Pengalaman Adu Cepat Membaca



Saya dulu memiliki pengalaman membaca yang jika sekarang diingat kembali sungguh membuat saya ingin kembali ke masa itu. Pada masa itu saya yang masih kira-kira kelas 1 MI (sederajat SD) memiliki kegemaran dan minat membaca yang lumayan tinggi. Saking tingginya saya seringkali ngajak teman untuk adu cepat membaca buku.


Hanya sebatas membaca belum bisa memahami. Dulu, bagi saya mau membaca saja sudah Alhamdulillah.


Ketika pulang sekolah biasanya saya langsung ke rumah teman saya itu untuk bermain, kebetulan dia cucu dari seorang petinggi desa lebih tepatnya sekretaris desa. Nah, setiap kali saya ke sana seringkali saya melihat buku saku kecil UUD 1945 yang harganya sekarang itu 5000 di pasar buku bercecer di meja pak sekdes itu.


Awalnya bukan keinginan saya untuk membaca, saya ke sana hanya untuk main saja, tapi kakek dia sering menyuguhi buku kecil iru ke saya dan cucunya itu. Beliau pernah ngomong gini, “Mon been bisa maca deri halaman dinnak ka dinnak, bik sengkok eperriknah nginum kopi” (kalau kamu bisa baca dari halaman ini ke halaman ini, saya kasih minum kopi).


Saya semangat sekali membaca walaupun tak tau apa maksud yang saya baca, bukan karena apa? Bagi saya, kopi pak sekdes ini pastinya beda dengan kopi-kopi yang lain. Itu saja.

Baca juga: Oase Berjalan itu Para Pembaca Buku



Setiap kali main ke sana selalu disuguhi buku, sampai saya terbiasa juga, setiap ke sana saya selalu membaca buku saku UUD 1945 itu walaupun tanpa disuruh oleh beliau. Melihat kebiasaan ini, beliau nampak senang sekali melihat kita berdua sudah mulai terbiasa membaca buku meskipun ketika ditanya maksudnya tidak tau.


Kemudian beliau menjelaskan apa yang dimaksud dalam buku yang dibaca kita berdua itu, dari mulai pasalnya sampai ayat-ayatnya. Sekalipun sudah dijelaskan ternyata saya belum paham juga, maklum masih anak MI/SD tapi kadang saya -pura paham saja, saya yakin teman saya juga seperti itu. Ya itu saya, pura-pura paham itu ternyata bodoh yang sebenarnya.


Tibalah pada saat dimana saya ditantang adu cepat membaca dengan cucunya. “Gimana kalau kalian berdua saya adu cepat membaca” kata beliau.


Dalam hati saya membatin “pasti ini hadiahnya kopi nanti”. Ternyata betul hadiahnya kopi. Bergegas saya siap-siap untuk memulai latihan membaca berulang-ulang demi secangkir kopi. Begitu juga dengan lawan saya itu tidak kalah semangatnya.


Ternyata setelah selesai beradu cepat membaca, kopi itu berpihak ke saya. Sekalipun saya yang unggul dan menang tetap pada akhirnya kita berdua sama-sama minum kopi. Artinya di mata beliau kita berdua adalah pemenang karena sudah mau membaca bukan karena cepat atau tidaknya.


Itulah segelumit cerita saya dulu, yang jika sekarang mau mencari orang-orang seperti itu rasanya sangat sulit, karena hadiahnya hanya kopi bukan uang. Yakin ada yang mau membaca dengan hadiah kopi? Hampir mustahil, kita semua sudah terbius uang dan mata duitan.


Wallahu a’lam


Sumber Foto: Tangga.id

Related Posts