NU, Demokrasi dan Para Predator - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Senin, Februari 25, 2019

NU, Demokrasi dan Para Predator




Atorcator.Com - Di bawah terik sengatan ultra-politik, tanpa sadar kita sering minum es campur hoax dengan toping ujaran kebencian serta mendinginkan gejolak dunia maya yang menggelegak justru dengan disinformasi berita yang tak jelas sumbernya. Nah, begitu musim hujan provokasi tak terbendung, hanya payung politisasi agama yang tersedia di tangan kita. Tiba-tiba, banjir bandang intoleransi menghanyutkan bangsa ini sampai ke tubir jurang disintegrasi.

Tak jauh beda dengan gerakan-gerakan fasisme Jerman dan Italia pada pertengahan abad ke-20 silam, propaganda dan provokasi menjadi mesin pengacau opini publik dengan dentuman informasi palsu dan gempuran berita bohong demi menggiring kemarahan dan sentimen massa menuju satu titik, yakni istana, penguasa, razim.

Dasawarsa ini, strategi disinformasi semakin mendapati kegilaannya dengan media sosial. Dampaknya apa, Kisanak? Media telah membentuk opini rakyat sedemikian rupa dan menyesatkan sedemikian gila seolah sedang terjadi polarisasi politik antara Islam dan non-Islam, polarisasi ekonomi antara pribumi versus asing dan berbagai varian gorengan isu lainnya yang mem-blow up habis-habisan bahwa (umat) Islam sedang dilecehkan dan ditindas. Praktis, 130 juta pengguna internet dan 90 juta umat Islam yang tak jelas mazhabnya apa menjadi kelinci percobaan dan pion-pion para predator bisnis, para oligark politik, para begundal demokrasi, para bromocorah penjual hukum, para cecunguk pengasong khilafah yang berkendara revolusi industri 4.0 alias big data. Berhsilkah mereka? Sangat! Bravo!

Media sosial tak ubahnya ladang subur bagi para pembenci, pencaci, mencemooh, pencemar, penggunting dalam lipatan, pembegal, pemancing, tengkulak keributan, pengembang provokasi, makelar propaganda dan peselancar negatif demi kepentingan gerombolan serigala berbulu ormas dan para pemangsa sumber daya, baik sumber daya alam, sumber daya manusia dan terutama sumber daya ideologi (Pancasila).

Digoreng dengan bumbu-bumbu politik, ditumis dengan aroma dan saus agama yang penuh intrik, direbus bersama kaldu sentimen etnik, dipanggang dengan bara isu komunis dan lantas disajikan di mulut-mulut mayoritas awam sebagai menu sehari-hari, tengik tapi nampak asyik, bikin ketagihan meski menyesatkan. Kita mengira bahwa media sosial sebagai realitas, padahal ia hiper-realiatas.

Satu berita diviralkan dan oleh buzzer-buzzer bayaran lalu diproyeksikan—misalnya—untuk mendiskreditkan golongan tertentu, menghujat yang berbeda agama dan paham, menjatuhkan lawan politik, menjegal kompetitor bisnis, menggulingkan penguasa, dan bahkan hendak mengganti ideologi Negara dengan dalih memperjuangkan "akal sehat". Satu istilah yang belakangan ini dikaburkan oleh para tengkulak.

Kepentingan para predator bisnis, para oligark politik, para begundal demokrasi, para bromocorah penjual hukum, para tengkulak isu SARA, para cecunguk pengasong khilafah yang dibungkus rapi dengan muslihat "bela agama" melalui gerakan masif populisme Kanan sungguh telah menghina akal sehat bangsa Indonesia.

Artinya, gerakan ini bukan inisiatif rakyat, bukan pula berangkat dari kesadaran umat, kerana para predator itu jelas-jelas "menyerang" ego, bukan rasio! Dengan kata lain, kemarahan publik berangkat dari "kesadaran palsu" yang dibentuk para tengkulak oligarki melalui media (sosial) secara masif dan terencana. Sudah tahu kan tukang goreng, tukang kipas, dan tukang sabunnya, juga para bandar yang membiayai mereka?

