Hikmah Personal-Subyektif Puasa: Puasalah Niscaya Kamu Akan Sehat?

NU-Online

Penulis: Ahmad
Syafi’i
Atorcator.Com
Hadits yang juga  termasuk  masyhur 
di  tengah  kalangan umat Islam adalah hadits yang mengaitkan puasa
dengan kesehatan. Biasanya hadits seperti ini sering ditampilkan di
hadapan jamaah pengajian, demi untuk memberi mereka semangat dan
dorongan untuk berpuasa. Lalu mereka diiming imingi dengan janji mendapatkan
kesehatan.
Banyak beredar
pemahaman di tengah masyarakat bahwa salah satu hikmah puasa itu adalah
menyehatkan badan. Bahkan banyak yang mendasarkan pendapat itu dengan
menggunakan hadis berikut:
صُوْمُوْا
تَصِحُّوْا
Berpuasalah,
kalian akan sehat



Pertanyaannya adalah apa benar bahwa puasa itu membuatbadan menjadi sehat? Bagaimana
kita memahami hal ini?



Untuk menguraikan masalah ini, kita bisa melakukannya
dengan menggunakan pendekatan, dari sisi hikmah, dari testimoni pengalaman
empirik. 
Dalam hal ini
kita tidak bisa menepis testimoni orang yang mengatakan bahwa puasa memiliki
pengaruh yang baik bagi kesehatannya.



Secara subjektif boleh jadi
pernyataan-pernyataan itu benar. Namun
 dengan satu dua testimoni kita bisa
membuat kesimpulan bahwa puasa itu menyembuhkan atau mencegah
penyakit, namun setidaknya tidak berlaku secara mutlak.

Bahwa orang
yang berpuasa itu akan mendapatkan hikmah berupa badannya sehat, tentu tidak
perlu dipertanyakan lagi. Sebab secara ilmu kesehatan, ketika seseorang
meninggalkan gaya makan dan minum yang berlebihan, tentu semua akan berdampak
positif bagi kesehatan. Sebab umumnya penyakit datang dari makanan yang masuk
ke dalam mulut. Seperti ungkapan banyak orang: “mulutmu harimaumu”. Tetapi kali
ini bukan karena salah ucap, melainkan salah dalam gaya makan. Maka kalau orang
berpuasa bisa bermanfaat buat kesehatan, memang ada benarnya, khususnya untuk
kasus-kasus tertentu. Tetapi ketika kita menyimpulkan bahwa puasa adalah terapi
untuk semua jenis penyakit, dimana cukup dengan berpuasa, maka kita akan sehat
wal afiyat, tentu perlu didiskusikan dan ditelaah lebih dalam.
Ada beberapa
argumen yang melemahkan teori ini, antara lain:


Pertama, kita
menemukan dalil Al-Quran yang menegaskanbahwa orang yang sedang
menderita sakit justru dibolehkan tidak berpuasa. Kalau berpuasa itu pasti
membuat badan menjadi sehat, seharusnya tidak perlu ada keringanan bagi umat
Islam untuk tidak berpuasa ketika sakit. Sebab harusnya justru dengan berpuasa
itu penyakitnya akan hilang dan kesembuhan akan datang. Tetapi kenyataannya,
justru orang yang sedang sakit malah dibolehkan tidak berpuasa.
Kedua, kenyataannya,
justru orang yang sakit malah diperintahkan untukmeninggalkan puasa. Hal ini
menunjukkan bahwa urusan kesehatan dan puasa tidak secara langsung menjadi
hubungan sebab akibat. Kesehatan memiliki sedemikian banyak faktor, dan puasa
bukan satu-satunya faktor penentu kesehatan. Bukankah demikian?

Semoga bermanfaat…!

Related Posts