Alasan Ilmiah, Kenapa Kiai Ini Enggan Mengikutsertakan Santrinya Dalam Lomba Kitab dan Alquran

Penulis: Moh Syahri


Pada suatu siang terik matahari. Saya coba jalan mengelilingi ibu kota Malang, tak sadar ketemu dengan teman lama atau senior saya dulu di pondok yang kini sedang menempuh studi S3 nya. Dia keturunan dari seorang kiai kampung yang pekerjaan sehari-harinya hanya molang atau ngajar anak-anak sekitar dan anak-anak yang dititipkan dari luar.


Kami coba bernostalgia lewat cerita-cerita sederhana yang dulu pernah kita alami bersama ketika di pondok. Tentu kami ketawa sangat lepas ketika mengingat masa lalu dengan cerita-cerita konyol yang pernah dilalui bersama.


Di tengah-tengah perbincangan yang hangat itu, saya coba bertanya satu hal yang membuat saya penasaran dari dulu dari keluarga beliau yang sangat anti dan bahkan bisa dibilang alergi terhadap lomba kitab dan Alquran. Selain kiai Arwani ternyata ada juga kiai kampung yang sangat keras melarang santrinya untuk mengikuti lomba.


Sebenarnya pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya cukup membuatku terkesiap. Dari dulu dia memang dikenal dengan sosok pemikir, sering gelisah dengan keadaan sekitar dan punya himmah yang tinggi atas sesuatu yang belum tau kepastiannya.


Mendengar pertanyaan saya itu, dia justru ketawa, “belum ada lo yang berani nanyak seperti itu ke saya apalagi ke ayah saya, semuanya pada tunduk, kamu kok berani sekali, ujarnya sambil ketawa-ketawa ngakak.


Tapi dia tetap menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang sangat ilmiah menurut saya. Dengan ketinggian ilmu yang dia miliki mampu mensinergikan antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan ruhaniah.


Menurutnya, pemenang lomba secara psikologis cenderung sum’ah, riya’ bahkan tafakhur dan ujub. Itu yang nantinya mengurangi kebermanfaatan ilmu. Secara teori psikologi, setiap orang punya kecenderungan direkognisi/diakui sebagai orang yang punya kelebihan dan sanjungan dan ini menggiring dirinya untuk mencitrakan dirinya orang hebat yang dielukan oleh orang lain. Situasi ini yang menyebabkan kebanyakan orang lost control jdi lupa diri yang semula melukakan aktivitas dengan motivasi ilahiyah menjadi motif pencitraan.


Disisi lain kitab dan hal-halnya yang terkait dengan kitab utamanya memiliki medan perlombaan sendiri yag disebut fafirru ilallah. Jadi perlombaan yang sebenarnya menurut dia bukan dipanggung yang dinilai juri tapi di area nyata berupa karya dan kontribusi yang dinilai Allah langsung.


Dalam pendekatan empiris’,  menurutnya Orang-orang dengan jasa besar terhadap perubahan dunia adalah orang tidak bermutu dalam penilaian manusia pada awalnya tetapi mereka mampu menemukan karya bukan untuk dilihat orang tapi untuk bermanfaat bagi orang lain dan dirinya. Contohnya bill gate, philipt, Albert Einstein. Coba kamu lihat sejarah hidupnya? Apakah kesuksesannya dimulai dari kemenangan diajang juara? Tidak. Kita tidak menampik bahwa ada orang yang berhasil terjebak dari misteri diatas. Artinya meskipun juara hatinya tidak berubah fokusnya tapi itu sedikit sekali.


Selain itu ada banyak hal yang ingin kita perbincangkan. Namun, karena waktu tidak memungkinkan terpaksa kita berdua harus memisahkan diri. Tapi ada banyak hal yang saya dapat dari dia, dia sama sekali tidak takut dan berani menyatakan pendapatnya ke khalayak umum sekalipun itu akan menimbulkan polemik dan kontroversial selama pernyataan itu bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan komprehensif.


Dan yang terkahir dari dia “kalau kamu misalkan mau ikut lomba, ya itu gak papa, kamu pasti punya pertimbangan khusus” Artinya dia sama sekali ingin mengintervensi apalagi menyalahkan pemikiran orang lain yang tidak sependapat dengannya. Dia hanya berusaha dan mencoba menahan diri dari arus yang sangat pragmatis.


Wallahu a’lam


Sumber Foto: SantriMenulis.com

Related Posts