Tujuan Diciptakannya Lisan Menurut Al-Ghazali - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Rabu, Januari 30, 2019

Tujuan Diciptakannya Lisan Menurut Al-Ghazali



Penulis: Moh. Syahri

Di dalam kitab Bidayatul Hidayah Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan bahwa, ada empat tujuan kenapa lisan ini diciptakan oleh Allah Swt.

Pertamazikrullah (memperbanyak mengingat Allah). Dalam tataran praktisnya, belakangan ini, mengingat Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara dan dalam keadaan apapun, tak terkecuali melalui cara yang hukumnya wajib tidak bisa dinegosiasi seperti salat. Mengingat Allah merupakan sebuah kewajiban kita sebagai makhluk ciptaanNya yang tidak boleh dibatasi oleh tempat, waktu dan keadaan.

Masyarakat kita masih banyak yang terjebak dalam situasi zaman kebodohan yang kronis, yakni orang-orang dan kelompok tertentu yang merasa paling dekat dengan Tuhan dan tahu maksud Tuhan. Sehingga kelompok lain salah, dan akhirnya disesatkan. Allah itu satu, sendiri dan bersembunyi. Allah memperlihatkan dirinya dengan segala penciptaannya agar supaya manusia bisa kenal, bisa menalar, dan tentu bisa dijadikan tempat bertumpunya semua makhluk untuk memohonkan segala permohonan.


Dengan demikian, pendekatan dalam rangka untuk mengingat Allah tidak hanya bisa dilakukan dalam bentuk ibadah individual tetap bisa dengan ibadah sosial atau pergaulan sosial. Itulah kenapa Allah Swt. disebut sebagai maha yang tak terbatas dan tak terhingga dan melampaui ruang dan waktu.

Kedua, membaca Alquran. Dengan membaca Alquran, manusia akan banyak mendapatkan inspirasi dan motivasi dalam spirit beragama. Maka di sinilah sebenarnya peran penting lisan diciptakan oleh Allah Swt. sebagai pengingat bahwa tugas utama lisan adalah membaca ayat-ayat Allah. Maka membaca Alquran adalah salah satu kemuliaan besar dibanding kemuliaan-kemuliaan membaca yang lain, apalagi ditambah dengan pemahaman, pengetahuan serta pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, mengarahkan atau menuntun makhluk Allah kepada jalan yang benar (agama yang dijalani Rasulullah dan para sahabatnya). Di era sekarang ini banyak sekali para penceramah, mubalig ustad, kiai, dan tokoh agama yang melenceng dari tujuan utamanya. Berapa banyak mubalig yang masih suka jualan proyek melalui ormasnya.

Berapa banyak mubalig yang masih memasang tarif, dan seolah-olah jamaah dijadikan mesin ATM. Mubalig hadir di tengah-tengah masyarakat memiliki tugas mulia yaitu menyampaikan firman Allah dan sabda Nabi, namun pada saat yang sama mubalig juga bisa sebagai penasihat pemerintah dengan keilmuan dan pengetahuan.

Mubalig atau pendakwah adalah orang yang tidak hanya bermodalkan ilmu tapi juga etika. Etika ini adalah soal kepantasan. Kepantasan inilah yang mampu memberikan kewibawaan bagi seorang mubalig. Jangan karena kita berbeda dalam pilihan politik, lantas tidak mampu menuntun masyarakat kepada jalan yang diridhai Allah.

Mari kembali kepada tugas suci kita sebagai mubalig yang tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menuntun makhluk Allah kepada jalan yang benar, mengajak kepada kebaikan dan kebenaran. Bukan mengajak untuk membenci dan melaknat seseorang, bukan mengajak untuk memusuhi seseorang karena sebuah perbedaan.

Rasulullah adalah makhluk yang memiliki sikap lemah lembut kepada orang lain. Ketika Rasulullah berdakwah maka yang diutamakan adalah kelembutan dalam bertutur kata, kelembutan dalam bersikap. Dan dakwah Rasulullah berhasil bukan karena kekerasan, paksaan dan kegarangannya tetapi karena kelembutan dan kasih sayangnya.

Keempat, menampakkan isi hati melalui lisan demi memenuhi kebutuhan agama dan dunia. Contoh misalkan dalam memenuhi kebutuhan agama, ketika ada niat untuk berdzikir maka berzikirlah dengan lisan.

Adapun contoh dalam memenuhi kebutuhan dunia, misalkan, ketika hendak atau berniat menyuruh karyawan untuk bekerja maka segeralah menyuruh dengan lisan agar mereka bekerja dan paham akan maksud hati. Atau ketika kita hendak atau berniat mengkritik kebijakan pemerintah maka kritiklah dengan baik dan sopan secara verbal maupun nonverbal.

Maka pada bagian ini, dalam urusan agama dan urusan dunia hati tidak sepenuhnya menjadi prioritas untuk diandalkan. Maka perlulah lisan sebagai manifestasi dan pendukung dari isi hati untuk memperjelas.

Ketika lisan yang digunakan tidak sesuai dengan empat macam tujuan di atas maka sama halnya kita telah kufur nikmat.

Selengkapnya di sini

Sumber Foto: Hidayatullah.com