Ketika Tempat Ibadah Tak Lagi Difungsikan Sebagaimana Mestinya

Google

Penulis: Moh. Syahri

Beberapa hari yang lalu saya disempatkan pulang kampung untuk mengobati rasa rindu dan kangen yang sudah lama dipendam. Tak ada maksud untuk menjelajahi sebuah desa. Namun seiring dengan kebutuhan keluarga maka saya sering keluar desa untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan tak jarang juga saya juga sholat dibeberapa masjid dan mushalla terdekat di desa saya.

Masjid dan mushalla yang dulunya menjadi pusat peribadatan orang desa dalam menjalankan ibadah sungguh mengalami perubahan yang sangat memprihatikan. Bukan hanya soal masyarakat yang enggan untuk sholat berjamaah dalam sholat 5 waktu namun juga dari sisi pemeliharaan tempat ibadah itu yang cenderung tidak mendapatkan perhatian khusus.

Memasuki bulan suci Ramadhan, kebetulan hari pertama saya masih di rumah. Sebelum-sebelumnya saya sengaja mencari informasi kegiatan ritual keagamaan seperti pengajian kitab hataman yang memang biasa dulu diselenggarakan di desa saya. Namun belakangan ini, sudah 3 hari saya di rumah belum menemukan kegiatan-kegiatan seperti tempo dulu itu. Sehingga tempat ibadah itu nampak sepi dan tak berfungsi apa-apa. Semoga ini hanya sekedar penglihatan saya saja.

Dulu masjid dikampung saya disaat menunggu buka puasa selalu mengadakan hataman kitab  yang dipimpin oleh guru guru agama sekaligus memberikan tauziah, sekarang masjid seperti kuburan mungkin karena banyak guru guru agama sudah pasang tarif dalam menjajakan ilmu agama semakin jauh dia merantau semakin fasih mengucap firman Tuhan maka semakin tinggi bayarannya

Dulu semasih kanak kanak masjid selain menjadi tempat ibadah juga menjadi pusat belajar dan bermain, tiduran dimasjid, saling rebutan jadi petugas adzan, saling sembunyikan pemukul bedug, adu kuat teriak Amin waktu sholat, sholat tertib hanya di rakaat terakhir selebihnya senda gurau, walaupun begitu tetap menjaga kebersihan masjid karena tertanam dijiwa ini untuk selalu menjaga masjid.

Tapi sekarang masjid seperti museum yang ber fungsi hanya mencari sumbangan, anak anak dilarang bermain dan berkumpul, anak anak dianggap bahaya laten kekhyusukan dalam ber ibadah, maka sekarang lihatlah anak anak lebih suka berkumpul di Warnet, di penyewaan video game, kongkow di pinggir jalan sambil balapan bahkan ada yang jadi cabe dan terong, padahal banyak hadist yang menceritakan Rasulullah saw tidak terganggu bahkan menikmati ketika beliau di usik cucu cucu nya disaat beliau sholat

Tuhan kita penjara di dalam Masjid karena masjid seperti penjara dikunci setiap waktu dan dibuka hanya disaat jam sholat, banyak masjid menjadi lembaga peminta minta karena semakin kaya kas masjid semakin makmur lah masjid tersebut bermacam macam cara dilakukan masjid bahkan menjaring recehan di tengah jalan pun dilakukan untuk meminta sumbangan dengan dalih pembangunan, sudah semiskin itukah kita menggambarkan Tuhan dalam membangun rumah ibadahnya

Celakanya jika pengurus masjid adalah ahli waris dari pendiri masjid, sudah dapat dipastikan semua kas masjid akan dihabiskan hanya untuk pembangunan masjid, mereka tidak peduli apakah di sekitar masjid banyak warga miskin, yatim piatu yang lebih membutuhkan bantuan daripada perluasan masjid, mereka merasa masjid milik nenek moyangnya dan mereka berhak mengelolanya tanpa pertanggungjawaban, masjid dijadikannya industri ibadah mulai Haul nenek nenek moyangnya sampai kegiatan politik menjelang Pilkada, ironinya semua kegiatan tersebut berujung dengan tujuan utama yaitu meminta sedekah, apakah ukuran kemakmuran suatu masjid seperti itu? Pernahkah mereka berpikir apakah Tuhan bahagia dengan perbuatan mereka yang membangun masjid dari hasil meminta minta atas nama Tuhan,..
Apakah dengan banyaknya masjid menjadi ukuran bahwa kita masyarakat ahli surga,..
Semoga Tuhan menghancurkan masjid masjid yang dibangun atas niat menjual TuhanNya,…

Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama? Yakni orang yang menindas anak yatim dan tidak bersedia memelihara hidup golongan peminta-minta, Maka celakalah golongan yang shalat!Yakni orang-orang yang menganggap remeh shalat mereka; Yakni orang-orang yang gemar menampak-nampakkan namun enggan untuk memberi sumbangsih.

Wallahu a’lam bisshowab

Related Posts