Ketika Sains Ditentang Dan Ulama Dijadikan Alat Politik


Penulis:
Maulana M. Syuhada
Atorcator.Com –
Quick count merupakan metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan
secara sains, dan sudah teruji di berbagai negara. Sebuah hal yang lumrah jika
kontestan pemilu baik perorangan maupun partai mendeklarasikan kemenangan,
mendeklarasikan kekalahan, ataupun memberikan selamat kepada pemenang,
berdasarkan Quick Count, karena memang ada justifikasi ilmiah di belakangnya.
Lagi, lagi, dan lagi, sejarah membuktikan bahwa hasil Real Count selalu sama
dengan Quick Count. Di Indonesia pun sama, dari tiga Pilpres sebelumnya (2004,
2009, 2014) semua hasil Quick Count selalu sama dengan Real Count [1], kecuali
hasil Real Count ‘abal-abal’ dari tiga lembaga survei ‘dadakan’ yang
ditayangkan TV ONE pada Pilpres 2014 yang memenangkan Prabowo-Hatta [2].
Pada Pilpres
2019 ini, setidaknya ada 12 lembaga survei yang memenangkan Jokowi dengan hasil
Quick Count yang relatif sama di kisaran angka 54-55% [3]. Lembaga-lembaga
survei ini terdaftar dalam perhimpunan lembaga survei dan sudah diverifikasi
KPU [4].
Sedangkan hasil
yang memenangkan Prabowo hanya sebuah Real Count internal BPN Prabowo-Sandi,
dengan angka 62% untuk kemenangan Prabowo [5]. Jadi kondisinya adalah satu Real
Count internal melawan 12 Quick Count lembaga independen. Probabilitas 12
lembaga survei independen bersama-sama melakukan kesalahan amatlah sangat
kecil. Namun mengapa yang mendeklarasikan kemenangan justeru Prabowo?
Jokowi sudah
memberikan teladan dengan tidak mendeklarasikan kemenangan, dan meminta masyarakat
agar bersabar menunggu hasil KPU. Walaupun secara “sains” ia punya
hak untuk deklarasi.
Sebaliknya,
Prabowo walaupun kalah justeru mendeklarasikan kemenangan (bahkan hingga tiga
kali), melakukan sujud syukur [6], dan mendeklarasikan dirinya sebagai presiden,
“Saya akan dan
sudah menjadi presidennya seluruh rakyat Indonesia” [7].
Ia juga menuduh
bahwa hasil Quick Count berbagai lembaga survei yang memenangkan Jokowi telah
dimanipulasi,
“Ada upaya
dari lembaga-lembaga survei tertentu yang kita ketahui memang sudah bekerja
untuk satu pihak, untuk menggiring opini seolah-olah kita kalah”[8].
Ia menggelari
lembaga survei sebagai “Tukang Bohong” dan meminta mereka untuk pindah ke
Antartika [9],
“Hei
tukang bohong-tukang bohong, rakyat tidak percaya sama kalian. Mungkin kalian
(lembaga survei) harus pindah ke negara lain. Mungkin kau bisa pindah ke
Antartika. Mungkin kalian tukang bohong, hei lembaga survei bohong, kau bisa
bohongi penguin-penguin di Antartika” [10].
Para ulama pun
dikerahkan untuk meyakinkan masyarakat bahwa Prabowo sedang dicurangi dan
meminta masyarakat untuk tidak percaya kepada hasil survei. Para ulama
berkumpul di rumah pemenangan BPN Prabowo Sandi di Jl. Kertanegara. Dalam video
berdurasi 8 menit, sepuluh ulama mengukuhkan kemenangan Prabowo Sandi dan
meminta agar masyarakat tidak mempercayai survei yang beredar [11]. Salah
satunya adalah Habib Muhsin Ahmad Alatas. Berikut kutipan pernyataannya,
“Jihad
konstitusi kita sudah menang, akan tetapi kita menghadapi sebuah golongan,
sebuah kaum yang tidak punya rasa malu, tidak punya rasa takut kepada Allah
SWT,  karena sebetulnya mereka tidak punya agama tidak percaya kepada
Tuhan.”
“Oleh
karenanya itu, maka kita harapkan ikhwan sekalian, para mujahidin yang sedang
memperjuangkan konstitusi, dan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan,
dan dari komunisme dan dari liberalisme, bahwa kita ini sudah menang, dan
kemenangan itu sudah kita raih pada hari ini, dan jangan percaya dengan kaum
atheis, yang tidak percaya dengan agama. Mereka tidak punya malu dan tidak
punya dosa”[11].
