profesi dan pengemis hakiki. Jika pengemis itu terus meminta dan bolak-balik bahkan dibuat sandaran hidup, maka jelas itu dilarang. Tetapi jika pengemis itu hanya sekedar menutupi kebutuhan hidupnya yang keteteran, maka itu perlu dan wajib kita bantu. Maka dari itu kita harus benar-benar jeli dalam menyikapi hal seperti ini.


Di setiap perjalanan, saya sering berjumpa seorang pengemis ataupun pengamen. Disitu kadang saya merasa iba dan kadang merasa  jengkel. Bagaimana tidak jengkel, pada suatu hari saya mau ngambil uang di salah satu ATM terdekat, disitu saya ngantri berjam-jam karena setahu saya hanya ATM itulah yang bisa ngambil uang 50.000, iya terpaksa saya harus ngantri berjam-jam demi menghidupi diri. Disela-sela antrian ada seorang pengemis datang ke saya dengan membawa amplop. Karena saya belom punya uang sama sekali untuk dikasih, maka saya tolak amplop itu dengan permintaan maaf terlebih dahulu, tapi apa yang terjadi. Dia malah-malah ngomel-ngomel gak jelas dan kelihatan marah. Dia seakan-akan memaksa saya untuk memberi.


Saya hanya berkata dalam hati, semoga tuhan menenangkan hati pengemis itu. Dan tidak hanya saya yang menjadi bahan Omelan, para pengantri sebagian juga jadi korbannya.


Pada kesempatan lain, ada seorang pengemis datang ke rumah saya menadahkan tangan, dengan senang hati saya kasih makanan dan minuman namun dia gak mau, maunya uang. Langsung saya terlintas dalam hati, bahwa dia bukan lagi pengemis hakiki namun pengemis profesi. Ada upaya untuk mengeksploitasi kekayaan yang di hasilkan dari minta-minta. Dan ini jelas Rasulullah melarang, pernah suatu ketika Rasulullah ditanya seorang sahabat “siapakah orang yang kaya yang tidak boleh minta-minta wahai Rasul”, Rasullullah menjawab “dia adalah orang yang cukup makan setiap hari dan malamnya”.


Kita sering merengek sambil membayangkan gundukan materi dan kekayaan. Lalu ketika semua harapan itu belum juga terkabul, kita mengeluh dan ngambek……..meski kesehatan, umur panjang, istri yang setia, anak-anak yang lucu dan menggemaskan, sahabat-sahabat yang menyenangkan hadir dalam kehidupan kita.

komentar

Related Posts