Wasit Sepak Bola dan Wasit Pemilu

Foto: Saat Buffon mendapatkan
Kartu merah dari wasit

Terlintas dalam benak saya, bahwa antara KPU dan wasit sepak bola hampir sama perannya dalam mengatur kompetisinya. Namun ada sedikit perbedaan diantara keduanya walupun perannya sama. Yakni waktu dan tempat dalam mengambil kebijakan dan wewenangnya.

Membicarakan sepak bola tak mesti membahas soal bagaimana 22 pemain merebut 1 bola dan memenangkan pertandingan. Tidak itu saja. Sepak bola adalah budaya, bahkan agama kalau di Amerika Latin. Gereja semakin sepi, sementara stadion kian penuh. Menurut Gus Dur, sepak bola adalah kehidupan manusia. โ€œBukankah kita akan diperkaya dalam pemahaman kita tentang kehidupan manusia, oleh sesuatu yang terjadi di lapangan sepak bola? Sepak bola merupakan bagian kehidupan, atau sebaliknya, kehidupan manusia merupakan sebuah unsur penunjang sepak bola?โ€ tulis Gus Dur di Kompas edisi 18 Juli 1994.

Sepak bola bukan hanya cerita tentang kemenangan. Sepak bola bukan cuma kisah heroik dan selebrasi juara. Sepak bola juga berlimpah tangis dan air mata. Kekalahan. Jurang Degradasi.

Di balik semua itu, sepak bola adalah soal visi sebuah tim, visi permainan, dan visi dari fanatisme suporter di belakang gawang yang rela dan ikhlas suaranya parau gegara selama 2 x 45 menit terus-terusan bernyanyi dan berteriak yel-yel tim kebanggaan, sekalipun timnya harus kalah dari sang lawan. Tapi, tim kebanggaan jelas tidak pernah salah walaupun kalah. Kekalahan harus ditebus oleh wasit.

Wasit GOBLOK! Nasibmu sit sit.

Saat kita nonton pertandingan sepakbola, jika tim kesayangan kita dirugikan karena ulah wasit yang dianggap tidak proporsional, pasti kita mencemooh wasit tersebut. Dan sebaliknya, kita akan merasa gembira disaat lawan kenak  hukuman, rasanya sangat puas. Walaupun kadang keputusan itu menimbulkan kontroversial. Jadi, apa-apa yang menjadi kerugian pertama dalam sebuah pertandingan apalagi pertandingan rival abadi, wasit lah yang sering jadi sorotan utama. Yah begitulah supporter Indonesia lebih condong menghakimi orang lain daripada introspeksi diri.

Contoh saja pertandingan Real Madrid vs Juventus dalam perempat final liga Champions 2018 kemaren, dimenit-menit krusial wasit memberikan hadiah pinalti kepada real Madrid karena Juventus dianggap melakukan pelanggaran di kotak terlarang. Yah jelas lah Juventini tidak terima dengan keputusan itu, tetapi dari Madridista sendiri senang sekali, bahkan memuji-muji wasit tersebut. Memang berat jadi wasit, disamping memang harus belajar bersabar juga harus kuat mental.

Namun, hukuman yang dilakukan wasit kepada Juventus juga jamak terjadi. Balik lagi, wasit juga manusia. Dia juga bisa keliru, jengkel, capek, kehilangan fokus, dan kendali diri.
Hanya jangan salah juga, pemain juga manusia, apalagi suporter. Mereka juga punya analisis, pemikiran, ekspresi, dan rasa marah atas kekeliruan yang fatal. Kita bisa saja bilang, begitulah hidup. Tapi untuk mengatakan seperti itu, ada perenungan, upaya mencari tahu dan mencari jalan keadilan.

Dengan pemahaman aturan, wasit mengerti betul apa yang harus dilakukan, di mana, dan dengan cara apa. Inilah nilai luhur mengapa jarang terjadi pergantian wasit dan usia pensiun wasit lebih panjang: sebab tidak semua orang berani belajar sebelum menghakimi. Tawuran pun lebih sering terjadi antar penonton, bukan antarwasit. Sebabnya jelas, wasit membela kebenaran, sementara penonton membela kesebelasan. Kecuali wasit yang dibeli.

Berbeda dengan wasit pemilu yakni KPU, yang mana KPU menjadi wasit inti atau wasit disetiap ajang pemilihan umum maupun pemilihan daerah. Walaupun faktor kemenangan calon itu ada ditangan rakyat, tetapi yang berhak mengatur dan menentukan kemenangan berdasarkan aturan yang ada adalah wasit alias KPU. Para calon anggap saja kalau dalam sepakbola tim kesebelasan, tidak punya hak dalam memenangkan kompetisi itu, karena semua itu supporter alias rakyat yang berhak memilih sehingga sampai pada kesimpulan kemenangan. Kemudian KPU lah yang menentukan kemenangannya.

Dan menurut saya, politik kita saat ini berbanding terbalik dengan sepak bola. Dalam sepak bola, seorang wasit dibantu asisten menghakimi dua kesebelasan. Di politik kita, kesebelasan dibantu jutaan pendukung fanatik menghakimi dua atau berapa orang yang sedang dan akan bertanding. Hukum yang berlaku adalah pemilu. Disamping KPU sebagai pemutus final kemenangan, wasitnya jelas, rakyat. Skor menangnya, suara terbanyak.

Karena wasit sepak bola hanya dibantu beberapa wasit yang bisa dibilang sedikit dibanding wasit politik atau pemilu, jelas ia akan mengalami delimatis yang sangat besar. ditambah lagi kecaman pemain ketika tidak bisa menerima keputusan, sinis lah, cuek lah, begitulah pemain yang belum terdoktrin mental kesiapannya, tidak siap kalah, hanya siap menang saja. Padahal pemain hebat itu bukan yang selalu mengharap kemenangan tetapi ia juga siap kalah dan siap menang.

Ketika dihadapkan dengan insiden seperti ini. Sepertinya tidak jauh beda dengan dunia perpolitikan. Ketika KPU menginformasikan pemenang kontes dalam pesta politik, tidak semuanya bisa terima dengan keputusan itu. Ada yang memberontak, ada yang berspekulasi ada unsur kebohongan, ada intervensi dari pihak internal KPU dan lain-lain.

Yah begitulah keterbukaan demokrasi negara ini, bebas berpendapat bebas mengkritik, bebas berekspresi, tapi ingat kebebasan ada batasan-batasan tertentu.

Santri Mahasiswa Al-Hikam Malang

Related Posts