Berbeda dengan populisme Kiri yang progresif-demokratis, populisme Kanan malah anti-demokrasi, ultra-konservatif plus kolot 14 turunan. Populisme Kanan adalah gerakan menggiring kemarahan rakyat/umat (populus) kepada pemerintah dan rezim. Emosionalisasi politik SARA dengan provokasi dan demagogi yang keji serta ujaran kebencian ultra-jahiliyah sebenarnya bukan hal baru, ia sudah sangat kuno tapi lumayan mujarab bagi masyarakat tuna pustaka dan generasi milenial alergi baca, bahkan sangat ampuh bagi kaum otak cingkrang, bani cuti nalar permanen, kaum pentol korek-sumbu pendek, dan panasbung (pasukan nasi bungkus) pengasong simbol agama dan pemburu bulu ketiak bidadari.




Kerumunan yang murka melalui aksi demo berjilid-jilid dan bersilit-silit, politisasi agama dan agamaisasi politik, sentimentalisasi politik dan politik sentimen mengarah rasis adalah ciri utama yang paling mencolok dari gerakan populisme Kanan. Hasilnya apa? Jutaan kaum monaslimin-monaslimat alumni gerakan populisme Kanan itu yang mereka tidak tahu-sadari kecuali sebagai bela agama, titik! Para tengkulak untung, para predator senang, toleransi buntung, kebinekaan mengalami turbulensi, lalu terjun bebas.

Para pemimpin populis, misalnya Trump di Amerika Serikat, Greet Wilders di Belanda, Le Pen di Prancis, Jair Bolsonaro di Brazil, Lutzbachman di Jerman dan tentu saja Rizieq Shihab di Indonesia sangat efektif membangun citra seperti "obat kuat" bagi para pengikutnya serta manjadi "ego-ideal" bagi para pemujanya. "Kuat" terhadap apa? Kuat untuk cuti nalar dan tidak kritis sampai-sampai tindakan pemimpin populis junjungan mereka yang mencederai kemanusian, mengoyak kebinekaan dan mencederai hukum, mencaci agama lain, dianggap benar, mutlak benar. Konsekuensinya, siapapun yang menentang mereka pasti salah, auto-kafir dan combo-neraka. Pertanyaannya: bagaimana sikap NU, khusunya nahdliyyin milenial di tengah pusaran populisme Kanan?

Pertama, ngopi, kedua, ngopi (ngobrol pintar) dan sowan Kiai, ketiga, ngopi (ngolah pikiran) dan strategi bersama untuk terus menjaga kewarasan dan akal sehat melalui media sosial. Apa,sebab? Karena para pemuja selangkangan politik adalah pengikut setia mazhab cuti nalar. Tidak percaya? Berapa persen teman medsos Anda yang sudah mulai defisit otak dan berakal cingkrang selama dua tahun ini?

Well, melawan disinformasi dengan informasi yang benar adalah "jihad cyber" yang harus digalakkan oleh NU milenial. Mengapa? NU (para Kiai, santri, pesantren, nahdliyyin) adalah pendiri bangsa dan Negara, NU adalah pejuang di zaman revolusi kemerdekaan, penjaga marwah Pancasila, benteng NKRI yang kokoh. Adalah tidak masuk akal jika ada orang-orang yang teriak mengaku santri, mengaku paling NU, tetapi kemudian mau merobohkan "rumah" yang dahulu dibangun oleh leluhurnya sendiri. Siapapun yang merasa berasal dari tanah, pasti akan mencintai tanah airnya, tanah tumpah darahnya, kecuali ia tercipta dari tanah sengketa!

