Selingkuh dan Pelakor Sama Saja

.

Atorcator.Com – Rumah tangga yang
dibangun oleh pasangan suami istri merupakan manifestasi dari sebuah perjuangan
cinta. Setiap orang pasti mengharapkan kehidupan yang baik, bahagia dan jauh
dari perselisihan dan perseteruan, karena di dalam pernikahan yang solid,
segala permasalahan yang menghadang dan mengancam akan dapat teratasi dengan
mudah. Ironisnya, perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga adalah hal
yang lumrah terjadi akibat perselingkuhan


Hubungan gelap atau selingkuh
merupakan salah satu pemicu pertengkaran dalam rumah tangga, hal ini jelas
merupakan perbuatan buruk dan tidak berprikemanusian. Perselingkuhan adalah
sebuah penghianatan dan kejahatan dalam rumah tangga yang penuh dengan
kekerasan yang bersifat
batiniah dan tidak menutup kemungkinan akan
menimbulkan kekerasan
dzohir (fisik). Perselingkuhan atau hubungan gelap
sering terjadi di mana-mana, dan hampir bisa dikatakan kejahatan yang membabi
buta, tanpa tujuan yang jelas, dan bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.


Belakangan ini muncul
istilah pelakor (perebut laki orang) dan walingmi (wanita maling suami). Udah
buming toh…? Jelas semua ini, tidak jauh beda dengan selingkuh. Menurut saya
istilah pelakor dan walingmi merupakan bagian dari upaya mendiskreditkan
perempuan, bagaimana tidak?
Setiap
kasus perselingkuhan dengan pria yang berstatus suami orang lain terungkap
publik, sang perempuan langsung mendapatkan julukan pelakor. Maka saya pribadi
sangat tidak setuju ketika laki-laki berselingkuh dianggap wajar sedangkan
perempuan dianggap nakal.
 Padahal
sebuah hubungan terjadi lantaran ada kesepakatan dari kedua belah pihak


Perselingkuhan
mungkin sudah ideal dikatakan salah satu kebiasaan hidup karena mereka berasumsi
bahwa perselingkungan merupakan kebutuhan biologis yang kentara dan perbedaan
rasa yang sangat memuaskan sehingga mereka merasa ada yang kurang jika tidak
melakukannya (
menurut sebagian orang). Membangun rumah tangga tidak
semudah membangun gubuk, butuh waktu dan kesiapan baik kesiapan
dzohir
maupun
bathin sehinggga pasangan suami istri (pasutri) menjalin bahtera
perkawinan hampir bisa dipastikan atas dasar kasih sayang bukan atas dasar
paksaaan. Walaupun memang ada sebagian yang berdasarkan paksaan namun hal itu
tidak akan bertahan lama. Maka dari itu, kenapa perselingkuhan masih bisa
terjadi? Berdasarkan pengalaman dan bukti empirisnya pemicu sebuah
perselingkuhan yang sangat dominan disebabkan kurangnya perhatian dan rasa
kasih sayang yang diberikan dari masing-masing pasangan suami istri baik berupa
materi maupun non materi,sehingga muncul inisiatif  untuk selingkuh.


Masih
banyak faktor dan  keadaan lain yang
cenderung dapat menyebabkan perselingkuhan, dalam sebuah daerah ada seseorang
yang berselingkuh disebabkan oleh keterlenaan yang bersifat sementara dan
relatif contoh wanita tertarik terhadap 
ketampanan laki-laki lain dibanding suaminya, laki-laki bisa jadi
terlena dengan kecantikan wanita lain dan terlena dengan kekayaan harta orang
lain, semua ini merupakan cobaan atau ujian yang sangat luar biasa dalam  keluarga sehingga seseorang bisa mengukur dan
mengetahui kapasitas dan kualitas keimanannya serta kekuatan cintanya. Sifat
manusia tidak akan pernah menemukan kepuasan, apalagi semacam kebutuhan
biologis, jika hanya didasarkan atas hawa nafsu semata tanpa didasari kesadaran
akan pentingnya sebuah pernikahan yang diperintahkan oleh Allah SWT dan
orientasi masa depan baik di dunia maupun di akhirat. Kecakapan moral juga
sangat menentukan sikap seseorang dalam bertindak lebih-lebih dalam rumah
tangga, memiliki pedoman dan orientasi dalam membangun masa depan.


