KH. Maimun Zubair dan KH. Thoifur Ali Wafa dengan Pilihan Politik yang Berbeda.



Sebagian kita masih saja suka mempermasalahkan hal-hal yang memang jadi keniscayaan, seperti perbedaan politik, perbedaan agama, dan perbedaan apapun. Sadar atau tidak negara ini negara yang Bhinneka Tunggal Ika, negara yang cinta dengan perbedaan. Jika kita tarik ke soal politik bukan sesuatu yang baru di kalangan ulama pun berbeda dalam pilihan politik. Dan itu sah-sah saja.


Ijtihad politik memang selalu ada di kalangan ulama, karena itu bagian dari refleksi keilmuan yang  mereka miliki. Jika banyak ijtihad dan hasilnya berbeda-beda itu hal biasa, nggak masalah, tidak perlu dipermasalahkan apalagi sampai berani menyalahkan.


Para kiai sudah menampakkan kedekmokrasiannya melalui ijtihad politiknya dengan segala perbedaan yang ada. Dan hasilnya harus kita terima dengan penuh kebijaksanaan dan kearifan. Bukan lantas menyalahkan atas perbedaan.


Seperti KH. Maimun Zubair, ulama sepuh sarang Rembang Jawa tengah yang kini berlabuh ke pilihan pak Jokowi-Ma’ruf, dan KH. Thoifur Ali Wafa, ulama Madura Mursyid Thariqah dari Ambunten Sumenep yang kini berlabuh ke Prabowo-Sandi. Ini salah satu bagian dari istikharah dan ijtihad politik yang berbeda. Tentunya masih banyak ulama-ulama lain yang juga berbeda. Tapi kali ini penulis lebih memilih dua ulama pesohor ini yang belakangan ini sangat gencar sekali dalam menentukan pilihan politiknya dan viral di sosial media.




Baca juga: Tujuan Diciptakannya Lisan Menurut Al-Ghazali



Kedua ulama besar ini bukan orang sembarangan, dan kealimannya pun tak perlu diragukan. Berapa banyak karya beliau dengan segala kemampuan dan keahliannya dalam meracik ilmu agama. Saya kira bukan lagi seperti kita yang suka berselancar di dunia maya dengan segala aktivitas kehidupan dunia yang seringkali bangga dengan kebahagiaan palsu.


Kita ini sama-sama cinta ulama, sering bahagia dengan wejangannya, dan seringkali merasakan keberkahan ilmunya melalui tausiahnya. Lantas kenapa harus membenci dengan perbedaan yang ada padanya. Jika kita cinta dengan ulama seharusnya juga cinta dan hormat dengan segala perbedaannya.


Kiai Maimun Zubair dan KH. Thoifur Ali Wafa adalah dua ulama yang berbeda dalam pilihan politik. Kedekatan emosional beliau tentu sangat intens, terbukti dengan dipersatukannya putri KH. Thoifur Ali Wafa dengan cucu KH. Maimun Zubair lewat pernikahan. Toh beliau berdua pun masih berbeda. Perbedaan keduanya itu tentu didasari oleh ilmu agama yang sangat komprehensif dan toleran.


Bagaimana cara menyikapi perbedaan itu? Siapa yang harus kita ikuti? Bagi saya pribadi kalian bebas mau ikut yang mana, dan sekalipun perbedaan itu muncul di tengah-tengah ulama pesohor, kita pun bebas tidak mengikutinya. Karena politik itu sangat demokratis. Asal tetap hormat dan santun.


Sekalipun kita dituntut untuk mengikuti mestinya kita harus punya pertimbangan lain yang bisa dijadikan penguat, biar tidak dianggap taklid buta.

Related Posts