Mencari Kegembiraan yang Hilang di Bulan Suci Ramadhan


Suasana Ramadhan 2008 desa taraju

Penulis: Moh. Syahri


Atorcator.Com – Perbedaan fase dari hari ke hari, mingu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Sehingga sampai pada bulan yang penuh berkah ini yakni bulan ramadhan adalah momen dimana untuk saya pribadi sering dihinggapi sebuah pertanyaan dasar. Apakah puasa ini bentuk penghambaan kepada Allah SWT sebagai hasil takwa atau hanya ikut-ikutan saja? Pertanyaan tersebut kadang membuat saya subversi, menteror. Yang jelas ini hal yang perlu diungkap keberadaannya, supaya kita tidak terus tertipu dengan bungkus semata. Sekaligus melatih kejujuran dan keterbukaan dalam mengungkapkannya. Silahkan jawab dihati kalian masing-masing.


Tidak semua hal memang perlu ditanya untuk apa, kata seorang penyair. Tapi, hidup yang tak pernah dipertanyakan sesungguhnya sudah tak layak lagi dijalani, kata seorang filsuf kuno.


Kebanyakan orang menilai bulan ramadhan adalah bulan kegembiraan. Jujur saja, saya puasa ramadhan kalau gak salah sejak kelas 3 MI/SD, saya gak tau waktu itu umur berapa, yang jelas atmosfer ramadhan tahun ke tahun sedikit banyak mengalami perubahan. Baik perubahan secara geografis maupun sosialis. Dan ini nampak saya rasakan saat ini.


Dulu saya masih ingat, walaupun saya tidak tua-tua amat tapi perubahan-perubahan ini perlu saya tulis dengan gamblang supaya kita bisa berpikir. Apa sebenarnya yang menyebabkan ini semua.


Puasa memang agak unik belakangan ini. Orang bisa saja tidak salat, dan tak ada yang meledek. Tapi, coba saja, kau ketahuan tak puasa, setidaknya di hari pertama ramadhan, maka kau akan dilihat dengan tatapan hina, seolah-olah kau adalah orang kafir yang akan pertama kali dicemplungkan ke dalam neraka setelah hari kiamat kelak.


Saya masih ingat betul dulu, ketika sudah memasuki waktu ashar dan matahari mulai bersiap-siap untuk terbenam. Saya dan teman-teman terus berencana untuk mencari malam (red Madura: nyare malem) supaya adzan tidak terasa lama untuk ditunggu, sambil jalan-jalan menapaki indahnya perkampungan penduduk desa. Susana ramadhan yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan tak pernah disia-siakan. Lebih-lebih dalam urusan silaturahmi yang terus ditumbuh kembangkan dalam hati teman-teman di desa. Sekitar sepuluh menit atau 15 menit sebelum adzan Maghrib, saya dan teman-teman sudah mulai pulang berbalik arah untuk persiapan buka puasa, sekalian beli es batu sebagai pendingin minuman yang siap untuk berbuka.


Begitu juga dengan suasana keluarga yang cukup sederhana dan tak bermewah-mewah. Semenjak ibu masih ada, beliau sering buat kolak, apem, dan kue-kue tradisional khas desa saya. Rasanya sangat nikmat dengan kelengkapan keluarga yang sedang berkumpul baik waktu berbuka puasa, tarawih hingga sahur bersama dan lebaran bersama.


Tapi sekarang sudah berubah. Tak ada lagi orang yang bikin kue-kue seperti itu atau sedikit orang yang bikin kue-kue khas seperti itu, kecuali mereka yang terikat dengan bisnis. Kebanyakan diantara kita itu penginnya serba instan dan tidak mau berkreasi sendiri. Inilah belakang ini yang saya rasakan betul perubahannya.


Sama halnya dengan atmosfer ritual keagamaan yang cenderung menurun secara signifikan. Di desa saya dan begitu juga di desa-desa yang lain tentunya, mushola atau langgar yang sebelumnya tidak memakai pengeras suara atau speaker dalam melaksanakan ritual-ritual keagamaan, memasuki bulan ramadhan semua serentak mulai memakai pengeras suara atau speaker dalam melaksanakan ritual-ritual keagamaan, tidak lain dan tidak bukan semata-mata untuk menyambut bulan suci ramadhan yang penuh berkah dan memeriahkan ritual-ritual keagamaan itu sendiri yang tentunya memiliki nilai lebih daripada bulan-bulan lainnya. Inilah suasana Ramadhan yang saat ini juga mengalami perubahan yang cukup signifikan. Suasana dulu tidak lagi saya rasakan begitu semarak dan meriah, suasana sahur yang biasanya ramai dengan orang yang membangunkan untuk sahur lewat loudspeaker tak lagi bising ditelinga.


Banyak “hal baru” lainnya terjadi. Dulu, orang puasa ya puasa, sekarang puasa belum dimulai saja, orang-orang sudah berdebat pro-kontra tentang keharusan warung makan menutup dirinya di siang hari, untuk menghormati yang berpuasa. Kaum lainnya bilang, yang tidak berpuasa juga perlu dihormati. Saya tak habis pikir, mereka itu mewakili siapa sih? Benarkah orang-orang yang berpuasa itu minta dihormati, salah satunya dengan warung yang tutup di siang hari? Apakah mereka menjalani puasa dengan berdiri sepanjang hari di dekat warung? Lalu, orang-orang yang tidak berpuasa, benarkah pula mereka juga minta dihormati? Mengapa isunya jadi mengerucut menjadi soal hormat-menghormati? Perdebatan yang aneh, tapi lebih aneh lagi, karena keanehan ini terus berulang tahun-tahun belakangan ini. Puasa jadi identik dengan keberisikan yang tak terperi. Belum lagi selalu muncul segerombol orang yang merasa berhak melakukan razia dan sweeping pada warung-warung yang tetap buka , dan pada orang-orang yang makan di situ, pada siang hari.


Barangkali orang-orang ini, yang selalu berdebat dan bikin aksi-aksi razia itu, diam-diam merasakan apa yang saya rasakan mereka sebenarnya mulai “bosan” dengan kewajiban berpuasa ini. Kau tahu, orang-orang yang bosan akan cenderung nyari gara-gara untuk mengalihkan perhatian, sambil berusaha menemukan kembali sebuah makna yang telah hilang. Makna itu adalah kegembiraan!


Wallahu a’lam bisshowab

Related Posts