Kenapa Harus Marah Disaat Polisi Memeriksa Santri Karena Dicurigai Teroris?

Santri yang dicurigai teroris

Story’ WhatsApp saya yang baru saya update beberapa jam yang lalu langsung mendapatkan respon dari para santri dan mahasiswa. Dalam story’ WhatsApp saya tentang pernyataan bahwa polisi memeriksa santri itu wajar-wajar saja disaat Indonesia mengalami kegentingan. Ini membuat sebagian masyarakat kecil dan teman-teman saya marah dan mengecam saya sebagai bagian dari oknum polisi yang tak beradab. Perlu saya ketahui sebelumnya saya juga bagian dari santri bahkan saya nyantri kurang lebih 5 tahunan, walaupun gak terlalu lama. Setidaknya sudah lebih lama daripada yang 4 tahunan. Hehehehe ๐Ÿ˜

Alhamdulilah ketika saya nyantri. Saya tidak pernah diajarkan menghujat orang lain. Kitab yang saya pelajari di pondok tercinta tidak sekaku apa yang kalian utarakan saat ini. Di pondok saya dijarkan untuk tidak gampang menyalahkan orang lain. Dan selaus menghargai orang lain.

Saya sempat bingung. Kenapa masyarakat dan teman-teman saya kok begitu besar amarahnya lebih parahnya lagi sampai ada yang misu melihat polisi memeriksa barang-barang bawaan santri itu? Kenapa harus marah? Bahkan sebagian yang lain ada yang menyatakan “orang Islam dipersekusi” alias dalam konteks peristiwa ini “santri dipersekusi”. Kalau dulu ulamanya yang dipersekusi sekarang santrinya juga dipersekusi. Lengkap sudah. Begitu bangga dishare di media sosial dengan caption “Santri didzolimi”, kalian sudah dibuat tidak aman di negeri ini. Ternyata musibah bom ini yang seharusnya dibuat untuk menaruh simpati dan empati justru dijadikan tempat untuk marah-marah dan tuding menuding. Konklusinya tak hanya perbedaan pandangan yang membuat kita berpecah belah tapi musibah pun bisa dibuat alat berpecah belah.

Tidakkah kalian lihat kejadian belakangan ini, para polisi itu juga yg menjadi korban pertama, kalau ternyata barang bawaan yg diperiksanya ternyata berisi bom/alat peledak? Mereka hanya menjalankan tugasnya. Tugas kita hanya mematuhi apa yg di instruksikan mereka. Kalau tidak ada barang berbahaya yang kita bawa, polisi pun tidak akan melakukan apa2 terhadap kita.

Tugas polisi itu berat, lebih berat daripada filem Dilan 1990. Mereka diberi tugas menjaga keamanan negeri ini dari berbagai macam ancaman. Sedangkan negeri ini begitu luas dan besar yang didalamnya juga berisi kalian yang sering menuding yang nggak-nggak. Aparat kepolisian tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya pun salah. Tentu dalam hal ini kita harus melihat dari perspektif positif terlebih dahulu. Lebih-lebih dalam situasi yang runyam seperti sekarang ini. Jangan malah menambah beban terhadap negeri karena hujatan kalian ini. Walau bagaimanapun, menaruh perhatian simpatik kepada negara adalah bagian dari iman (Hubbul wathan minal iman). Mendukung aparat kepolisian dalam menjaga NKRI merupakan bentuk partisipasi kita sebagai warga negara.

Biarkan aparat kepolisian bekerja terlebih dahulu sebagaimana mestinya. Bukan berarti kita tidak boleh melakukan evaluasi terhadap kinerja aparat kepolisian. Namun jika hal-hal sepele ini saja kalian begitu perhatian sedangkan dalam kasus Novel Baswedan yang sampai saat ini belum ditemukan benang merahnya justru kalian tidak peduli. Apakah ini yang dinamakan dengan keadilan dalam berpikir?

Tidakkah kalian menyadari bahwa para polisi ini juga punya keluarga yang menunggunya di rumah, berharap mereka kembali dari tugas dengan selamat? Tidakkah kalian menyadari bahwa mayoritas dari para polisi ini juga beragama Islam, sama seperti kalian? Tidakkah kalian sadar bahwa mereka juga manusia biasa yang punya rasa lelah, takut, dan rasa lain yg berkecamuk di benaknya dalam menghadapi situasi seperti sekarang ini, sama seperti kita? Padahal mereka ditugaskan di lini terdepan, untuk menjaga kita semua, sementara keselamatan mereka sendiri juga terancam siang & malam?

Mari kita saling bahu membahu. Mari kita saling husnudzan. Mari kita saling hormat-menghormati. Mari kita saling menghargai. Mari kita terus bermuhasabah atau berintrospeksi diri. Sudahkan kita menjadi muslim yang baik, yang selalu menebar senyum dengan sesama, menebar rasa aman, tanpa harus menakut-nakuti sesama. Memberikan rasa perhatian lebih terhadap sesama seperti halnya memberikan perhatian terhadap diri sendiri. Tidak mau menang sendiri. Jadilah muslim yang ramah bukan sedikit-sedikit marah dan ngamuk.

Mulailah bersikap adil sejak dalam pikiran kita. Berpikir sebelum membagikan informasi di media sosial merupakan cermin muslim millenial plus intelektual. Jangan hanya minta dihormati tanpa mau menghormati orang lain. Tunjukkanlah bahwa Islam adalah agama yg membawa damai, rahmatan lil โ€˜alamin. Tunjukkan dari sikap & perilaku sehari2.

Saya berterimakasih sekali kepada Tuhan yang maha esa. Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana, tidak miskin ilmu dan tidak kaya harta. Dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman yang ramah, baik, dan toleran walaupun dalam keberagaman budaya, ras, suku dan agama.

Santri yang selalu berharap kedamaian. Saling bergandengan tangan dengan sesama jenis.

Wallahu a’lam bisshowab

Santri Mahasiswa Al-Hikam Malang

Related Posts