Aroma Surga Tanggal 22 Mei dari Jakarta

Ilustrasi foto (rmol)
 Penulis: Ach Dhofir Zuhry
Atorcator.Com – Ciri utama keberhasilan propaganda, ujaran kebencian, hoaks
dan disinformasi berita, juga kampanye hitam adalah jika konten propaganda itu
viral dan menjadi topik perbincangan di ruang-ruang publik, terutama medsos.
Itu artinya—mereka yang anti NU, otomatis anti NKRI; juga yang pura-pura NU,
otomatis pura-pura NKRI; atau boleh jadi yang kecewa dengan hasil muktamar NU
dan lalu melakukan penggembosan terhadap NU dari dalam—dapat dengan mudah kita
ketahui melalui akun-akun medsos mereka yang cenderung latah dan tidak kritis.
Memang, politik sentimen tidak bisa dihadapi dengan ilmu. Inilah mengapa
gerakan “upil power” dan “peopel powder” dianggap jihad
oleh kaum cuti nalar.
Siapa sajakah mereka dan apa agenda jualan meraka selama ini?
Ke mana mereka merapat dan membonceng? Mengapa mereka begitu cemas dagangan
“kopar-kapir” mereka tidak laku gara-gara Munas NU?
Agenda mereka (nama organisasinya boleh apa saja silahkan
Anda bikin daftar sendiri, kalau mau gampang, pokoknya yang anti-NU), yang
selama ini sibuk dengan “fastabiqul demo fastabiqul politik” adalah
4-T.
Pertama, Takfiri, gampang mengkafir-kafirkan, baik kepada
non-muslim maupun kepada sesama muslim yang beda pendapat dan mazhab. Contoh,
demokrasi kafir, Pancasila kafir, UUD 1945 kafir dan NKRI thoghut.

Melalui
gerakan takfiri secara masif dan terencana, tentu saja yang berbeda dengan
mereka halal darahnya, oleh karena itu sistem negara harus diganti. ISIS, HTI,
ormas dan parpol yang bernafaskan Ikhwanul Muslimin (pan islamisme) paling
gemar “jualan” kopar-kapir dan melakukan politisasi agama, makanya
mereka kebakaran jenggot terhadap hasil Munas di Banjar.

Kalau Anda masih tanya:
kenapa? Ya, karena mereka cari makan dengan teriak kopar-kapir. Dengan kata
lain, fastabiqul fulus dan fastabiqul kelamin / syahwat politik mereka ya
dengan kopar-kapir itu. Anda masih penasaran: kenapa? Karena hanya itu yang
mereka bisa!
Mengapa mereka ngamuk di medsos? Karena jualan mereka bisa
terganggu, fastabiqul proyek berantakan, fastabiqul fulus defisit, dan terutama
fastabiqul politik transnasional mereka sangat terguncang hanya dengan satu
keputusan bahtsul masail para Kiai NU belum lama ini yang dianggap politis,
sementara sikap mereka sendiri sangat apolitis dan mencederai demokrasi.
Ini membuktikan bahwa NU maupun para Kiai NU itu, di samping
menjadi bidan yang berperan penting bagi lahirnya NKRI, para Kiai Nusantara
adalah pawang bagi setiap pengacau dan perusak NKRI, 30 ribu pondok pesantren
NU adalah benteng NKRI dan lebih dari 100 juta santri dan kaum sarungan tak
lain adalah penjaga NKRI.
Kedua, tabdi’i alias sembarangan umbar kata bid’ah, contoh
nyata: tahlilan bid’ah, salawatan sesat, ziarah kubur apalagi, maulid Nabi dan
Israk Mikraj bid’ah, selametan dan kenduri bid’ah plus syirik, tapi kalau bikin
parpol dan ormas radikal tidak bid’ah. Ini jelas sasaran tembaknya adalah NU
dan warga nahdliyyin yang kini sudah lebih dari 100 juta jiwa dan memiliki 194
cabang di seluruh dunia.

Karena “jualan” isu kopar-kapir dan bid’ah
sudah kurang laku, sebab tampang mereka sendiri bid’ah dholalah, maka mereka
menyusup ke ormas-ormas di luar NU, parpol, lembaga-lembaga Negara, TNI-POLRI,
dan bahkan menyusup dalam NU sendiri untuk mengadu domba dan melakukan
pembusukan dari dalam dengan jualan gorengan isu-isu komunis, liberal, syiah,
antek asing dan yahudi, lagi-lagi propaganda ini malfungsi, kenapa?
Karena lagi-lagi mereka lupa bahwa para Kiai NU itu pawang
bagi setiap pengacau dan perusak NKRI. Mereka lagi-lagi lupa bahwa melawan
Kiai-kiai sepuh berarti melawan Kanjeng Nabi, melawan Nabi berarti menantang
Tuhan dan dengan demikian, mereka menggali kubur mereka sendiri.
Ketiga, Tasyriki atau serampangan menuduh syirik. Lagi-lagi
sasaran tembak mereka adalah NU, terutama selama KH Said Agil Siradj mempimpin,
pokoknya mereka benci NU stadium 4, anti NU sampai ke ubun-ubun, alergi NU
sampai tulang sumsum dan hendak mengkode ulang DNA-NU dari bumi Indonesia
sampai 14 turunan.

