Belajar Menghargai Karya Sendiri

Foto: Rangkuman UTS kewarganegaraan

Siapa yang pantas menghargai karya sendiri? Siapa lagi kalau bukan pembuat karya itu sendiri. Tidak elok rasanya jika kita harus menuntut orang lain menghargai karya kita sendiri. Membuat sesuatu yang istimewa itu memang pelik, apalagi sampai mau mengakuinya dan menghargainya. Kita kadang bersikap terlalu berlebihan terhadap karya orang lain, sebenarnya tidak salah, dan wajar-wajar saja. Bahkan memang diharuskan mengapresiasi karya orang lain.

Akan tetapi yang menjadi persoalan sekarang. Banyak diantara kita yang terlalu bangga dengan karya orang lain sampai-sampai lupa bahwa dirinya juga punya karya yang bagus. Sebab ketika kita sudah lupa bahwa karya kita juga bagus dan menarik sedangkan ia lebih terpaku pada karya orang lain saja, maka bisa dipastikan ia tidak akan bisa membuat sesuatu yang baru dari apa yang ia banggakan. Dan ini salah satu faktor penghambat pertumbuhan kreativitas dan inovasi mahasiswa khususnya.

Mengapresiasi dan mengagumi karya sendiri sangat penting. Banyak diantara kita tak terkecuali saya pribadi kadang menaruh sesuatu yang penting dan itu merupakan sebuah hasil tulisan, coret-coretan, itu sembarangan. Mengagumi karya sendiri bukan berarti termasuk dari garis kesombongan. Mengagumi bukan berarti kita harus mengungkapkan kepada orang lain, cukup merasa bahwa karya kita itu penting dan perlu disimpan karena suatu saat nanti pasti akan dibutuhkan, entah anak-anak kita, cucu-cucu kita dan boleh jadi orang lain.

Kadang kita perlu bernostalgia dengan masa-masa TK, setelah di pikir-pikir masa kecil merupakan masa dimana kita hobi dan suka menggambar, dan setelah menggambar rasanya senang sekali karena sudah bisa menggambar dengan sempurna. Apalagi dapat apresiasi dari seorang guru.

Seperti yang terjadi sekarang ini, setelah pak Jokowi menjabat sebagai presiden, perasaan membanding-bandingkan muncul dengan tiba-tiba, lebih baik presiden SBY, lebih tegas presiden Soekarno, lebih agamis presiden Gus Dur. Bahkan parahnya lagi tidak suka dengan kepemimpinan yang sekarang ini dan tidak mengakuinya. Ini sama halnya tidak ada perasaan menghargai karya sendiri. Tidak ada yang salah dalam membanding-bandingkan jika itu demi kebaikan dan kemajuan, akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah batas-batas dalam perbandingan itu sendiri. Membandingkan sesuatu dengan berlebihan akan menyebabkan sesuatu itu tidak baik juga, karena belum tentu yang dijadikan perbandingan itu lebih baik daripada apa yang dibandingkan.

Boleh kita mengangumi negara yang mungkin dari segi ekonomi dan pendidikannya lebih maju. Namun kita tidak boleh hanya sebatas kagum saja, seharusnya kita menunjukan bahwa negara kita juga bisa maju seperti itu bahkan bisa lebih maju dari negara itu.

Melakukan afirmasi positif untuk karya sendiri semestinya harus kita lakukan terus menerus sampai kita tidak bisa berkarya, karya apapun itu. Tak seharusnya kita menilai negatif terlebih dahulu dengan karya sendiri. Dan yang paling pantes menilai karya kita adalah kita sendiri. Orang lain juga bisa menilai namun hanya sebatas menilai saja. Itupun tidak mungkin semuanya menilai negatif pasti ada positifnya.

Tidak peduli dengan karya sendiri sama halnya tidak percaya dengan kemampuan kita sendiri. Semua orang memiliki kemampuan yang sama, yang membedakan adalah hasil dari kemampuan itu, jika kita yakin dengan kemampuan kita pasti hasilnya akan baik. Jika sudah hasilnya baik maka akan muncul potensi baru dan mendatangkan prestasi baru pula yang akan mengiringi langkah perjalanan kita menuju yang lebih baik.

Karya baik dan buruk bukan terletak pada penilaian kita sendiri. Kalau kita yakin itu baik maka kita tidak enggan mengapresiasinya, jika kita sendiri sudah tidak yakin bahwa karya itu baik maka ia enggan mengapresiasinya, begitu juga orang lain. Semua itu berawal dari kita sendiri, maka dari itu jangan pernah enggan mengapresiasi karya kita sendiri.

Semakin rutin mengapresiasi karya sendiri maka akan semakin banyak menghasilkan karya. Disitulah nanti akan banyak memberikan manfaat bagi orang banyak, dan semakin besar kepercayaan diri untuk menghasilkan karya yang lebih baik dan bermanfaat.

Santri Mahasiswa Al-Hikam Malang

Related Posts