Di sisi
lain faktor perselingkuhan kadang sulit dideteksi dan sulit dipahami karena
sifatnya yang irasional mengapa seseorang masih berselingkuh padahal semua apa
yang mereka butuhkan sudah terpenuhi. Maka dengan itu semua, faktor internal
rumah tangga mungkin juga berpotensi bercerai-berainya pasangan suami istri contoh
hubungan suami istri yang labil, masing- masing pasutri yang tidak dapat
mengenali problem dalam diri masing-masing, kurangya berkumpul dalam setiap
harinya. Apalagi di era milenial ini suami dan istri sudah memiliki gadget
masing-masing sehingga interaksi yang dibangun tersampaikan lewat media terus
menerus, akibatnya tidak ada tatapan mata langsung yang dimana hal itu
menentukan sekali terhadap perilaku dan hati seseorang.


Konflik
dalam rumah tangga akibat perselingkuhan dapat menyebabkan terputusnya tali
silaturrahim baik dari pihak suami maupun istri sehingga sulit untuk merajut
kembali seperti semula, seperti halnya kaca yang pecah bahkan tidak menutup kemungkinan
menjadi permusuhan yang berkelanjutan. Akibat yang timbul dari perselingkuhan
atau hubungan gelap dapat mengakibatkan kekerasan fisik karena kemarahan yang
berlebihan. Sebab perselingkuhan merupakan sebuah penghianatan dari janji suci
yang sudah disepakati bersama saat berlangsungnya akad nikah, bisa dibayangkan
betapa sakitnya hati seseorang ketika dihianati apalagi semacam  perselingkuhan.


Dampak
positif yang terjadi akibat perselingkuhan adalah membuat orang-orang sekitar
lebih waspada dan saling menjaga hubungan keluarganya dengan rasa saling
percaya dan  positif
thinking  sehingga orang-orang sekitar dapat mengambil
pelajaran dari peristiwa itu. Dan dampak negatif akibat perselingkuhan adalah
membuat orang-orang sekitar gelisah dan mudah sensitif dengan keluarganya
sendiri, dan faktanya perselingkuhan membuat orang-orang ketagihan dan
penasaran sehingga tidak memikirkan efek yang akan terjadi karena sudah
dipenuhi dengan hawa nafsu. Dari masing-masing pengaruh  ini, dapat saya simpulkan bahwa perselingkuhan
dapat menyebabkan hidup sengsara, gelisah, dan dapat menghilangkan harkat dan
martabat seseorang.


Perselingkuhan
bisa dikatakan jarang untuk ditindak lanjuti oleh aparat yang berwajib apalagi
di pedesaan yang mana perselingkuhan hanya di buat bahan guncingan semata dan
dibuat bahan tontonan. Jadi siapakah sebenarnya orang yang berhak mengentaskan
dan mengatasi perselingkuhan itu? Ketika saya melakukan
interview dengan
beberapa warga sekitar yang mana tempat itu sering terjadi perselingkuhan,
setiap ada perselingkuhan memang sulit untuk mendapatkan bukti validnya,
sehingga laporan perselingkuhan tidak bisa di tindaklanjuti, persepsi warga
atas perselingkuhan dibilang sebuah hukum karma, jadi mereka enggan untuk
memberikan nasihat dan menegurnya tidak akan berefek jera sebab di anggap
sebagai faktor bawaan sesuai dengan sabda rasul,
“ Barang siapa yang berzina
maka akan dizina”.
Jadi warga awam menafsirkan bahwa hadis ini seolah-olah
peristiwa sudah menjadi kebiasaan yang diwariskan leluhur kepada anak cucunya.
Padahal tidak semua seperti itu,dalam hadis itu menjelaskan bahwa perzinahan
yang dilakukan seseorang akan mengakibatkan turun temurun, tapi bukan berarti
bisa dipastikan karena manusia dituntut untuk selalu memperbaiki diri.


