Atmosfer Politik Saat TGB Merapat Ke Jokowi

Google
Ada peristiwa menarik yang muncul di ruang publik kali ini, pernyataan mantan gubernur NTB 2 periode ini sontak mengundang komentar dan reaksi banyak orang. TGB (tuan guru bajang) Muhammad Zainul Majdi menjadi sorotan publik setelah melontarkan dukungan kepada presiden Joko Widodo 2 periode.
“Suatu transformasi enggak cukup hanya lima tahun, ketika periodisasi maksimal 10 tahun. Saya rasa sangat fair kita beri kesempatan Beliau untuk kembali melanjutkan,” ucap TGB menyatakan dukungannya pada Jokowi untuk dua periode memimpin Indonesia.
Pernyataan TGB tentu akan memberikan interpretasi kurang baik bagi kesehatan berpikir mereka apalagi bagi seorang politisi dan elit-elit politik. Lebih-lebih munculnya banyak persepsi yang keluar sebagai bentuk perlawanan. Dan ini terbukti linimasa media sosial banyak berisi hujatan, sebutan ustad cebonglah, ustad penjilatlah dan untungnya tidak disebut ustad kampret.
Saya melihat, munculnya para penghujat, pembenci dan pembuat onar yang ditujukan kepada TGB bias dari perlakuan mereka kepada pemerintahan Joko Widodo, ya wajar-wajar sajalah. Membenci atas nama politik memang hal yang sudah pasti dialami, jangankan masalah haluan politik, beda pandangan dalam satu partai politik saja banyak orang berani saling sikut menyikut, gampang benci, gampang mengkalaim dirinya paling benar sehingga yang lain salah semua.
Siapapun jika ingin berpolitik dan mau terjun ke dunia politik harus siap dan berani menerima dua kemungkin, siap gembira dan siap kecewa. Seorang politisi dan pekerja partai politik saat menjelang pemilu akan melimbang luar biasa untuk mendapatkan pengaruh dan simpati masyarakat, apalagi ditengah-tengah perhelatan politik tersebut banyak ditengarai oleh seorang negarawan sekaligus agamawan. Mereka akan bersemangat untuk meraup kekuasaan dari tangan-tangan mereka yang tak beradab.
Saya mengakui betul bahwa TGB Muhammad Zainul Majdi adalah seorang ulama, politisi dan birokrat, artinya beliau seorang pejuang dari segala lini menuju peradaban, tokoh agama sekaligus tokoh politik. Dedikasi beliau terhadap kedaulatan NKRI sudah banyak terbukti setelah ia menjabat sebagai gubernur NTB 2 periode berturut-turut.
Kecemasan dan kekecewaan yang ditunjukkan oleh mereka yang tidak menyukai pernyataan TGB tentu sangat mudah dibaca. Kebencian, fitnah dan hoax yang terus dihembuskan menunjukkan bahwa akal mereka kurang sehat ada konsleting dengan jalur pikirannya. Politik memang memiliki logika sendiri. Dan logika tersebut akan dilogikan berdasarkan kepentingan mereka sendiri. Bagi seorang politisi yang bernafsu dengan kekuasan mereka hanya berpikir popularitas, kemenangan, dan kebesaran partai politik praktisnya. Dan ini yang banyak ditemui belakangan ini.
Maka jangan terlalu heran, jika kehidupan ini sehari-hari diwarnai oleh suasana saling menjatuhkan, tuduh menuduh, menghasut, konflik, memfitnah dan sejenisnya. Maka, jika direnungkan secara mendalam, suasana yang terjadi hampir tidak ada bedanya dengan kehidupan makhluk lain yang tidak berakal. Siapa yang kuat, merekalah yang menang. Tentu bagi orang yang hidupnya menghendaki suasana damai, sejuk, tenang, dan kekeluargaan, tidak mungkin mendramatisir seseorang yang seolah-olah buruk dan mengklaim menodai agama mereka. Sungguh aneh dan lucucucucucu.
Pemahaman TGB tentang siyasah Islam (politik Islam) membuat dirinya punya bashiroh (pandangan hati nurani berdasarkan ilmu spiritual) sendiri dalam menentukan haluan politiknya. Sebagai orang yang bukan politisi dan tidak terkait dengan partai politik apapun, pasti akan tetap respek dan toleran terhadap pernyataan TGB. Tetapi bagi seorang politisi dan birokrat akan memiliki sikap tsendiri dalam menanggapi hal itu, yang dulunya ngedumel sekarang malah memuji dan memuliakan setinggi mungkin, yang dulunya memuji dan memuliakan sekarang malah menghina dan menghujat sekeras mungkin.
Bagi saya keputusan yang diambil oleh TGB berdasarkan akal sehat dan keumatan, mementingkan persatuan dan kesatuan, menghindari politik identitas, bersikap realistis. Bagi kalangan santri beliau bukan hanya sekedar tokoh politik yang mengisi ruang lingkup kepemerintahan tetapi tokoh figur yang menginspirasi banyak santri. Sebagai hafidz dan ketua alumni Al-Azhar Mesir yang dikenal dengan pusat peradaban ilmu, beliau sudah banyak memberikan suntikan religiusitas dan suntikan motivasi bagi santri nusantara ini.
Perjuangan beliau memang tidak seheroik Gusdur dulu, tetapi beliau termasuk salah satu penerusnya. Sebagai santri yang mampu menempati posisi sebagai pejabat negara tentu sangat ditunggu-tunggu kiprahnya. Sangat jarang sekali menurut saya menemukan sosok seperti beliau yang hafal Al-Qur’an dan paham akan kitab-kitab klasik, seperti kitab tsurats, dan kitab-kitab kuning yang menjadi rujukan kaum santri di nusantara ini seperti Gusdur dulu.
Tanggapan yang dikemukakan oleh TGB mengenai hujatan dan celaan yang setiap hari dipertontonkan tanpa henti, membuat dirinya tetap kokoh, tidak goyah dan berkomitmen. Beliau tetap bersandar pada Tuhan yang maha menciptakan segalanya, tidak bersandar kepada siapapun yang memberikan keuntungan keberpihakan. Beliau terus menjaga marwah islam yang rahmatan lil Al-Amin, semangat persatuan, semangat persaudaraan. Yang menjadi perhatian khusus dan utama adalah sikap TGB dalam menanggapi hujatan tersebut, tidak melawan dengan hujatan, tetap adem dan memaklimi. Salut sekaligus menginspirasi.
Mari kita junjung tinggi nilai-nilai keislaman kita, orang Islam adalah saudara seagama, orang non Islam adalah saudara kemanusiaan. NKRI itu harga mati jangan sampai menjadi harga murahan gara-gara birokratnya terus menerus diliputi kebencian, fitnah dan hoax demi merebut kekuasaan dengan cara-cara yang tidak berprikemanusiaan dan tak beradab.
Wallahu a’lam bisshowab
Santri Mahasiswa Al-Hikam Malang

Related Posts