Sembilan Nasihat Imam Al Ghazali

NU online
Penulis: Prof. Rochmat Wahab

Atorcator.Com – Imam Al-Ghazali, yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin
Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi Ays-Syafi’i yang lahir di Thus, Iran; 1058 /
450 H – meninggal di Thus Iran; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53
tahun). Usia yang masih relatif muda di bawah usia Rasulullah, tapi karyanya
yang sungguh spektakuler, IHYA ‘ULUMUDDIN. Imam Al-Ghazali adalah seorang
ulama, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi
perkembangan kemajuan peradaban manusia. Beliau  adalah salah seorang
ulama yang sangat masyhur di belahan bumi ini, khusunya negeri Arab.
Mari kita ikuti dan cermati
nasihat-nasihatnya yang sangat berarti dalam hidup kita:
Pertama, yang paling dekat bukan
orangtua, teman, guru dan lain sebagainya, melainkan kematian. Karena kita
tidak akan pernah tahu kapan kematian itu akan datang menjemput kita. Jika
saatnya datang juga tidak bisa ditunda dan dimajukan (QS, Al A’raf:34).
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah merahasiakan tiga hal mengenai kematian
seseorang, yaitu waktu, tempat, dan bagaimana kematian itu terjadi.
Kedua, yang paling jauh bukan
planet-planet, bulan, bintang bahkan matahari, melainkan masa lalu. Karena
bagaimana pun caranya, naik jet super cepat pun kita tidak akan pernah
sampai (kembali) ke masa lalu. Oleh karena itu, kita tidak dianjurkan
untuk membanggakan kebaikan di masa lalu, tapi kebaikan di masa lalu menjadi
tolak ukur sekaligus motivasi untuk kebaikan hari ini dan hari esok.
Ketiga, yang paling besar bukan
gunung, lautan, matahari, bulan, dan lain sebagainya, melainkan nafsu. Karena
nafsu acapkali menjerumuskan manusia kepada hal-hal yang buruk, berbeda halnya
dengan yang baik-baik. Dalam Firman Allah Swt (QS Yusuf:53) juga menjelaskan
tentang bahayanya nafsu.
Keempat, yang paling berat di mata
bintang-bintang, bulan, matahari, malaikat, tumbuh-tumbuhan dan hewan adalah
menanggung amanah. Karena itu bintang-bintang, bulan, matahri, malaikat,
tumbuh-tumbuhan dan hewan tidak mau menerima ketika Allah meminta mereka supaya
menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi ini, tetapi manusia dengan sombongnya
menyanggupi permintaan tersebut. Akibatnya di hari kiamat kelak manusia banyak
yang masuk ke neraka karena tidak sanggup menanggung amanah. (Qs Al-Ahzab: 72)
Kelima, yang paling ringan adalah
meninggalkan shalat. Adapun meninggalkan shalat dapat terjadi karena berbagai
alasan, di antaranya:  pekerjaan, kesibukan bahkan karena lupa. Sebenarnya
jika manusia hidup hanya untuk mencari makan dan kesenangan saja, maka tidak
ada bedanya manusia dengan binatang. Untuk iti sholat harus ditegakkan pada waktu
yang ditentukan dan tak bisa ditinggalkan sepanjang hidup. (QS An-Nisa’:103).
Keenam, yang paling tajam adalah
lidah. Karena dengan lidah, manusia kerapkali menyakiti perasaan orang lain
bahkan kerabat dekat sekalipun.  Sebagaimana pepatah mengatakan,
“Kalau pedang melukai tubuh ada harapan akan sembuh, tapi kalau lidah
melukai hati kemana obat hendak di cari?”. Juga dalam mahfudzat,
disebutkan: salasmatul insaan fi hiffzil lisaan”.
Ketujuh, yang paling sulit adalah
ikhlas. Karena bisikan syaitan tiada henti. Padahal dalam beragama, terutama
dalam mengabdi kepada-Nya dituntut keikhlasannya. (QS Al Bayyinah:5). Demikian
juga bahwa dalam beragama tidak ada paksaan, (QS Al Baqarah:256). Walaupun
sangat jelas rujukan dalam berislam, tidaklsh mudah hati bisa menerima kecuali
ada hidayatullah.
Kedelapan, yang paling susah adalah
sabar. Karena setiap menghadapi mushibah, yang sering terjadi adalah
kejecewaan, merasakan kehilang sesuatu yg berati dalam hidup, bahkan bisa
terjadi penolakan. Sikap yang terbaik adalah sabar atas mushibah yang terjadi.
(QS Al Baqarah:155).
Kesembilan, yang paling berharga
adalah iman. Kita dalam hidup baru berarti jika kita bersandar pada iman yang
bersih dari berbagai tanda-tanda kemusyrikan. Bahkan sebanyak amal kita jika
tidak ikhlas, lillaahi ta’aalaa,tidak ada artinya, karena itu kita harus ikhlas
dan ridlo kepada Allah swt, sehingga amal sholeh kita diterima. (QS Al Kahfi,
110).

Demikianlah beberapa nasehat dari
banyak nasehat Imam Al Ghazali yang tertuang dalam berbagai kitabnya. Terutama
yang banyak dipetik dari kitabnya, Ihya Ulumuddin. Penuangan ini dimaksudkan
untuk penyegaran iman, islam, dan akhlaq kita, semoga kita semakin taqarrub
ilallah
. Aamiin.

Related Posts