Beginilah
jadinya jika ulama sudah dieksploitasi oleh politik. Alih-alih, memperjuangkan
kebenaran dan memberikan kesejukan kepada masyarakat, mereka justeru
mengobarkan api kebencian dan meyakinkan masyarakat bahwa mereka sedang
berjihad melawan rezim yang tidak percaya kepada Tuhan. Mereka menyalahgunakan
gelar ulama mereka untuk membodohi masyarakat.
Saya jadi
teringat akan khutbah Jum’at minggu lalu yang disampaikan oleh Dr. H. Irfan
Syafrudin (Ketua Bidang Tarbiyah, Persatuan Islam). Beliau menjelaskan tafsir
surat Al-Ankabut ayat 2-3, bahwa manusia akan diuji oleh Allah SWT, tidak
peduli kedudukannya, apakah ia seorang tukang sapu, profesor ataupun ulama yang
bergelar Kyai Haji. Sejarah mencatat banyak alim ulama yang tidak lulus ujian
ini, seperti Ar-Rajjal bin Unfuwah, ahli agama yang sangat cerdas, yang diutus
untuk berdakwah kepada penduduk Yamamah tempat berkuasanya Nabi palsu,
Musailamah Al-Kazzab. Namun sejarah mencatat ternyata ia terperdaya dan
mengakui kenabian Musailamah. Contoh lainnya adalah dua sahabat Syeikh Abdul
Qadir Al-Jailani, yaitu Ibnu as-Saqa’ yang murtad setelah diutus ke kerajaan
Romawi dan Ibnu Abi Ushrun yang jatuh dalam gemerlap dunia karena terlena
jabatan. Mereka ini adalah para alim yang ahli agama, hafizh Quran dan sangat
cerdas, namun tidak lulus ujian dari Allah SWT. Beliau menegaskan bahwa ujian
itu diberikan Allah SWT kepada setiap manusia, terlepas dari kedudukan dan
kealimannya.
Kecuali Rasul
SAW, tidak ada satu pun manusia yang luput dari kesalahan. Karenanya ‘taklid
buta’ (mengikuti pemimpin secara buta) dilarang dalam Islam. Abu Bakar r.a.
dalam pidato pertamanya saat dilantik menjadi khalifah berkata, “Jika aku
benar, maka ikutilah aku. Jika aku salah, maka luruskanlah aku”. Abu Bakar r.a.
yang merupakan Khalifah pertama saja mengakui, kalau ia bisa saja berbuat
salah, dan meminta bantuan kepada rakyatnya untuk mengoreksinya jika ia keliru.
Jika level Abu Bakar saja begitu rendah hati, maka ustad-ustad, para alim ulama
yang ada sekarang, tentunya juga tidak serta-merta luput dari kesalahan. Kita
diberikan nalar dan pikiran serta hati sebagai kompas batin, untuk ber-iqra
kepada setiap kejadian dan peristiwa.
Andaikan
Prabowo bisa se-ksatria Grace Natalie yang begitu melihat hasil Quick Count,
langsung mengakui kekalahan PSI [12], mungkin kita tidak perlu terus
terpecah-belah seperti sekarang ini.
“Menurut
quick count, PSI mendapat 2%. Dengan perolehan itu, PSI tidak akan berada di
Senayan lima tahun ke depan”, ujar Grace Natalie dalam surat tertulis berjudul
‘Setelah Kami Kalah’ [13]. Hal yang sama dilakukan oleh Ahok, ketika mengetahui
beliau kalah dalam Quick Count Pilkada DKI. Tak menunggu besok, malam harinya
Ahok langsung menggelar konferensi pers, menerima kekalahan dan memberikan
selamat kepada Anies dan Sandi [14]. Berikut kutipan pidato Ahok,
“Ke depan kami
ingin semua lupakan persoalan selama kampanye dan Pilkada karena Jakarta ini
rumah kita. Kita harus bangun bersama. Kami masih ada 6 bulan sampai
pelantikan. Kami akan bekerja dengan cepat dengan baik, meletakkan dasar-dasar.
Kami berusaha melunasi PR PR janji kami. Tentu tidak mungkin selesai PR PR itu.
Kita harapkan Pa Anies dan Pa Sandi bisa meneruskan dengan baik.”
“Dan kepada
pendukung kami, kami mengerti pasti sedih, kecewa, tapi tak apa-apa, percayalah
bahwa kekuasaan itu Tuhan yang kasih dan Tuhan yang ambil. Jadi tidak ada
seorang pun bisa menjabat tanpa seizin Tuhan.”
“Jadi semua
tidak usah terlalu dipikirkan! Jangan sedih! Tuhan selalu tahu yang terbaik,
karena kekuasaan itu dari Tuhan” (video lengkapnya di sini! [15]).
