Yang Beda Tidak Harus Dikungkung

Foto: saya ketika mengunjungi tempat
Peribadatan orang Kristen Sam Po Kong Semarang

Apa yang tercantum di dalam Al-Qur’an sangat jelas dan tegas bahwa perbedaan itu datang dari Allah SWT. Yang menentang perbedaan berarti menentang Allah SWT. Tak terkecuali pilihan politik, agama, pendapat dan lain sebagainya. Semua datang atas dasar apa yang sudah tercantum dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
ولوشاءالله لجعلكم أمة واحدة ولكن يضل الله من يشاء ويهدي من يشاء ولتسئلن عما كنتم تعلمون
“Jika Allah menghendaki niscaya dia akan menjadikan satu umat saja, tapi dia menyesatkan siapa yang dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. Tetapi kamu akan ditanya tentang apa yang kami kerjakan”.

Perbedaan yang sering muncul dipermukaan cenderung banyak memicu konflik yang serius. Yang tak kalah mirisnya konflik seperti itu sering menjadi instrumen perpecahan dan perseteruan antara kelompok satu dan kelompok lain. Padahal perbedaan itu adalah Rahmat dan kekuatan yang harus terus dijaga dan dikawal demi keutuhan NKRI.

Memasuki tahun politik yang semakin ketat ini, tidak mungkin lepas dari sebuah perbedaan. Beda dalam pilihan politik merupakan sebuah keniscayaan, inilah wujud demokrasi kita. Perbedaan dalam politik dan dalam hal apapun lebih-lebih soal agama tidak harus bernafaskan kebencian. Apalagi sampai memutuskan tali persaudaraan. Terlalu hina diri ini, jika karena hanya perbedaan politik dan agama lantas kita harus bersikap mengintimidasi dan melakukan persekusi.

Dalam hal apapun termasuk dalam arena diskusi, jika tidak ada perbedaan pandangan maka atmosfer diskusi itu kurang begitu menarik dan menantang. Disitulah adu gagasan dan ide-ide muncul sebagai wujud dari demokrasi kita. Perbedaan pandangan dalam segala aspek kehidupan sepatutnya kita harus saling menghargai sebagai cermin dari Pancasila kita yang kedua yakni, ‘Kemanusian yang adil dan beradab’ dalam sila ini menghargai orang, baik dari sisi perbedaan pandangan dan pilihan politiknya adalah sebuah usaha dalam memanusiakan manusia. Kunci inilah yang sering dilupakan oleh sesama. Dalam pergaulan sehari-hari banyak yang tidak peduli dengan tiga kunci itu yakni sebagai manusia, bersikap adil terhadap manusia, dan beradab terhadap manusia lain. Dengan semua ini, saya memberikan konklusi bahwa memanusiakan manusia itu merupakan wujud dari nilai-nilai Pancasila, yang mana Pancasila tersebut merupakan representasi dari Alquran dan hadis.

Serasehan, diskusi dan sharing bersama
Tentang Radikalisme

Mengutip dari apa yang disampaikan prof. imam Suprayogo, ‘Biasanya yang terjadi, bahwa seseorang tatkala melihat orang lain dari berbagai perspektif, mulai dari yang negatif hingga yang paling positif. Cara yang paling mudah bagi semua orang adalah melihat orang lain dari perspektif negatif. Siapapun bisa melakukannya tanpa perlu diajarkan. Selemah-lemah orang akan mampu melihat orang lain dari perspektif negatifnya. Sebaliknya, adalah tidak mudah bagi melihat orang lain dari perspektif positifnya. Oleh karena itu, kualitas seseorang kadang dilihat dari kemampuan melihat sisi-sisi positif terhadap orang lain.

Syekh Rasyid Ridha mengingatkan kita: “mari kita bekerjasama pada hal-hal yang kita sepakati, dan saling menghormati pada hal-hal yang kita berbeda pandangan”. dan begitupun Rasullullah mengingat kita, Sewaktu ada iringan jenazah lewat, maka Nabi Muhammad berdiri. Ada sahabat yang memberitahu bahwa itu jenazah seorang Yahudi. Nabi tetap berdiri bersikap menghormatinya dan berkata: “bukankah Yahudi itu juga manusia?”. Nabi hendak mengajarkan bahwa menghormati orang itu dengan mengedepankan sisi kemanusiaan kita, baru kemudian urusan suku, status sosial apalagi urusan politik.

Jenazah orang yahudi saja Rasulullah masih menghormat. Sekujur tubuh yang tidak ada ruhnya Rasullullah masih menunjukkan rasa hormatnya. Bayangkan dikehidupan kita sekarang ini orang yang masih tegak lurus dan bernyawa banyak diperlakukan seperti binatang buas yang tidak punya harga diri. Pergeseran moral, dekadensi moral sudah nampak dihadapan kita. Dospotisme dan ekstrimisme menjadi senjata dalam menuntut orang untuk disamaratakan.

Kita sebagai umat beliau sepatutnya harus mencontoh beliau, jika tidak bisa seluruhnya maka ambillah semampunya. Dan jika hal itu masih berat untuk dilakukan minimal ada keinginan untuk meniru pola hidup beliau.

Amien

Wallahu a’lam bisshowab

Tulisan pernah dimuat di Geotimes.co.id

Related Posts