Filosofi Gorengan Bagi Santri






Atorcator.Com – Gorengan adalah primadona bagi santri. Apalagi santri yang belum dapat kiriman, berharap ada gorengan gratis untuk mengobati rasa galau dan ketidakberdayaan. Dimana ada makanan gratis disitulah santri berburu dan menemukan titik kejayaan. Tak terkecuali pada santri jaman now atau jaman old, santri mahasiswa maupun santri salaf.


Komposisi gorengan tidak semahal komposisi piza yang berasal dari italia berbentuk bundar, terbuat dari terigu, dan bumbu dengan keju, tomat, saus, dan sebagainya di atasnya. Sedangkan gorengan hanya terbuat dari tepung, ubi, tempe, tahu, molen yang bisa dibeli dengan harga murah dan terjangkau. Ini lah kenapa gorengan menjadi penopang hidup santri di pesantren ketika memasuki tanggal tua. Disamping memang harganya relatif murah dan cocok untuk kalangan menengah serta butuh fast food karena lapar


Saya mengangkat topik ini bukan berarti gak punya topik lain…..(ngaku aja lah mas gak usah bikin alasan), hehehehe. Tapi ini menarik untuk saya bahas berdasarkan pengalaman di pesantren yang memang tidak bisa lepas dari gorengan dan gorengan terus dan terus gorengan.


Kalau kita mencari gorengan di cafe dan restoran-restoran yang berbintang dan elite gak bakalan ketemu. Cobalah cari di warung dan  angkringan pasti disanalah sentralnya. Dengan penjual yang sederhana tak berseragam dan ber-make up yang biasa disebut emak-emak dan ibu-ibu. Tempat jualan yang cukup sederhana, tidak perlu ada cctv-nya dan alat digital lainnya. Dan tidak terbatas pada lokasi, dimana-mana gorengan itu ada, disekolah, masjid, gereja, universitas, pesantren dan lorong-lorong  bahkan tempat rekreasi.


Tidak bisa saya bayangkan, seandainya pemerintah melabeli gorengan dengan sertifikat halal dengan kemasan yang praktis yang marketingnya bisa tembus Eropa dan afrika, Subhanallah. Sebagai komoditas yang saya bisa katakana pro-kebinekaan, kesuksesan gorengan tidak hanya terletak pada gorengan itu sendiri, tapi juga andil dari para penjualnya.


Santri itu identik dengan sarungan dan kopiahan yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-harinya dan gorengan menjadi sarapan paginya. Hari Jumat atau malem Jumat biasanya Jumat legi sarung dan kopiah sering mendapatkan suasana yang berbeda, undangan untuk ngaji dan tawasulan. Karena kewibawaannya kadang membuat pengundang merasa sungkan untuk memberikan makanan yang nampak sederhana, biasanya lalapan, soto, rawon, rames. Dan makanan ini jelas makanan yang begitu istimewa buat santri, rasa syukur pun berbeda tidak seperti biasanya. Imam atho’ assakandari pernah mengatakan dalam kitab Al-hikam ” kalau kamu sudah lama gak makan makanan enak, maka segeralah makan karena disitu ada nikmat yang berbeda dan rasa syukur yang mendalam”. Bayangkan tiap harinya saya dulu makan dengan lauk pepaya dibumbui bawang putih saja sudah begitu nikmat.


Namun hal ini berbalik dari biasanya, santri yang sering dilihat nongkrong di warung tempat gorengan. Rupanya tuan rumah melihatnya makanan favorit santri ternyata gorengan. Rupanya makanan enak dan istimewa tidak lagi memihak kita. Nasib…………………….. dirundung pilu……….


Santri belajar cukup dengan gorengan saja tidak perlu makanan sejenis Chinese food. Kamu gak bakalan kuat bukan gak kuat beli tapi gak kuat nyari lagian kamu dibatasi jarak dan waktu, sekitar pondok gak ada yang jual sejenis makanan Chinese food lho guyssss.


Baru tau dan sadar bahwa gorengan memiliki citarasa yang tinggi masakan yang lezat dan bergizi, jangan dustakan gorengan, jangan kau dzolimi gorengan karena kau masih suka itu, jangan kau laknat gorengan karena dia gak salah yang salah itu dirimu dan alat perasamu.


Stop jangan kau bully gorengan karena ada santri yang gak terima dan siap melawan kejahatan terhadap gorengan.


Hidup gorengan
Hidup gorengan
Hidup gorengan
Hidup gorengan

Related Posts