Berbicara, Soal Keberanian Bukan Kemampuan

Sumber foto: wali sembilan.com



Penulis: Moh Syahri

Tidak hanya dalam satu kesempatan, saya dihadapkan dengan seseorang yang selalu menyecar pertanyaan, kawan, piye carane lek mau ngomong koyok sampean? Ini pertanyaan yang banyak saya dapatkan dari seorang kawan baik dari kalangan akademisi, praktisi dan santri saat saya menghadiri acara simposium dan diskusi. Entah apa yang mereka temui dari diri saya ini ketika hendak berbicara baik berbicara didepan publik ataupun hanya sekedar diskusi di kelas maupun di tempat yang terbatas.
Kelincahan dalam berbicara memang satu sisi sangat penting, hanya saja hal ini banyak diantara mereka yang masih gagap dan enggan untuk berbicara, bukan berarti mereka gak bisa atau gak ahli, dikarenakan tidak biasa dan tidak dibiasakan. Dalam hal bicara memang memiliki konsekuensi dan resiko yang harus dipertanggungjawabkan lebih-lebih saat mengutarakan sesuatu di depan publik. Hal ini seharusnya tidak boleh dijadikan alasan penghambat berbicara karena tidak bisa bertanggung jawab atas apa yang mereka utarakan. Tetapi jadikanlah hal ini sebagai tantangan untuk terus bisa berbicara walaupun harus diminta pertanggungjawaban.
Hal mendasar untuk melatih keberanian berbicara adalah berani bertanya saat diskusi dan berani menjawab, walaupun itu hanya pertanyaan dan jawaban yang sederhana. Berangkat dari itu semua, akan bisa membangun keberanian dalam berbicara.
Misalnya dalam diskusi dan forum-forum ilmiah, banyak saya temui diantara mahasiswa maupun kalangan santri masih enggan dan gagap berbicara untuk mengungkapkan gagasannya atau hanya sekedar bertanya, mereka lebih banyak diam daripada berbicara, mereka masih menganggap bahwa diam adalah emas, namun saat di luar forum banyak yang pintar berbicara. Bahkan melebihi apa yang dibicarakan saat forum berlangsung. Boleh jadi diamnya itu hanya sekedar untuk mencari aman. Ini yang sangat berbahaya terhadap diri mereka sendiri.
Saya sudah melewati fase-fase seperti itu, dulu saya adalah orang yang paling males diajak bicara, malu, dan takut apalagi berdebat dan diskusi. Tapi setelah saya mondok, kebetulan di pondok ada program muhadhoroh dan diskusi (Bahtsul Masail), saya memberanikan diri untuk ikut terlibat dalam kegiatan itu, dengan bertanya dan menjawab. Awalnya saya juga gugup. Jawaban dan pertanyaan yang saya lontarkan terus dibantah habis-habisan oleh teman-teman, pertanyaan tidak berbobotkah, jawaban tidak masuk akal. Semuanya saya nikmati dengan gembira dan senang hati dengan terus mencoba memperbaiki diri (introspeksi diri). Seiring dengan berjalannya waktu, Alhamdulillah saya bisa mengisi kultum, memberi sambutan dan moderator seminar tingkat nasional berkali-kali.
Saya melihat berbicara bukan soal kemampuan tapi soal keberanian dan kebiasaan. Generasi kita masih banyak yang takut untuk mengungkapkan gagasannya di depan publik baik secara verbal maupun nonverbal. Berani berbicara dan menuangkan gagasan merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri
Berbicara di depan publik memang tidak mudah, butuh persiapan yang matang, lebih-lebih melatih mental. Karena mental yang kuat akan menentukan alur pembicaraan. Tak jarang saya jumpai beberapa mahasiswa dan kalangan santri yang sudah memiliki mental yang luar biasa namun apa yang dibicarakan tetap tidak mengenak terhadap esensi pembicaranya. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman terhadap apa yang dibicarakan. Salah satu contoh saat diskusi atau dalam bahasa pesantrennya, Bahtsul Masail, atau dalam berpidato.
Bagi orang yang sudah biasa memberi sambutan atau berpidato di depan banyak orang, maka ia tidak akan ragu dan mundur untuk menyambut hal itu, akan tetapi bagi mereka yang tidak terbiasa berbicara di hadapan orang banyak, berpidato dan berdiskusi dengan tanpa ampun mereka akan mundur dengan sendirinya.
Melihat fenomena ini saya langsung terbesit dalam benak saya, bahwa proses belajar yang kita tekuni setiap hari banyak dilatih untuk mendengarkan saja, yang hal itu sangat berpengaruh terhadap kecakapan siswa ataupun mahasiswa dalam berbicara. Proses seperti ini rasanya kurang efektif dalam melatih siswa ataupun mahasiswa untuk melatih kecakapan berbicara. Akibatnya siswa ataupun mahasiswa dibuat pasif di kelas.
Siswa ataupun mahasiswa seharusnya dilatih untuk berani mengungkapkan pikiran-pikirannya baik di kemas dalam bentuk diskusi ataupun yang lain, baik secara tulisan ataupun tidak. Proses belajar dengan pola seperti itu sebaiknya perlu ditingkatkan lagi. Agar pembicaraan di dalam kelas tidak hanya didominasi oleh guru melainkan siswa juga mampu berbicara dan berani’ mengungkapkan gagasannya.
Apa penyebab dari semua ini sehingga kita terus terlelap, menunduk dan tidak bisa angkat bicara, satu hal yang perlu diperhatikan yaitu mengubah mindset dan kultur. Seorang pendidik harus sepenuhnya memberikan kebebasan dalam menciptakan sesuatu. Dengan pengawasan yang ketat tanpa harus mengekang  dan tidak keluar dari batas normal. Sehingga tujuan utama dari proses belajar akan mudah tercapai, baik dari sisi moral maupun keahlian (profesional).
Wallahu a’lam

Related Posts