Perselingkuhan
lain terjadi disebuah desa yang jauh dari peradaban, masyarakat awam yang masih
kental dengan paham-paham konservatif, sehingga setiap apa yang terjadi
dan  itu menyimpang dari aturan  syari’at tanpa banyak berpikir  masyarakat berani dan mudah main hakim
sendiri sesuai dengan kemauannya sendiri tanpa harus memikirkan dampak yang
akan terjadi setelahnya. Mungkin dari sisi lain bisa dimaklumi karena kehidupan
mereka yang sangat primitive tapi disisi lain seandainya mereka mau berpikir,
agama islam yang mereka yakini  tidak
seperti apa yang mereka lakukan, islam yang
Rahmatan lil ‘alamin  islam yang seharusnya mampu memberi kesejukan
terhadap seseorang apalagi masih seagama, walaupun tidak seagama islam tetap
harus bahkan wajib mengayomi dan dan melindungi agama lain.


Tindakan
yang diambil masyarakat untuk membuat efek jera tidak semuanya mampu untuk
merubahnya bahkan tambah parah, dan tentunya hal ini perlu ditinjau kembali
maksud dan tujunnya, sebab setelah saya soroti banyak sekali seseorang
melakukan amar ma’ruf nahi munkar hanya berdasarkan nafsu saja, marah-marah,
tidak di ikuti di ancam, padahal rasulullah tidak seperti itu. Tugas kita
sebenarnya mengajak kepada kebaikan di ikuti atau tidak itu urusan Allah SWT,
sama halnya menjegah kemungkaran. Cara yang halus akan lebih disenangi oleh
seseorang dari pada sikap yang keras dan 
marah-marah.


Tugas
utama manusia dimuka bumi adalah menyembah  tuhan, amar ma’ruf, nahi munkar,
berprikemanusian, peduli dengan sesama. Kepedulian terhadap sesama manusia
merupakan wujud dari kualitas keilmuan kita. Ilmu yang menjunjung tinggi harkat
dan martabat manusia akan lebih dipandang oleh sesama manusia, dan akhir-akhir
ini rasanya sukar sekali menemukan para ilmu yang menjunjung tinggi harkat dan
martabat manusia, para ilmuan sekarang yang banyak terjadi adalah berusaha
untuk bisa di ikuti tapi cara mereka yang salah, sehingga kalau gagal mereka
marah-marah bahkan mengambil sikap anarkis, ini yang membedakan ilmuan  zaman 
now dan zaman old.


Kira-kira
apa yang sudah kita lakukan dalam mengentaskan dan mengatasi hal seperti ini?
Sudah cukupkah kepedulian kita kepada manusia? Ataukah kita masih pandang bulu
terhadap manusia? Hidup ini tak selamanya istimewa dan indah, maka yang membuat
hidup ini indah dan istimewa adalah dinamika kehidupannya, dan tantangan  hidupnya. Agama mengajarkan kita untuk selalu
berpikir, sehingga dalam berpikir kita akan menemukan gagasan, dan ide-ide yang
luar biasa.

Tantangan ini merupakan momen reflektif yang
menuntut keseriusan  berpikir dalam upaya
menemukan solusi. Setidaknya bisa dapat meminimalisir beragam masalah, dan ini
merupakan amunisi baru dalam dalam menciptakan perdamaian, rasa solidaritas
serta kepekaan dalam berbudi luhur.