Oleh karena itu, bagi mereka, menghancurkan NKRI harus
dimulai dengan merusak NU, merusak marwah Kiai, membenturkan NU kultural dengan
NU struktural, mengadu domba para Kiai, kadang dengan habib, membenturkan NU
dengan ormas lain, dan tentu saja memfitnah Banser secara keji. Mereka lupa
bahwa para Kiai NU itu bidan yang membantu lahirnya bayi NKRI, para Kiai
Nusantara itu pawang bagi setiap pengacau dan perusak NKRI, pondok pesantren
adalah benteng NKRI dan para santri adalah penjaga NKRI.
Yang terakhir dari agenda mereka adalah tasykiki, yakni
gila-gilaan mengkampanyekan keraguan dan kebimbangan kepada umat Islam. Jika
tiga “T” sebelumnya tak cukup ampuh, maka “T” yang keempat
ini menjadi senjata pamungkas mereka dengan terus menebar teror, propaganda,
disinformasi berita di medsos, di portal-portal berita online, di ruang publik,
di kampus, di masjid-masjid, di Monas, di radio, di televisi, di buku-buku,
buletin dan majalah agar kita ragu dengan NKRI, ragu dengan Pancasila dan UUD
1945, ragu dengan Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdhiyah, ragu dengan NU, ragu
dengan Islam Nusantara, ragu dengan pesantren, ragu dengan tradisi NU dan kearifan
lokal, ragu dengan barokah para Kiai, ragu dengan tarekat mu’tabaroh NU, ragu
dengan Banser, ragu dengan apapun yang NU dan lantas memilih menajdi
fundamentalis, radikalis, teroris, Islam puritan, minimal manjadi PCOC (pasukan
celana dan otak cingkrang), menjadi panasbung (pasukan nasi bungkus), menjadi
monaslimin-monaslimat, memaksa berjenggot tapi gampang kebakaran jenggot, sok
anti sains modern yang penting jidat hitam, sok anti Barat, sok anti asing, sok
anti China, anti pemerintah, mereka anti segala anti kecuali poligami, karena
memang hanya itu yang mereka bisa.
Lagi-lagi mereka lupa bahwa para Kiai NU itu bidan-bidan yang
membantu lahirnya NKRI, para Kiai Nusantara itu pawang bagi setiap pengacau dan
perusak NKRI, pondok pesantren adalah benteng NKRI dan para santri adalah
penjaga NKRI, karena hubbul wathon minal iman.
Sebagai pawang, tentu para Kiai NU itu bijaksana dan tidak
grusa-grusu plus ngamukan seperti pemuja 4-T di atas. Begitu pawang datang,
binatang-binatang buas tanang dan terdiam. Dan, pawang itu sebagaimana
disampaikan RMP Sosrokartono: sugih tanpo bondo (kaya tanpa harta), digdoyo
tanpo aji (tak terkalahkan meski tanpa senjata), nglurug tanpo bolo (menyerbu
tanpa pasukan), menang tanpo ngasoraké (menang tanpa jumawa dan merendahkan),
trimah mawi pasrah (menerima lagi pasrah), suwung pamrih tebih ajrih (tanpa
pamrih dan tidak takut), langgeng tan ono susah tan ono bungah (tetap tenang
dalam suka-duka) serta anteng mantheng sugeng jeneng (tidak gegabah agar nama
baik tetap terjaga).
Nah, kamu sudah tahu kan, Sayang, siapa biang kerok dari
rentetan keributan, kegaduhan dan kekacauan sejak awal berdirinya bangsa dan
khususnya selama tahun-tahun politik ini? Siapa para oligark, para demagog dan
predator bisnis yang menggembalakan sekawanan bani micin itu? Memang, untuk
pandai dan pandir, kita hanya cukup melihat siapa saja yang telah mencium aroma
surga pada 22 Mei ini!

Alfatehah untuk para Kiai NU…

  • Ach Dhofir Zuhry adalah Ketua STF AL-FARABI dan Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen Malang

Related Posts