Kang Husein: "Kiai Gender" - Atorcator

Kang Husein: “Kiai Gender”

 

islamramah

Penulis: Sumanto Al Qurtuby

Atorcator.Com – Saya dan orang lain biasa memanggil Kang Husein untuk KH Husein
Muhammad, seorang kiai dan ulama mumpuni dari Cirebon, Jawa Barat, yang lahir
pada tahun 1953 ini. Kang Husein adalah Pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid
yang didirikan oleh kakeknya tahun 1933. Sebelum mengasuh pesantren warisan
kakeknya, Kang Husein lama malang-melintang “ngaji” di Pesantren
Lirboyo (Kediri, Jawa Timur), kemudian di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an
(Jakarta) dan Al-Azhar (Mesir). 
Sebutan “kang” ini sangat
khas di Jawa Barat maupun Jawa Tengah, baik di kalangan santri maupun bukan.
Banyak sekali tokoh terkenal nasional dari Jawa Barat yang populer dengan
sebutan “kang”. Misalnya Kang Jalal, Kang Ibing, Kang Asep, Kang
Said, dlsb. Ada lagi Kang Sule alias “Sunda Bule” atau “Susu
Lele”.
Penggunaan kata “kang” ini
cukup kompleks. Kadang ia merujuk ke orang yang lebih tua (di Jawa Tengah
kadang disebut “kang mas”, gabungan dari “kang” dan
“mas” yang juga panggilan untuk orang yang lebih tua). Contohnya Kang
Mas Raden Sumanto Hadiwijoyo.
πŸ˜„ Untuk Jawa Barat, kadang disebut “akang”. Contoh: “Ah
akang aya-aya wae. Kumaha atuh akang jenggotna kok cuma tilu
?”
πŸ˜„
Tapi sering juga panggilan
“kang” itu ditujukan untuk orang yang belum dikenal atau untuk siapa
saja yang tinggal di pesantren, tua-muda, santri senior atau yunior juga
disebut “kang”. Para kiai dan ulama hebat juga banyak yang dipanggil
“kang” seperti Kang Husein yang menjadi “lakon” di
postingan ini.
Dibanding kata “ustad”,
sebutan “kang” terasa lebih egaliter, membumi, bersahaja, dan aduhai.
***
Kang Husein termasuk
“kiai/ulama langka” di Indonesia sehingga perlu dilindungi dari
kepunahan. Saya sebut “kiai / ulama langka” karena ia sosok ulama
yang sangat bersahaja, kontras dengan para “ulama KW” yang suka demo
dan mengoleksi mobil-mobil mewah.
Kang Husein juga tergolong ulama
langka karena memang cukup jarang seorang ulama (ulama beneran bukan yang
odong-odong) yang mempunyai “mindset” dan pemikiran cemerlang serta
tidak bias gender sebagaimana Kang Husein.
Tidak seperti kebanyakan para ulama,
apalagi para ustad pendatang baru, “khotib mercon”, dan penceramah
karbitan yang selalu menjadikan perempuan sebagai “obyek” alias
“pelengkap penderita” atau “pemuas napsu pria” saja, Kang
Husein menempatkan kaum perempuan sejajar dengan kaum lelaki.
Kang Husein adalah sosok ulama
mumpuni yang anti terhadap ideologi misoginisme yang bertumpu pada
“supremasi laki-laki” (menjadikan laki-laki sebagai “pusat
kosmos”, “produser wacana”, dan “subyek penggerak peradaban
dan kebudayaan”) serta menempatkan kaum perempuan semata-semata sebagai
obyek dan “makhluk kelas dua”, hanya setingkat lebih tinggi ketimbang
“kaum wadam”.   
Dengan kata lain, Kang Husein adalah
“kiai feminis” par excellence yang membela hak-hak budaya dan agama
kaum perempuan dari serbuan kaum lelaki misoginis. Bagi Kang Husein, Islam
adalah agama yang menempatkan laki-laki dan perempuan secara sejajar dalam
bidang kebudayaan.
Gagasan-gagasan cemerlang Kang
Husein tentang Islam dan perempuan atau Islam dan keadilan / kesetaraan gender
itu dituangkan dalam berbagai buku dan tulisan di berbagai media dan jurnal.
Sejumlah buku Kang Husein yang menarik untuk disimak, antara lain, “Islam
Agama Ramah Perempuan”, “Fiqih Perempuan”, “Fiqih
Seksualitas”, dlsb.
Bukan hanya produktif menulis, Kang
Husein juga aktif memberi ceramah, diskusi, seminar, workshop tentang isu-isu
keperempuanan dan keadilan gender. Ia juga terlibat aktif mendirikan sejumlah
lembaga yang bergerak di bidang hak-hak perempuan seperti Rahima, Puan Amal
Hayati, dan Fahmina Institute.
***
Karena kiprahnya yang gigih dalam
pemberdayaan hak-hak kaum perempuan ini, maka tidak heran kalau Kang Husein
menjadi Komisioner Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan dan
beberapa kali menerima penghargaan, baik di Indonesia maupun mancanegara,
termasuk dari Pemerintah Amerika Serikat.
Beberapa hari lalu, Kang Husein juga
mendapat gelar “Doctor Honoris Causa” dari UIN Walisongo, Semarang,
di bidang “Tafsir Gender”, sebuah gelar kehormatan yang sangat pas
untuk Kang Husein. Saya turut mengucapkan selamat “alf mabruk” untuk
gelar Doctor Honoris Causa ini.
Kang Husein, mohon maaf saya tidak
bisa menghadiri acara penganugerahan Dr HC sampean. Semoga kita bisa bersua
lagi di lain waktu. Sejak bertemu di Stasiun KA Gambir beberapa tahun silam,
saya belum sempat bertemu Kang Husein lagi, meskipun kadang saling menyapa
lewat Facebook.
Jika Anda ingin mengikuti
wejangan-wejangan yang bener dari para ulama, maka ikutilah sosok seperti Kang
Husein ini dijamin insya Allah penuh berkah, bukan yang model Sugik yang hobi
membaca mantra: “picek matane, suwek cangkeme, dobol silite….suuuu
asuuuuu
πŸ™ŠπŸ˜± 
Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

komentar

Related Posts