AGAMA SEBAGAI KUNCI PERUBAHAN

Keterangan Foto: Vanzaka Musyafa
Penulis:  Vanzaka Musyafa
Atorcator.ComSaya kira perdebatan tarawih dan yang semacamnya itu tidak usah
lagi diperpanjang. Ada banyak urusan yang lebih penting untuk kita fikir dan
aksikan. Diluar itu ada sosok yang butuh pertolongan dan kasih sayang. Dia mengemban
banyak problem yang begitu kompleks untuk diselesaikan. Dialah yang telah
memberi kita tumpuhan. Kita semua tahu dialah Indonesia.
Agama itu tidak sesempit daun kelor. Seperti yang dulu kita ketahui
di masa kecil. Doa makan, doa bangun tidur, shalat, puasa, wiridan, tidak hanya soal demikian. Lebih
dari itu, agama memiliki segudang solusi yang tersirat di dalam kitab suci melalui ritual keagamaan.
Banyak dari pemeluknya yang kurang mencintai dengan setulus hati.
Yang diketahui dan diinginkan hanya janjinya saja, pahala dan surga. Pemberian
agama sebenarnya sudah lebih dari janjinya. Namun lagi-lagi dia selalu dikhianati.
Khilaf apa yang telah dia berikan hingga selalu dibalas lempar batu. Menjadi kambing
hitam. Bahkan kata Cak Nun dalam satu kesempatan (penulis kutip lewat vidio
akun youtube najwa Shihab) dijadikan sebagai taruhan “ayo yang benar tarawihnya
23 rakaat atau 11 rakaat”.
Tapi bukan ini yang akan kami bahas. Sudah itu cukup. Yang perlu
kita gerakan adalah mengaktualisasikan amal ritual keagamaan yang sudah sering
kita bahas, mendengar ceramah, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? jika
hanya dibahas dan didengarkan maka ibarat mengukir diatas air.
Persoalan siapa dan mulai dari mana pergerakannya itu sudah tersirat
dan tersurat dalam Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah tidak merubah
keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri…”
(QS. 13: 11). Ya, diri sendiri. Jelas sudah jawaban Tuhan.
Seorang tidak akan bisa merubah suatu keadaan walaupun dengan komunitas yang
sangat besar. Karena Sejatinya komunitas itu terdiri dari berbagai indiviu.
Manakala individunya sudah bisa merubah perilaku dirinya untuk lebih baik maka perubahan
akan terwujudkan dan mudah.

Siapa yang tidak kenal dengan Sultan Muhammad Al-Fatih penakluk
konstantinopel yang tidak terkalahkan selama kurang lebih 7 abad. Keberhasilanya
tidak terlepas dari usaha dirinya yang tidak pernah meninggalkan shalat
qiyamullail, shalat berjamaah dan shalat rawatib.

Oleh karena itu, mari kita generasi muda penerus bangsa, tingkatkan
kebiasaan baik kita. Mumpung kita  masih
berada di bulan mulia. Tingkatkan keprofesionalan kita dalam mengatur waktu
belajar dan mainnya. Kebaikan tidak harus bahkan tidak boleh ditampakkan. Yang
perlu ditampakkan adalah output kebaikan. Sebab jika kita ingin mengubah dunia,
satu hal yang harus dilakukan adalah perubahan yang ada pada diri kita lebih
dulu. /Imam Nawawi

Vanzaka Musyafa Pengurus Jam’iyah Ngopi Pegon Malang

Related Posts