Alangkah
indahnya seandainya pidato Ahok di atas bisa menjadi pidato Prabowo dalam konteks
Pilpres 2019. Menerima kekalahan, menyelesaikan PR yang ada, dan menenangkan
pendukungnya untuk tidak bersedih, dan berserah diri kepada Tuhan.
Saat Pilkada
DKI, pada malam yang sama, Prabowo mendeklarasikan kemenangan Anies-Sandi
berdasarkan Quick Count, ya betul berdasarkan Quick Count,
“Baru saja kita
dapat berita bahwa 90% dari Quick Count sudah masuk dan menunjukkan bahwa DKI
Jakarta mendapat Gubernur dan Wakil Gubernur baru”, ujar Prabowo [16].
Jadi sebetulnya
Prabowo percaya kepada keilmiahan metode quick count. Namun beliau hanya siap
menang dan tidak siap kalah. Terbukti, pada akhirnya hasil Real Count KPU [17]
pada Pilkada DKI sama dengan hasil Quick Count lembaga survei [18], yaitu
57-58% untuk kemenangan Anies-Sandi.
Real Count yang
sekarang sedang dihitung oleh KPU pun ujung-ujungnya akan sama dengan hasil
Quick Count lembaga survei. Kalau tidak sama, berarti ada penemuan baru dalam
dunia ilmu statistika, dan ini akan menggegerkan dunia ilmu pengetahuan, karena
akan men-challenge teori-teori statistika yang sudah ‘established’. Dan
kemungkinan hal tersebut terjadi, amatlah sangat kecil.
Saya yang sudah
dicekokin statistika sejak kuliah di ITB dulu, sangat mudah menerima teori
bahwa “Real Count hasilnya akan sama dengan Quick Count” (taken into
account margin of error). Apalagi dalam kasus Pilpres 2019 ini, 12 lembaga
survei independen menunjukan hasil yang sama.
Sandiaga Uno
pun pasti tahu bahwa Real Count akan sama hasilnya dengan Quick Count.
Karenanya wajah Sandi lesu dan terus menuduk sepanjang deklarasi kemenangan
[19] . Keesokan harinya, selepas sholat Jumat, Sandi terus diam seribu bahasa
walaupun ratusan pendukungnya mengelu-elukannya. Ketika keluar dari Masjid
At-Taqwa, ia hanya tersenyum, menembus kepungan massa dan langsung memasuki
mobilnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun [20].
Jadi baik
Prabowo maupun Sandi, keduanya percaya pada Quick Count. Namun Prabowo tidak
legowo, ia malah nekat melampaui kewenangan KPU dan mendeklarasikan dirinya
sebagai “Presidennya seluruh rakyat Indonesia” [7].
Permasalahan
yang terjadi saat ini adalah Prabowo dan koalisinya nekad ingin berkuasa
walaupun tahu mereka kalah. Segala cara dihalalkan termasuk menentang sains.
Jadi kita akan dipaksa masuk ke dalam masa kegelapan, dan segala nalar sedang
diputar-balikan. Pembodohan berjamaah ini memang mengerikan sekali, apalagi
mempertaruhkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Dengan modal
sentimen agama, dan dukungan ulama-ulama (yang sudah terhasut), dan pasukan
kader dan simpatisan partai yang solid dan militan dalam menyebarkan hoax di
akar rumput, mereka “setidaknya” hingga sekarang, masih akan tetap
nekat untuk melanjutkan gerakan rusuh, pembodohan nalar dan logika demi
mencapai kekuasaan.
Di sini
sebetulnya peran para ulama populer seperti Ustad Abdul Somad (UAS), Ustad Adi
Hidayat (UAH) dan Aa Gym, yang menjelang Pilpres kemarin menemui Prabowo dan
memberikan dukungannya. Rakyat Indonesia memerlukan bantuan ketiganya untuk
memberitahu Prabowo agar legowo menerima kekalahan ini. Ini merupakan bentuk
tanggung jawab moral dari ketiganya yang sudah memberikan ‘endorsement’ kepada
masyarakat untuk memilih Prabowo.
Dampak
kerusakan dari polemik ini sangat dahsyat dan berefek-panjang bagi tatanan
masyarakat kita. Masyarakat bukan hanya dimatikan nalarnya, tapi sudah
terpecah-belah hingga level keluarga. Rakyat di akar rumput, termasuk
teman-teman kita, terus menerus bertempur, saling nyinyir, saling benci dan
saling hujat. Bukan hanya produsen dan penyebar hoaks yang sangat sibuk, tapi
para pemadam hoax pun harus dibuat super sibuk untuk mengklarifikasi dan
memadamkan penyebaran hoax agar tidak meluas. Kita semua sudah sangat capek,
baik secara fisik maupun mental. Jadi, saya mengajak teman-teman yang punya
akses langsung kepada Prabowo, untuk meminta beliau agar legowo dan menyudahi
polemik ini, jika ia masih cinta terhadap tanah air Indonesia.