Para predator bisnis, para oligarki politik, para begundal demokrasi, para bromocorah penjual hukum, para cecunguk pengasong khilafah, dan tengkulak ayat-ayat suci tahu betul bahwa pintu masuk untuk merobohkan Indonesia adalah dengan merusak NU dari dalam, membenturkannya di luar, menjatuhkan martabat santri dan merongrong marwah Kiai dengan provokasi dan adu domba sana-sini.

Mereka lupa bahwa NU itu pawang, resi dan begawan. Begitu pawang datang, binatang-binatang buas dan liar manjadi jinak, terdiam dan tenang. Tidak perlu membunuh binatang buas, menjebak dan bahkan menyiram air keras untuk diawetkan. Pawang itu tenang, tidak gegabah. Tenang itu ciri pemenang, gegabah ciri orang kalah. Ujar-ujar lama tetap berlaku: 


Segala sesuatu ada ilmunya, segala sesuatu ada pawangnya! NU bukan hanya organisasi, sosok Kiai, santri, pesantren, kaum sarungan, NU adalah spirit kemanusiaan, kebangsaan dan nafas perjuangan. Siapapun yang melawan pawang, ia sedang menggali kuburnya sendiri!

Sebagai pawang, para Kiai NU tahu persis, bahkan sejak NKRI belum berdiri, populisme Kanan bukan solusi atas problem dan ketimpangan sosial, ia justru simptoma penyakit sosial. Harus diakui bahwa gerakan ini menyiratkan lemahnya fungsi pemerintahan demokratis di satu sisi, serta tangguhnya cengkeraman oligarki di sisi lain. Dan, ironisnya, ini terus berlangsung sampai sekarang. Bukankah pemerintah memiliki segala control panel untuk mendamaikan dan mengamankan gerakan ini? Tetapi mengapa seolah terjadi pembiaran? Lagi-lagi, para predator dan oligark yang bermain.

Mangsa paling empuk bagi populisme Kanan adalah demokrasi elektotal seperti sekarang ini, apa sebab? Karena saat pemilu dan suksesi kekuasaan berlangsung, dana sangat besar dari tangan-tangan predator digelontorkan. Dampaknya? Akal sehat menyusut, sikap kritis mengerdil, mekanisme hukum melemah, para tengkulak merajalela, dan banalitas terjadi di mana-mana.

Satu hal yang harus digarisbawahi, populisme Kanan tidak pernah memperkuat demokrasi, ia justru mengancam keutuhan nasional dengan memanfaatkan "fasilitas" demokrasi, yakni kebebasan menyampaikan pendapat. Nafsu, sebagaimana juga kebencian dan amuk massa, tak pernah dapat bersanding dengan argumen rasional. Kemarahan adalah sebuah situasi ketika ucapan dan tindakan meninggalkan nalar jernih dan bening budi. Populisme bukan pasangan ideal bagi Negara Pancasila, ia musuh dalam selimut dan di luar selimut. Para Kiai Nusantara sudah lama mengetahui intrik dan tipu-tipu surgawi kelas kandang kelinci macam ini, tinggal bagaimana generasi NU milenial meneladani gaya kepemimpinan "pawang-pawang" NU, misalnya: alm. Gus Dur, alm. Mbah Sahal Mahfudh, Mbah Maimun Zubair, Habib Luthfi, abah Gus Mus, yai Said Agil, dll.


Sebelum kopi habis, saya ingin bertanya: apakah dengan menjadi monaslimin-monaslimat Indonesia lantas maju? Bukankah dengan bersikap normatif dan mendiamkan mereka sama saja dengan mendukung mereka dan itu artinya membiarkan mereka merajalela?


Salam takzim.

Penulis Ach Dhofir Zuhry adalah Ketua STF AL-FARABI dan pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen-Malang. Buku terbarunya yang banyak diburu para jomblo di musim hujan ini: KONDOM GERGAJI dan PERADABAN SARUNG (Veni, Vidi, Santri)