Sekolah atau Mondok ?

Bingung.com

Lulus MTS, saya mengalami delima yang cukup mengganggu pikiran waktu itu, antara Mondok Salaf atau melanjutkan SMA? Mungkin hal semacam ini jarang terjadi dikalangan remaja saat ini, karena masa-masa itu merupakan masa yang tidak perlu dibuat bingung apalagi sampai delimatis. Sebab masyarakat beranggapan bahwa jika hanya lulus Mts mau jadi apa nanti? Apa yang akan kamu raih dimasa depanmu? Zaman ini sudah tidak lagi seperti kakek buyutmu.

Inilah yang sering menggelitik pikiran saya sehingga waktu itu saya cukup mengalami delimatis yang sangat tinggi. Akan tetapi, meskipun orang tua saya lulusan pesantren yang kental dengan nuansa agamanya beliau tidak pernah memaksa saya untuk mengikuti rekam jejak beliau dalam menempuh pendidikan. Beliau justru memberikan kebebasan kepada saya dalam meniti jalan hidup selepas lulus Mts. Memang, banyak pilihan seperti melanjutkan SMA, mondok, bekerja atau bahkan menikah pada waktu itu. Pilihan ini sudah dipilih salah satunya oleh teman saya waktu itu. Ada yang melanjutkan SMA, ada yang bekerja, bahkan tidak sedikit yang menikah.

Saya sempat berpikir seperti ini, kakak-kakak saya semuanya sudah di pesantren salaf masak iya saya harus ke pesantren salaf juga. Namun meskipun saya berpikir seperti ini tidak sepenuhnya saya percaya dengan pikiran saya. Sepertinya perlu cari pembelaan terhadap pikiran ini. Saat itu saya sadar bahwa saya belum punya komitmen apa-apa, jadi saya mudah di intervensi pemikiran orang lain.

Teman-teman seperjuangan semuanya sudah memiliki arah yang tepat untuk meniti jalan hidupnya waktu itu, ada yang mondok ke pesantren ini, ada yang melanjutkan SMA ke sekolah ini. Mereka berbondong-bondong berangkat melanjutkan pendidikannya ke suatu pesantren yang ditempatinya. Mungkin hanya saya yang masih bingung dengan pilihan. Mencari inspirasi, motivasi bahkan pembelaan terhadap pemikiran saya saja masih sulit ditemukan. Seakan-akan saya waktu itu dilepas penuh oleh orang tua, dalam artian orang tua tidak mau ikut campur dalam menentukan pendidikan yang ingin saya tempuh, yang penting saya harus melanjutkan entah ke pesantren atau ke SMA.

Dalam kegundahan ini, ternyata Allah SWT memberikan jalan yang tepat bagi saya tanpa saya duga sebelumnya. Tetangga saya memberitahu, kebetulan dia mondok di salah satu pesantren semi salaf. Saya waktu itu bingung seperti apa sih pesantren semi salaf ini?  Ternyata pesantren semi salaf ini adalah pesantren yang masih kental dengan nuansa agamanya, ngaji kitab sorogan, hafalan, program pesantren yang sangat intensif dalam pengajarannya. Namun pesantren ini tidak melarang dan menyuruh santrinya untuk menempuh pendidikan formal di luar pesantren itu sendiri.

Saya tergugah dan penasaran dengan pesantren ini. Kendati demikian, saya melakukan survei terlebih dahulu sebelum saya benar-benar yakin akan menempati tempat itu. Alhamdulilah setelah saya survei, sepertinya pesantren ini cocok. Kemudian tanpa harus menunggu lama saya mencari sekolah formal diluar. Tanpa disangka-sangka, ternyata di dekat pesantren itu ada sekolah formal SMA yang masih baru saja dirintis, jadi waktu itu saya tidak perlu jauh-jauh mencari sekolah diluar sana.

Saya sebenarnya tidak yakin dengan usaha dan jalan ini. Saya yang sebelumnya hanya berkecimpung dalam nuansa ilmu-ilmu agama. Saya harus ‘banting setir’ menuju sebuah alam pendidikan integratif yang lebih kokoh karena berpijak pada ilmu agama dan ilmu umum sekaligus. Ketidakyakinan ini muncul ketika saya daftar SMA, waduh…… SMA dikenal dengan ilmu umumnya. Sedangkan saya lulusan Mts yang dikenal dengan ilmu agamanya apalagi dihadapkan dengan pergaulannya yang sering dibicarakan orang bahwa sekolah negeri seperti ini, seperti ini. Ibarat orang kota masuk desa pasti merasa canggung dan tidak percaya diri. Saya malah tambah down waktu itu. Bagaimana menghadapi ujian tes masuk, wawancara dan lain-lain.

Sempat mau mundur dari medan perang. Namun lagi-lagi Allah SWT memberikan solusi yang baik. Saya didatangi salah seorang siswa SMA itu, dia ngobrol-ngobrol dengan saya. Kemudian saya nanyak, kira-kira seperti apa test-nya sekolah ini mas? Mas disini ini masih butuh siswa karena sekolah ini baru saja dirintis jadi tes-nya itu hanya formalitas saja.

Ketegangan ini sedikit demi sedikit hilang dan menumbuhkan rasa percaya diri yang sempat terkubur yang tak tahu dimana tempatnya. Walaupun pada kenyataannya apa yang dikatakan mas itu tidak benar sepenuhnya, ada juga ternyata siswa yang gak lolos dan Alhamdulillah saya adalah termasuk yang lolos dengan keajaiban.

Di pesantren inilah asal mula saya merasakan betul manfaat ilmu agama dan ilmu umum yang sempat saya padukan. Mengaplikasikan ilmu agama dan ilmu umum didalam pesantren semi salaf waktu itu masih jarang kita temukan masih segelintir orang saja. Dalam musyawarah kitab dan bahtsul masail keaktifan dalam berbicara masih didominasi oleh anak yang sambil sekolah atau yang pernah sekolah minimal SMA. Termasuk saya yang sebelumnya gak bisa berbicara di depan banyak orang sudah mulai bisa dan berani tampil bahkan berani memberikan kontribusi dalam bentuk argumentasi.

Inilah jalan yang amat penting dalam meniti masa depan untuk meraih dunia sekaligus akhirat. Sekolah sambil mondok adalah hal yang harus dijalani dengan ikhlas dan sabar. Sampai saat ini pun ternyata Tuhan masih mentakdirkan saya untuk tetap bernaung didalam pesantren disaat saya juga harus menempuh pendidikan S1. Dan ini merupakan momen yang sangat indah dan menakjubkan. Nampaknya tidak ada variasi dalam hidup ini tapi inilah bentuk kekonsistenan dalam merefleksikan diri yang keberadaannya bisa dibilang langka.

Ada banyak pilihan dalam hidup ini, tapi niat yang ikhlas, tekad yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh demi memperjuangkan agama Allah SWT, pasti Allah akan memberikan tempat yang tepat pula. Semoga perjalanan ini merupakan awal monumental yang mampu membangkitkan semangat baru di hari-hari berikutnya.
Haqqul yakin.



Santri Mahasiswa Al-hikam Malang

Related Posts