Dalam
kasus perselingkuhan yang sering terjadi di pedesaan , pelaku dari
masing-masing itu memang  mayoritas
berpendidikan  rendah, lulusan SD atau
ada yang belum lulus SD bahkan ada yang belum pernah menyentuh pendidikan sama
sekali baik pendidikan agama maupun pendidikan umum. Satu sisi mungkin bisa di
maklumi tapi disisi lain harus diperbaiki
(ishlah). Menurut saya
pendidikan sangat menunjang terhadap tingkah laku manusia, sehingga pemerataan
pendidikan harus terus di perjuangkan, semua orang memiliki hak yang sama dalam
mengenyam pendidikan, terutama pendidikan agama, untuk terus menata hati bagaimana
diri kita selalu sadar akan pengawasan tuhan.


Tentunya,
penerapan pendidikan  tidak harus dengan
cara yang formal, terstruktur, dan sistematis, kita harus bisa melihat kondisi
sekitar, melalui pendekatan-pendekatan secara persuasif  untuk menarik simpati sehingga belajarnya
menjadi nyaman, tanpa ada paksaan, tidak merasa terbebani. Cara seperti ini
sepertinyacocok buat pelaku perselingkuhan yang memang didominasi orang-orang
yang berpendidikan rendah, sedikit demi sedikit di nasehati, di ajak bicara
yang halus-halus.


Kepedulian
sosial sangatlah penting, bukan karena mereka seagama, seormas, ataupun separpol,
tapi karena kita manusia yang sama-sama membutuhkan manusia yang lain. Merubah
pola hidup untuk bisa lebih baik sangatlah sulit butuh proses, dan proses itu
butuh kesabaran, keikhlasan dan kejujuran. Apalagi yang dihadapi adalah kelompok
masyarakat awam. Mereka ini, disamping dari sananya hanya dianugerahi IQ
pas-pasan, juga tidak memililki fasilitas untuk mengembangkan IQ-nya itu.
Sehingga peristiwa kekerasan seperti perselingkuhan tidak lagi mendapatkan
perhatian khusus dan serius.


Dengan
demikian, saya sebagai kader penerus bangsa dan pengamat sosial, sangat
prihatin terhadap keadaan pendidikan di desa-desa. Maka dari itu, saya akan
memberikan dan mengajak kepada oran-orang untuk belajar memperbaiki diri dan
masyarakat lewat pendidikan, menanamkan kesadaran akan pentingnya ilmu agama
dan sains ketika mereka dibiarkan seperti itu maka di khawatirkan generasi
selanjutnya lebih parah maka harus dijegah supaya tidak menular kegenarasi
berikutnya, memang agak sulit ketika harus mencegah orang yang sudah
terlanjurkan melakukan keburukan seperti perselingkuhan diatas, setidaknya kita
berusaha bagaimana cara orang-orang sekitar yang tidak selingkuh itu tidak bisa
terpengaruh, tertarik dan ikut melakukannya.


Sebagai
sarjana agama, saya harus menanamkan kesadaran akan bahayanya perselingkuhan
dan larangan keras dalam agama lewat sosialisasi keagamaan,, seperti mengadakan
perkumpulan atau pengajian rutin yang dikemas dengan arisan, atau  lagu-lagu islam tapi moderen supaya menarik
perhatian, sebab jika hanya fokus ke pengajian saja tanpa dicampuri sesuatu
yang menghibur saya rasa tidak akan bertahan lama dan mereka akan merasa jenuh,
karena kita tahu  sendiri karakter
manusia seperti apa, butuh hiburan dan permainan, akan tetapi di dalamnya
membahas seputar keagamaan yang berkaitan dengan masalah social. Sehingga
sedikit demi sedikit dengan izin Allah mereka akan sadar.


Cara
seperti ini butuh dukungan dari pihak lain, tidak cukup dengan satu dua orang
saja, maka saya harap anak muda khusunya para sarjana yang sudah memiliki peran
dan tugas penting dalam membina masyarakat menuju masyarakat yang aman, tentram
dan sejahtera.


Related Posts