Kenapa Perlu Merayakan Maulid Nabi Dan Haul Kyai

indogres

Penulis: Shuniyya Ruhama
(Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri-Kendal dan Murid Mbah Wali Gus Dur)

(Haul Syaikhona Mbah Yai Ahmad Musthofa
Bisri)
Atorcator.Com – Haul dilakukan dengan memperingati
hari wafat seorang Kyai, bukan karena dzurriyahnya tidak tahu hari kelahiran
Kyai tersebut. Priyayi yang diperingati hari lahirnya hanya 3, yakni Kanjeng
Nabi Isa AS, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan Ibu Kartini. Itu karena kelahiran
mereka adalah penanda zaman.
Ketika bangsa Yahudi dalam kondisi
krisis dalam berbagai hal, kelahiran Nabi Isa membawa pencerahan. Kelahiran Ibu
Kartini juga sebagai penanda zaman, bahwa beliau adalah perempuan diketahui
pertama mendirikan sekolah bagi perempuan (yang tercatat).
Kanjeng Nabi Muhammad SAW menandai
zaman gelap menjadi jaman terang benderang. Minadh dhulumati illan nur. Mulai
tidak ada tatanan menjadi ada tatanan.
Kalau Kyai penerus perjuangan
Kanjeng Nabi dan sifatnya tidak makshum (terjaga dari dosa). Selama Kyai masih
hidup, maka tugasnya belum selesai. Tidak ada jaminan bagaimana akhir
kehidupannya. Baru setelah beliau tutup usia, jika disaksikan khidmahnya untuk
umat maka baru dihauli.

Kyai itu alladzina yandzuruna ilal
ummah bi’aynir rohmah (melihat orang lain dengan kacamata kasih sayang). Jadi
entah ilmunya banyak atau tidak kalau penuh kasih sayang itu Kyai. Jadi tidak
heran jika Kyai itu bisa jadi Puskesmas, Biro Jodoh, Guru Ngaji, Cari Hutangan,
Pertanian, dll.. Itu bisa dilakukan karena kasih sayang.
Ulama-Ulama sholih terdahulu sudah
mulai langka. Jaman dulu, Kyai Besar sekalipun tidak pernah gengsi / malu
menyatakan tidak tahu. Sebagai misal Kyai Basyir Kudus jika ditanya tafsir ayat
tertentu, beliau akan meminta supaya bertanya kepada Kyai Sya’roni.
Begitu juga Kyai Sya’roni apabila
diminta ijazahan amalan tertentu akan mengatakan tidak tahu dan meminta supaya
ijazahan kepada Kyai Basyir sebagai ahlinya.
Berbeda dengan sekarang ini, banyak
Ustadz yang ditanya apapun bisa menjawab pertanyaan tersebut. Karena mereka
belum faham, bahwa mengatakan “tidak tahu” itu bagian dari ilmu. Sehingga
banyak jawaban dari pertanyaan itu asal-asalan, tidak berdasarkan ilmu.
Sebab, belajarnya melalui internet
yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sanadnya hingga Kanjeng Nabi. Sanadnya
terputus dari Google. Tahu syariat dari Google, tahu ilmu agama dari Google.
Apa kata Google itulah yang disampaikan kemana-mana. Mengutip dari ayat Al
Quran dan Hadits secara sembarangan, karena memang tidak tahu ilmunya.

Related Posts