Puasa Kok Emosian

Wijasalawa.com



Penulis: Moh. Syahri


Atorcator.Com – Saya sebenarnya pengin curhat tentang masalah saya, tapi rasanya kurang etis lah, gak pantaslah, bulan puasa seperti ini main curhat-curhatan kan mendingan tik-tokan aja sambil goyang-goyang menghibur diri. Daripada buang-buang energi dengan curhat yang gak berfaedah kan lebih baik numpuk pahala yang akan dinilai berlipat ganda oleh tuhan yang maha esa. Baik dengan cara saling berbagi pengetahuan yang baik dan benar terhadap orang lain.


Tetapi terkadang tidak menutup kemungkinan hal sebaliknya bisa terjadi. Meskipun sudah menyampaikan kebaikan kadang belum bisa dinilai benar oleh orang lain. Dan ini yang sering terjadi pada seseorang, cara menyampaikan kebenaran tidak dengan cara yang baik atau menyampaikan kebaikan tidak dengan cara yang benar. Sehingga hal seperti ini sering menyulut emosi berlebihan sampai lupa nikmatnya rasa humor. Emosi ya memang sifat manusiawi, tak kan bisa terlepas dari manusia. Orang yang gak pernah emosi berarti dia gak normal, ada gangguan pada pencernaan psikologisnya.


Cuma kan seperti ini, puasa ini kan pada intinya menahan atau mengendalikan, seperti apa yang sudah saya bahas pada tulisan-tulisan sebelumnya. Menahan tidak hanya pada rasa lapar dan haus saja, semua yang masih berhubungan dengan jasmani dan rohani harus bisa ditahan dan dikendalikan dengan sungguh-sungguh. Walaupun pada kenyataannya kita sering dipancing untuk membuat diri ini emosi, karena jujur saja tensi emosi pada saat puasa itu tetap sama dengan bulan-bulan lainnya, bahkan boleh jadi ada yang diatasnya karena sudah diselingi rasa lapar, haus, lemes dan lain sebagainya. Jangan sekali-kali memantik emosi karena rasa panas yang terdapat dalam emosi tidak bisa dikipas dengan uang.


Kalau hanya menahan lapar dan dahaga saja, banyak orang sudah melalui puasa dengan benar dan berhasil. Apalagi menahan hawa nafsu, ketidakadilan, inipun juga mungkin bisa dilewati dengan mudah. Anjuran dan tausiah tentang makna puasa untuk berbuat kebajikan, kebaikan dan menjauhi dosa mungkin salah satu pemicunya.


Di bulan puasa ini, Ada satu sifat, kebiasaan dan watak yg acapkali kita sulit menghilangkanya, yaitu emosi atau marah. Setiap selepas azan mahgrib (tentunya azan beneran, bukan contoh atau iklan tv) dan diperbolehkannya untuk berbuka, seringkali kita menjadi emosi atas apa yang menjadi ketidakadilan dalam hidup ini, rasa dendam di dunia maya karena perbedaan pandangan dan komentar yang saling sindir menyindir sangat mudah dibawa kedunia nyata.  Problem di dunia maya saja bisa sampai emosi ke dunia nyata. Apalagi problem itu memang di dunia nyata. Untung saja tidak sampai saling main bom-boman, kan tambah repot aparat kepolisian.


Dasarnya, ingin menebus semua keterbatasan dan ketidakbolehan di siang hari dengan pelampiasan yg maha hebat. Di malam hari menjadi waktu pelampiasan dahsyat. Jika emosi terhadap dahaga dan kelezatan saja kita tidak bisa mengerem dan menghilangkannya, bagaimana mungkin kita bisa belajar menjauh dan bahkan membunuh rasa emosi atas prilaku orang terhadap kita.


Menjauh dan membunuh emosi atas keterbatasan dan ketidakbolehan saat puasa di malam hari, adalah langkah awal untuk belajar menjadi org yg tidak pendendam atas apapun sikap dan perilaku buruk orang terhadap kita. Menahan lapar dan haus itu media untuk membersihkan jiwa, kenapa menjadi pedih? Seharusnya gembira ria, karena ini fasilitas yang disediakan untuk manusia pada bulan ini.


Puasa kok emosi…..
Mentang-mentang puasa rasa humor jadi hilang Becanda… dibilang ngomongin orang. Agak nyerempet dikit, marahnya kayak polisi nilang, itu puasa atau sedang ngadepin sidang? Hahahaha ๐Ÿ˜€


Puasa jangan baperan, di bulan puasa bukan tempat untuk baper kasian yang laperan gak kebagian baper. Puasa jangan sensi, perut kosong bibir kering yang seharusnya terkatup, malah ngoceh-ngoceh gak jelas, maki-maki gak jelas, kan kasian bibirmu tersiksa. Hehehehe


Terakhir, puasa itu santai jangan tegang.Yang tegang dan emosi itu biasanya orang yang tidak punya aktivitas khusus pada bulan puasa, baca Qur’an enggan baca buku enggan. Internet dan media sosial sering dijadikan tongkrongan. Sedangkan dirinya belum tamyiz dalam berinternet ria.


Salam damai dari santri perindu kedamaian


Wallahu a’lam bisshowab

Related Posts