Lebih Baik Kalah Dengan Negara Lain Asalkan Bukan Dengan Malaysia

Perjuangan yang cukup membanggakan buat timnas U-19 yang baru saja bertanding melawan Malaysia di semi final piala AFF 2018. Walaupun akhirnya berakhir dengan Kekalahan. Kekalahan adalah akumulasi dari banyaknya kesalahan. Kemenangan adalah akumulasi dari banyaknya kebenaran.

Saya tidak habis pikir dengan timnas kita yang setiap bertanding dengan Malaysia selalu kalah dan kalah. Timnas kita tidak perlu diwanti-wanti untuk terus belajar dari kekalahan dan kesalahan. Ia sudah menyelami dunia kekalahan yang nyata dan berulang-ulang kali.

Sepertinya mindset timnas kita perlu dirubah “kita tidak perlu belajar dari kekalahan dan kesalahan tapi kita harus belajar dari kemenangan dan kebenaran”. Mungkin dengan mindset seperti ini dapat meningkatkan kualitas permainan, dapat memenangkan permainan walaupun hanya dengan skor tipis. Memang permainan pasti ada kalah dan menang, tetapi kemenangan tetap menjadi dambaan dan prioritas. paling tidak jika harus kalah, kalahlah dengan terhormat.

Kalah terhormat artinya, kekalahan itu bukan pengaruh kultur pertandingan di Liga Indonesia tempat asal pemain Timnas yang cenderung kasar dan brutal. Sementara hal itu tidak menunjukkan ciri permainan bola level internasional. Sebenarnya itu adalah harapan para suporter yang tulus mencintai negara dan bangsanya melalui sepakbola.

Timnas Malaysia adalah rival klasik Indonesia. Ketika kedua tim ini harus dipertemukan baik di level penyisihan atau kejuaraan layaknya partai final, adu gengsi, dan tidak mau dikalahkan. Adu gengsi jelas masuk kategori pertaruhan harga diri. Harga diri inilah sering bernuansa politik bagi kedua negara ini.

Terasa kurang menarik jika dalam pertandingan timnas Indonesia tidak menyertakan timnas Malaysia. Pertarungan kedua tim ini di lapangan hijau jelas akan memberikan warna tersendiri bagi penonton dan suporter Indonesia. Pendukung kedua tim ini sangat antusias sekali. Melihat antusiasme para suporter yang luar biasa tentu akan memberikan angin segar bagi kedua timnas. Suporter sangatlah penting dalam menjaga mental anak-anak muda berbakat itu. Suporter boleh gemuruh dan segemuruh mungkin demi menyuarakan kemenangan, mensuport dan suntikan semangat buat timnas kita.

Dulu “Malaysia menang di level kebugaran sedangkan Indonesia menang skill  individu pemain. Malaysia punya blok pertahanan yang baik, tapi akan sedikit kesulitan jika terkena serangan balik.” Itu kata Rahmad Darmawan ketika masih menangani timnas Indonesia. Tapi untuk saat ini tidak demikian, justru semua sudah hampir dimiliki timnas Indonesia. Hanya saja yang menjadi pertanyaan besar adalah ketika bermain dengan Malaysia talenta dan bakat yang mereka memiliki seolah-olah ciyut dan tak berfungsi apa-apa di tengah lapangan.

Timnas Malaysia tetap menjadi bumerang bagi timnas Indonesia. Timnas Malaysia tetap menjadi rival terberat sepanjang masa. Malaysia menjadi musuh utama dalam kompetensi sepakbola, IP layaknya elclasico, Real Madrid vs Barcelona.

Ketegangan dan kecemasan akan terus menyelimuti para penonton dan suporter saat kedua tim ini berlaga. Kemenangan tetap akan menjadi dambaan sepanjang masa. Timnas Indonesia tidak hanya kalah dalam satu atau dua pertandingan saja, tetapi sudah berkali-kali.  Timnas Indonesia dan pelatihnya sebenarnya sudah paham betul, bagaimana cara menguasai jalannya pertandingan saat berlaga dengan Malaysia, bagaimana cara mengontrol emosi anak-anak saat harus diprovokasi.

Kesempatan menang tetap tidak memihak, Timnas kita tetap di anugerahi kekalahan yang terus menjadi-jadi. Timnas Malaysia tidak pernah kapok menghajar timnas Indonesia, begitu juga dengan timnas Indonesia, ia tak merasa kapok dihajar.

Mengalahkan timnas Malaysia memang tidak mudah. Tidak semudah mengalahkan timnas Singapura, Filipina, laos dan kamboja. Butuh ekstra keras dan kehati-hatian. Butuh sinergi antara pendukung dan pemain. Masyarakat pecinta bola di belahan bumi nusantara ini pasti tidak henti-hentinya mendoakan timnas kita. Mendoakan yang terbaik, menang dan juara. Lebih-lebih saat bertanding dengan Malaysia. Karena dari sekian banyak pertandingan Malaysialah yang sering menjadi penghambat timnas Indonesia untuk melaju ke final.

Negara kita ini memang dikenal dengan negara mistis, mendoakan seseorang memang sebuah keniscayaan, apalagi mendoakan pejuang negeri ini. Mendoakan adalah modal utama bangsa kita, kekalahan Timnas Indonesia dari Malaysia bukan karena tidak didoakan, jangankan negara sendiri, negara lain saja didoakan, makanya Kroasia sudah bisa masuk final, itu berkat doa orang Indonesia juga. Sayangnya Indonesia gagal. Ada apa dengan timnas kita ini.


“Lebih baik kalah dengan negara lain, asalkan jangan dengan Malaysia”. kalah dengan Malaysia rasanya lebih menyakitkan dibanding kalah dengan negara lain.

Kemenangan akan membawa nuansa kebanggaan yang luar biasa. Sama halnya juga kalau kekalahan berarti sakitnya lebih luar biasa.

Apa pun hasilnya, kita tetap dukung Timnas kita

Sumber foto: tribun news

Wallahu a’lam bisshowab

Related Posts