Ketika al-Ghazali Berbicara tentang Keindahan

Ilustrasi foto (kumparan)

Penulis: Saifir Rohman


Atorcator.Com – Tabiat manusia normal adalah menyukai keindahan. Terkadang, manusia rela bersusah payah mendaki puncak gunung yang terjal, atau menyelami lautan dalam demi memburu apa yang disebut keindahan. Bahkan tak jarang atas nama keindahan pula, seseorang bisa rela menghabiskan uang puluhan bahkan ratusan juta untuk membengkeli bagian tubuhnya yang dirasa kurang indah.


Sayangnya, pertanyaan mendasar tentang apa itu keindahan terkesan hanya menjadi milik para filosof. Padahal yang mencintai keindahan tidak hanya kalangan filosof. Mestinya diskursus ini juga dikaji oleh kita, kebanyakan manusia. Dengan harapan bisa lebih arif memaknai keindahan.


Dalam Ihya Ulum ad-Din Rubu al-Munjiyat, pada Kitab al-Mahabbah wa as-Syauq wa al-Uns wa ar-Ridha,  fakih sekaligus sufi agung berkebangsaan Iran, Abu Hamid al-Ghazali memberikan pakem: Keindahan adalah hadirnya kesempurnaan dari suatu entitas yang layak nan mungkin melakat pada/bagi entitas tersebut. (Ihya Ulum ad-Din, Jilid 4, h. 291)

كل شيء فجماله و حسنه أن يحضر كماله اللائق به الممكن له



Al-Ghazali memberi tamtsil, seekor kuda yang cantik atau gagah manakala seluruh potensinya sebagai kuda (meliputi peringai, postur, warna, kecepatan berlari, dan mudah diatur) hadir secara paripurna. (Ihya’ ‘Ulum ad-Din, Jilid 4, h. 291)

فالفرس الحسن هو الذي جمع كل ما يليق بالفرس من هيئة و شكل و لون و حسن عدو و تيسر كر و فر عليه

Beda halnya misalkan, ada kuda berparas seperti Irish Bella sembari berkulit kuning langsat atau putih mulus laiknya bintang iklan sabun. Kuda semacam ini tidak bisa dikatakan molek. Selain karena sifat-sifat tadi tidak cocok bagi seekor kuda, hal itu juga hanya mungkin terjadi di layar mimpi alias fiktif belaka. Inilah yang dimaksud  اللائق به الممكن له (pantas dan mungkin.)


Dalam media sosial seperti Facebook maupun Instagram kerap kita jumpai kawan atau bahkan saudara kita mengunggah foto dengan filter wajah yang dengan hewan seperti kelinci, kucing, bahkan anjing, yang entah apa motifnya. Yang jelas bila ditinjau menggunakan pakem dari al-Ghazali, apa yang dilakukan mereka ibarat memulas rona rembulan dengan tahi kerbau. Wajah mereka yang mestinya jelita menjadi buruk rupa karena diembel-embeli dengan sesuatu yang tak pantas.


Al-Ghazali dengan lugas menyatakan,

فحسن كل شيء في كماله اللائق به. فلا يحسن الإنسان بما يحسن به الفرس   



“Keindahan sesuatu itu terletak pada kesempurnaan yang pantas baginya. Dengan begitu, seorang insan tidak bisa menjadi anggun sebab sesuatu yang bisa menjadikan seokor kuda molek.” (Ihya’ ‘Ulum ad-Din, Jilid 4, h. 291)


Mengawali ulasan tentang keindahan, al-Ghazali mengkritik kalangan yang disebutnya sebagai المحبوس في مضيق الخيلات والمحسوسات (individu yang tertawan dalam sempitnya imajanasi dan perkara indrawi.) Yakni kalangan yang berasumsi bahwa keindahan hanya terbatas pada apa yang bisa dicerap oleh pancaindra, seperti postur, warna kulit, dan seterusnya.


Mereka beranggapan bahwa apapun yang tak bisa dilihat, tak bisa diimajinasikan, tak berbentuk serta tak berwarna hanyalah sesuatu yang sifatnya muqaddar belaka, hanya bisa diduga dan mustahil divisualisasikan keindahannya. Dengan demikian ia tak akan sanggup memberi kenikmatan dan sebagai konsekuensinya ia tak mungkin disenangi.


Akan tetapi dalam pandangan al-Ghazali, pemahaman di atas jelas-jelas salah. Bagi beliau, keindahan tidak harus  identik dengan obyek yang bisa dijangkau pandangan. Sebab di samping kita sering berujar, ini kaligrafi yang indah, ini pakaian yang bagus, kita juga sering berkata “ini suara yang merdu.”


Bahkan lebih dari itu, keindahan menurut al-Ghazali juga mungkin terjuwud pada sesuatu yang tak bisa dicerap oleh pancaindra.  Karenanya, kita sering berujar: Ini akhlak yang bagus, ini ilmu yang apik, ini watak yang baik. Akhlak, ilmu, maupun watak adalah keindahan abstrak yang tidak bisa dinikmati dengan pancaindra, melainkan dengan cahaya mata batin. (Ihya Ulum ad-Din, Jilid 4, h. 291)


Beliau juga mengemukakan ilustrasi tentang bagaimana naluri kita di-setting untuk mencintai para anbiya wa al-mursalin berikut para sahabat, padahal kita belum pernah bertatap muka dengan mereka. Bagaimana pula kecintaan para penganut mazhab terhadap imam mazhab mereka, hingga mereka rela berkorban harta bahkan nyawa demi mazhabnya. Sementara, mereka juga belum sempat menyaksikan imam-imam mereka.


Semua itu terjadi sebab yang dipandang adalah surah batiniyah (meliputi agama, ketakwaan, limpahan ilmu, jasa-jasa dalam mengembangkan dan menyebarluaskan ajaran agama.) Bidikan cinta mereka adalah kedalaman yang sifatnya esensial-substantif, yang lebih awet tinimbang sekadar paras atau kulit luar.


Itulah sebabnya usia cinta mereka sanggup melampaui usia sang kekasih termasuk usia mereka sendiri. Seandainya yang menjadi pusat perhatian adalah penampilan fisik, yang seiring berjalannya waktu akan menjadi renta lalu lambat laun akan binasa, niscaya cinta mereka juga akan segera lenyap dan tak akan bertahan lama. 


Menurut para pakar, saat ini kita hidup di zaman post-truth. Di mana masyarakat cenderung abai terhadap fakta dan kebenaran seraya cenderung mengedepankan selera. Tak peduli benar atau salah, elok tidak elok, asal sesuai selera tak jadi masalah. Gagasan al-Ghazali pun menemukan momentumnya untuk digali, dielaborasi, dan diterapkan. Al-Ghazali mengajarkan kita untuk cerdas memilih mana yang betul-betul indah, mana keindahan yang temporal atau mana yang benat-benar permanen.


__________________________________________

  • Saifir Rohman Santri mahasiswa, penggemar kretek, kopi dan puisi

Related Posts