Kontekstualisasi dan Aktualisasi Pemahaman Atas Teks Alquran

Penulis: Dr. Taufiqur Rohman

Atorcator.Com – Teks (lafadz) Alquran kebenaranya bersifat tetap dan mutlak.
Sedangkan pemahaman, pemaknaan, penafsiran (interpretasi) yang sudah dan akan
terus berlangsung oleh mufassir, pengkaji Alquran atas teks Alquran
kebenarannya bersifat dinamis dan nisbi.
Seorang pembelajar Alquran tidak
akan bisa mengkontekstualisasikan dan mengaktualisasikan pemahaman atas teks Alquran
kecuali memiliki, mendalami, menguasai serta mengaplikasikan dua ilmu yang berbeda
yaitu ilmunya para ulama salaf (klasik) seperti; Bahasa Arab, Nahwu, Shorof,
Balaghah, Ushul Fiqh, Fiqh, Kalam dan sebagainya. Serta ilmunya
“ulama” kholaf (modern) seperti: sosiologi, antropologi, hermenetik,
sains, technology, hybird embrio project, genome mapping, nano technology dan
sebagainya.
Satu sisi, dengan mendalami,
menguasai dan mengaplikasikan ilmunya ulama’ salaf mengantarkan seseorang
menjadi orang yang sholih,  imannya kuat menancap mengakar
“membumi”, memiliki akhlakul karimah. Di sisi lain, dengan mendalami,
menguasai, mengaplikasikan ilmunya ulama’ khalaf akan mengantarkan seseorang
menjadi  akram, berwawasan luas dan “melangit”, berparadigma
tinggi, inovatif, kreatif, progresif dan sebagainya.
Dari sinilah para santri secara umum,
penghafal Alquran secara khusus memiliki peluang emas untuk mensinergikan,
mengharmonisasikan, mensinkronkan, mengintegrasikan antara ilmunya ulama’ salaf
dan khalaf. Yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi ulama’ sekaligus
ilmuwan, generasi ulul albab, ummatan wasatan, yang bisa mengintegrasikan,
mengharmonisasikan antara teks dan konteks, wahyu dan akal, dirayah dan
riwayah, orientalis dan oksidentalis, pesantren dan akademis, ilmu dan amal,
iman dan akhlak, ibadah mahdhoh dan Ghoiru mahdhoh, lahir dan batin. Dan
seterusnya.
Semuanya bisa terwujud, jika
mengaplikasikan pesan para ulama’:

المحافظة بقديم الصالح والأخذ بجديد الا صلاح

“Selalu merawat, menjaga nilai-nilai
klasik yang masih relevan dengan mengintegrasikan nilai-nilai modeern yang
lebih inovatif dan kreatif”
.
Ketika teks Alquran difahami,
dimaknai, diinterpretasikan, didialektikakan secara kontekstual dan aktual oleh
para santri secara umum dan penghafal Alquran secara khusus melalui
sinergisitas ilmu salaf dan khalaf.
Maka akan lahirlah disiplin
ilmu-ilmu baru, muncul karya tafsir-tafsir baru, mengilhami inovasi,
kreativitas yang lebih dinamis dan progresif berdasarkan wahyu, menghidupkan
kembali intuisi yang pernah diberikan para nabi dan rasul, membuka hijab yang
menyelimuti mata hati.
Karena Alquran adalah mukjizat
teragung, terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia yang dianugrahkan
Baginda Rasullullah saw. Alquran adalah ilmunya orang-orang dahulu, kini dan
nanti. Alquran merangkum semua mukjizat para nabi dan rasul, sumber dari segala
sumber untuk lintas generasi, zaman dan umat. Yang harus terus menurus tiada
henti digali, diselami, dicari milyaran, triliyunan, bahkan tak terjangkau
“mutiara-mutiara” yang masih tersimpan di dalamnya.
Sudah saatnya para santri khususnya,
umat Islam umumnya mengambil peran yang sangat penting ini. Sudah saatnya
mengharmonisasikan kembali paradigma pesantren dan akademis, paradigma ulama’
salaf dan kholaf dengan mewarisi Alquran sebagai sumber dari segala sumber
ilmu, petunjuk segala hal.

Related Posts