Pada Pilpres
2014, PKS pernah membohongi Prabowo dan seluruh rakyat Indonesia dengan Real
Count sesat [21][22]  yang hasilnya bertolak belakang dengan hasil resmi
KPU [23][24]. Mungkin inilah saatnya bagi PKS untuk menebus kesalahan itu
dengan meminta Prabowo untuk legowo menerima kenyataan yang ada dan tidak
terjerumus ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Kita semua
memang menunggu hasil resmi dari KPU, namun alangkah eloknya untuk tidak
mendeklarasikan diri sebagai presiden dan terus-menerus mengompori rakyat bahwa
mereka sedang dicurangi, mereka sedang dibohongi oleh lembaga-lembaga survei
yang berusaha menggiring opini bahwa Prabowo kalah.
Wallahu’alam.
REFERENSI
[1] Dituduh
Bohong Menangkan Jokowi-Ma’ruf, 8 Lembaga Survei Buka Data Quick Count
(Merdekan, 20 Arp 2019)
[2]
Kredibilitas “Quick Count” yang Menangkan Prabowo-Hatta Dipertanyakan
(Kompas, 9 Juli 2014)
https://money.kompas.com/read/2014/07/09/191233326/Kredibilitas.Quick.Count.yang.Menangkan.Prabowo-Hatta.Dipertanyakan
[3] Jokowi:
Quick Count 12 Lembaga Survei Jokowi-Ma’ruf Menang 54,5 Persen (inews, 18 Apr
2019)
[4] Ini Daftar
40 Lembaga Terverifikasi KPU yang Gelar ‘Quick Count’ Pemilu 2019 (Merdeka, 16
Ape 2019)
[5] Prabowo
Deklarasikan Kemenangan Didepan Pendukungnya NET24 (YOutube, NET, 17 Apr 2019)
[6] Klaim
Menang 62% Berdasarkan ‘Real Count’, Prabowo Takbir dan Sujud Syukur (Youtube,
TV One, 17 April 2019)
[7] Prabowo:
Saya Akan dan Sudah Jadi Presiden Rakyat Indonesia (Kompas, 17 Apr 2019)
[8] Prabowo
Klaim Menang, Tuduh Lembaga Survei Curang (BeritaSatu, 17 Apr 2019)
[9] Prabowo
Sebut Lembaga Survei Berbohong Hasil Hitung Cepat Pilpres (Tirto, 19 Apr 2019)
[10] Setelah 3
Kali Klaim Menang, Prabowo Adakan Syukuran (Youtube, CNN Indonesia, 19 Apr
2019)
[11] Begini
Cara Melawan Sihir Pemilu menurut Para Ulama (Youtube, MySharing TV, 17 Apr
2019)
[12] Grace
Natalie Akui ‘Kekalahan’ PSI (Detiknews, 17 Apr 2019)
[13] Setelah
Kami Kalah (Situs Resmi PSI, 17 Apr 2019)
[14]
Ahok-Djarot Ucapkan Selamat untuk Anies-Sandi (Detiknews, 19 Apr 2017)
[15] Merinding!
Inilah Pidato Kebesaran Hati Ahok Atas Kemenangan Anies Sandi (Youtube, 19 Apr
2017)
[16] Deklarasi
Kemenangan Hitung Cepat Anies-Sandi di Rumah Prabowo (Youtube, Berita Satu, 19
Apr 2017)
[17] Hasil
Final “Real Count” KPU: Anies-Sandi 57,95%, Ahok-Djarot 42,05%
(Kompas, 20 Apr 2019)
[18] Ini Hasil
Akhir Quick Count 4 Lembaga Survei untuk Pilkada DKI Putaran Kedua (Kompas, 19
Apr 2019)
[19] Prabowo
Deklarasi Kemenangan Lagi, Sandi Hadir Sambil Terdiam (Berita Satu, 18 Apr
2019)
[20] Disambut
Massa Pendukung, Sandiaga Uno Bungkam Seribu Bahasa (Youtube, TV One, 19 Apr
2019)
[21] Real Count
PKS diduga palsu (Republika, 11 Jul 2014)
[22] Ini Hasil
Resmi Rekapitulasi Suara Pilpres 2014 (Kompas, 22 Jul 2014)
[23] Ini Hasil
Real Count oleh PKS di 33 Provinsi (Merdeka.com, 10 Jul 2014)
[24] Kawal
Pemilu Kita: Jangan Sampai Salah Lagi Sujud Syukur (15 Apr 2019)

Related Posts