Jokowi dan Keyakinan Masa Depan

Jokowi dan iriana



Penulis: Sunardian Wirodono


Atorcator.Com – “Betapa sederhana hidup ini sesungguhnya, yang pelik cuma liku dan tafsirannya,” tulis Pramoedya Ananta Toer (1925 – 2006) dalam Rumah Kaca, kwarternarius Bumi Manusia.



Sebagaimana halnya menonton sepakbola di TV, lebih seru komentator daripada pertandingannya. Demikian pula nonton debat capres semalam. Bahkan para pengamat, sebelum dan sesudah debat, begitu riuh-rendah, apalagi jika ada timsesnya. Kalau di medsos? Wajar, karena rakyat jelata kayak kita tak punya pretensi cem-macem.


Ada yang mengatakan dalam debat Jokowi begini-begitu, Prabowo begina-begono. Masing-masing kubu nge-klaim keunggulan. Belum lagi yang menganalisis dengan teori-teori pemenangan yang makin rumit dan penuh muslihat. Seperti neo cortex, croc brain, hate speech, hoax, black-campaign, dan seterusnya.


Tak peduli Prabowo semalam kelihatan bego atau ngawur, yang penting teori yang dikembangkan Cambridge Analytica, sebagaimana Pilkada DKI 2017 terus jalan. Senyampang itu, beberapa lembaca survei, yang konon kredible, mengatakan majoritas pendukung Prabowo lulusan perguruan tinggi, sedang pendukung Jokowi majoritas lulusan SMA ke bawah. Pusing ‘kan menganalogikan? Apakah lulusan PT goblog-goblog, sementara SMA ke bawah lebih pinter? Dunia tak seindah juru tafsir, bukan?


Untung saja kameramen TV kita, dengan segenap maaf, belum canggih-canggih banget memainkan interpretatif camera dengan main-main impression. Belum sebagaimana kameramen Hollywood, yang kemiringan berapa derajat pun jadi urusan untuk memunculkan karakter berbeda. Sebagai penonton televisi, saya setidaknya, masih beruntung bisa melihat gesture dan mimik wajah dua capres yang polos.


Apapun perdebatannya, tak ngaruh secara significan, kecuali terjadi kesalahan sangat fatal dalam debat. Jika Prabowo merasa sebagai TNI yang lebih TNI dari para TNI, tetapi Agustus 1998 dipecat dari TNI, anggep saja lelucon. Termasuk pengakuan sudah ribuan tahun belajar ilmu perang, dan mengaku sejak umur 18 tahun membela Pancasila. Tak urusan sejak kanak hidup dalam pelarian di luar negeri, karena bapaknya gabung pemberontak PRRI/Permesta. Memang sejak usia 18 tahun, Prabowo balik ke Indonesia, setelah Soeharto berkuasa dan memanggil Soemitro menjadi tim ekonomi.


Dalam debat capres “diperdebatkan” pula soal ideologi, walhal katanya sudah final? Mangkanya, dua-duanya ngaku Pancasilais. Sementara, perkara para penggiat khilafah, seperti FUI, PA 212, Rizieq Shihab, Al Kotot, FPI, lebih pro Prabowo? Itu bukan salah Prabowo. Itu salah Jokowi! Kenapa Jokowi tak wellcome pada kelompok itu?


Diskusi kita, jarang melihat dalam perspetif manusia secara utuh. Apakah seseorang memilih hanya berdasar kepandaian, atau kebodohan? Apakah keyakinan akan kebaikan tak bisa tumbuh dari harapan, tak peduli bodoh atau pintar?


Saya kutip kembali Mbah Pram, “Kesalahan orang-orang pandai, ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai.”

Related Posts